Harga Bitcoin (BTC) Turun, Sentimen Global Tekan Pasar Kripto
JAKARTA, investor.id – Harga Bitcoin (BTC) turun pada Rabu (22/4/2026) pagi. Pelemahan itu karena tertekan sentimen global mulai dari ketidakpastian negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga dinamika kebijakan moneter The Fed.
Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 05.50 WIB, kapitalisasi pasar kripto global melemah 0,6% menjadi US$ 2,54 triliun. Harga Bitcoin (BTC) hari ini turun 0,53% ke US$ 75.539 per koin atau sekitar Rp 1,29 miliar (kurs Rp 17.140).
Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan pergerakan 20 aset kripto terbesar jatuh 0,64%. Dengan Ethereum terpangkas 0,42% ke US$ 2.309, Binance (BNB) melemah 0,11% ke US$ 628, Dogecoin (DOGE) anjlok 1,35% ke US$ 0,094, Solana (SOL) terpukul 0,45% ke US$ 85,29, dan XRP turun 0,36% ke US$ 1,42.
Dikutip dari CoinDesk, harga Bitcoin (BTC) sempat diperdagangkan di bawah US$ 77.000 pada awal sesi, sebelum turun mendekati US$ 75.000 pada perdagangan AS. Meski sempat rebound ke kisaran US$ 75.700, posisi tersebut masih mencerminkan pelemahan sekitar 0,9% dalam 24 jam terakhir.
Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar yang mencermati perkembangan negosiasi damai antara AS dan Iran. Ketidakpastian meningkat setelah muncul laporan bahwa kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan ditunda.
Di saat yang sama, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi terhadap 14 individu, entitas, dan pesawat yang diduga terlibat dalam pengadaan atau pengiriman senjata untuk Iran, menambah tekanan geopolitik di pasar.
Dari sisi kebijakan moneter, perhatian investor tertuju pada sidang uji kelayakan Kevin Warsh sebagai calon Ketua bank sentral AS. Dalam sidang di Senat, Warsh menegaskan pentingnya independensi bank sentral dalam menentukan arah suku bunga.
“Saya tidak pernah memberi tahu Presiden di mana saya melihat arah suku bunga, dan saya tidak akan melakukannya,” kata Warsh.
Warsh juga menegaskan, Presiden AS Donald Trump tidak pernah memintanya untuk menetapkan keputusan suku bunga tertentu dalam setiap diskusi yang dilakukan. Meski demikian, Trump secara terbuka beberapa kali mendorong penurunan suku bunga, yang memicu kekhawatiran pasar terkait independensi bank sentral.
Saham Kripto Tertekan
Di pasar saham, tekanan juga terlihat. Indeks Nasdaq Composite dan S&P 500 memangkas penguatan awal dan berbalik melemah pada sesi perdagangan.
Saham-saham terkait kripto mengalami tekanan lebih dalam. Saham Coinbase turun lebih dari 6%, sementara Robinhood melemah sekitar 4,5%. Perusahaan investasi aset digital Galaxy Digital turun 5,5%, dan emiten stablecoin Circle anjlok 8,3%.
Meski dalam jangka pendek tertekan, prospek Bitcoin ke depan masih dinilai positif. Analis dari 21Shares menyebut kebijakan moneter yang lebih longgar berpotensi menciptakan likuiditas tinggi di pasar, yang secara historis mendukung aset berisiko seperti Bitcoin.
Bahkan, Warsh disebut memiliki pandangan positif terhadap aset digital. Ia menilai Bitcoin sebagai “emas baru bagi generasi di bawah 40 tahun” dan dianggap dapat memainkan peran penting dalam sistem keuangan masa depan.
Dengan potensi pelonggaran kebijakan pada paruh kedua 2026, harga Bitcoin dinilai masih berpeluang kembali menuju level US$ 100.000.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






