Minggu, 21 Juni 2026

Wall Street Melesat, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi

Penulis : Indah Handayani
16 Apr 2026 | 04:36 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Wall Street
Sumber: AP Photo/Richard Drew
Ilustrasi Wall Street Sumber: AP Photo/Richard Drew

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas ditutup melesat ke rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu (15/4/2026). Penguatan itu seiring investor yang mulai mengabaikan kekhawatiran terhadap perang Iran dan kembali memburu aset berisiko.

Dikutip dari CNBC internasional, indeks S&P 500 naik 0,80% ke level 7.022,95, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,59% menjadi 24.016,02. Adapun Dow Jones Industrial Average justru melemah tipis 72,27 poin (0,15%) ke posisi 48.463,72.

S&P 500 maupun Nasdaq mencatat rekor tertinggi penutupan baru. Nasdaq bahkan membukukan reli selama 11 hari berturut-turut, sementara S&P 500 mencatat 10 sesi positif dari total 11 perdagangan terakhir.

ADVERTISEMENT

Penguatan pasar saham Amerika Serikat (AS) dalam sepekan terakhir didorong optimisme bahwa konflik antara AS dan Iran berpotensi mereda lebih cepat dari perkiraan, bahkan membuka peluang kesepakatan damai.

S&P 500 yang sempat tertekan akibat ketegangan geopolitik kini telah pulih sepenuhnya dan menguat sekitar 3% sepanjang pekan ini. Nasdaq dan Dow Jones masing-masing mencatat kenaikan hampir 5% dan lebih dari 1% secara mingguan.

Senior Portfolio Manager Globalt Investments Thomas Martin mengatakan, pasar saat ini bergerak naik karena investor sebelumnya sudah melakukan aksi pengurangan risiko (de-risking) saat konflik meningkat.

“Ketika kekhawatiran mereda, pelaku pasar harus kembali masuk. Banyak investor tidak ingin ketinggalan reli pasar,” ujarnya.

Sinyal Trump

Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump kembali memberi sinyal optimisme terkait konflik tersebut. Dalam wawancara dengan Fox Business, ia menyebut perang Iran ‘sangat dekat dengan akhir’ dan menegaskan bahwa Iran disebut sangat ingin mencapai kesepakatan.

Seorang pejabat Gedung Putih kepada CNBC mengungkapkan, putaran kedua negosiasi antara Washington dan Teheran masih dalam pembahasan, meski belum ada jadwal resmi yang ditetapkan.

“Apakah akan ada kesepakatan yang membuka Selat Hormuz dan meredakan ketegangan arus perdagangan? Pasar tampaknya meyakini itu akan terjadi,” kata Martin.

Di sisi korporasi, saham Broadcom menjadi salah satu penopang utama indeks dengan kenaikan 4%. Kenaikan ini didorong oleh kabar perpanjangan kerja sama dengan Meta Platforms dalam pengembangan chip khusus berbasis teknologi Broadcom.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 1 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 32 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia