Laporan Tiger Research Temukan Paradoks Pasar Kripto Asia
JAKARTA, investor.id – Pasar kripto di Asia tengah mengalami fenomena unik yang disebut sebagai "paradoks utama". Meski arus modal institusional melonjak pasca persetujuan ETF spot di berbagai negara, jumlah partisipasi investor ritel justru menunjukkan tren penurunan.
Laporan terbaru dari firma riset Web3, Tiger Research, yang bekerja sama dengan bursa kripto HTX, mengungkapkan bahwa hambatan regulasi, beban pajak, dan masalah aksesibilitas menjadi faktor utama yang membuat puluhan juta calon investor (crypto-curious) masih ragu untuk terjun ke pasar.
Baca Juga:
Upbit Indonesia Perkuat Edukasi KriptoLaporan Tiger Research tersebut membedah kondisi di sembilan pasar Asia dengan tantangan yang berbeda-beda. Di Korea Selatan, volume perdagangan tercatat tertinggi di Asia sebesar US$ 663 miliar pada paruh kedua 2025. Namun, minat mulai melemah akibat rencana pemberlakuan pajak kripto dan beralihnya investor ke pasar saham.
Jepang memiliki sistem keamanan terbaik, namun "mencekik" investor dengan pajak keuntungan hingga 55%, jauh di atas pajak saham konvensional.
Di Hong Kong, meski regulasi sudah matang, akses ritel terhambat oleh syarat kekayaan minimum yang sangat tinggi bagi investor.
Sedangkan Thailand menjadi negara yang paling progresif dalam memangkas hambatan dengan kebijakan pembebasan pajak untuk menarik minat masyarakat.
Transisi Regulasi di Indonesia
Indonesia mencatat perhatian khusus dalam laporan ini. Sejak Januari 2025, pengawasan kripto telah resmi berpindah dari Bappebti ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah ini mengubah status kripto dari komoditas menjadi Aset Keuangan Digital, sejajar dengan saham dan obligasi.
Meski jumlah akun kripto telah mencapai 22,1 juta, angka ini dinilai masih rendah dibandingkan total populasi Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa. Masa transisi hingga Januari 2027 akan menjadi periode krusial bagi pemerintah dan pelaku industri untuk menentukan arah adopsi ritel di Tanah Air.
Laporan ini juga menekankan bahwa volatilitas harga, yang kerap dianggap sebagai hambatan utama, sebenarnya bukan akar permasalahan. Pasar saham juga mengalami volatilitas, namun tetap menarik partisipasi luas karena adanya regulasi yang jelas, perlindungan investor, dan legitimasi sosial. Faktor-faktor inilah yang masih perlu diperkuat dalam ekosistem kripto di sebagian besar negara Asia.
Tantangan Keuangan Tradisional
Laporan ini juga memperingatkan bursa kripto (exchange) lokal bahwa persaingan kini datang dari sektor keuangan tradisional. Institusi besar seperti SBI Holdings di Jepang dan perusahaan sekuritas di Thailand mulai menawarkan akses investasi kripto melalui jalur yang lebih akrab bagi masyarakat umum.
"Jendela bagi exchange untuk mengonversi kelompok crypto-curious di Asia semakin menyempit," ujar Ryan Yoon, Head of Research Tiger Research.
Menurutnya, jika ingin bertahan, exchange harus menawarkan keunggulan yang tidak dimiliki perbankan tradisional, seperti akses ke ekosistem Decentralized Finance (DeFi), variasi aset yang lebih luas, serta operasional pasar 24/7, namun tetap mengutamakan pembangunan kepercayaan dan lokalisasi strategi.
Editor: Maswin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





