Likuidasi ’Short’ Bitcoin (BTC) Tembus Rp 1,9 Triliun di Tengah Ketegangan AS-Iran
JAKARTA, investor.id – Pasar kripto kembali diguncang aksi beli masif yang mendorong harga Bitcoin (BTC) menyentuh level US$ 80.000 (sekitar Rp 1,4 miliar). Lonjakan harga yang sangat cepat ini memicu likuidasi posisi short (kontrak yang bertaruh pada penurunan harga) senilai lebih dari US$ 114 juta atau setara Rp 1,9 triliun hanya dalam waktu satu jam.
Pergerakan agresif ini berkaitan erat dengan dinamika geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus memengaruhi harga minyak dunia dan sentimen risiko global, seperti dikutip laman Crypto Briefing, Senin (4/5/2026).
Meskipun ketegangan sempat memuncak, pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai potensi berakhirnya konflik dalam hitungan minggu telah memicu sentimen risk-on, yang menjadi bahan bakar utama bagi rebound Bitcoin dari posisi rendah sebelumnya.
Kepercayaan Pasar Menguat
Data pasar prediksi menunjukkan tingkat kepercayaan investor yang sangat tinggi. Probabilitas Bitcoin untuk tetap bertahan di atas level US$ 66.000 hingga awal Mei diprediksi mencapai angka 99,8%. Hal ini mencerminkan optimisme pelaku pasar bahwa momentum kenaikan masih akan berlanjut di tengah risiko geopolitik yang berkembang.
Meskipun harga saat ini menunjukkan penguatan yang signifikan, prediksi untuk mencapai rekor tertinggi baru (All Time High) pada akhir 2026 masih berada pada angka yang moderat, yakni di kisaran 3,2% hingga 8,5%.
Fokus pada Kebijakan Global
Pelaku pasar kini memantau ketat setiap perkembangan dalam resolusi konflik AS-Iran.
Selain faktor geopolitik, indikator utama lainnya seperti perubahan kebijakan The Federal Reserve (The Fed) atau pembelian Bitcoin berskala besar oleh institusi diprediksi akan terus memengaruhi dinamika pasar dalam beberapa hari mendatang. Rilis data makroekonomi juga menjadi poin penting yang dapat mengubah arah fluktuasi harga aset digital ini.
Fluktuasi harga Bitcoin yang menyentuh angka US$ 80.000 pada Mei 2026 ini menunjukkan peran ganda aset kripto dalam ekosistem keuangan global.
Di satu sisi, Bitcoin dipandang sebagai aset berisiko tinggi (high-risk asset) yang sangat sensitif terhadap sentimen makroekonomi. Namun, di sisi lain, dalam kondisi ketegangan geopolitik yang memengaruhi mata uang konvensional dan sistem perbankan, sebagian investor mulai meliriknya sebagai alternatif perlindungan nilai digital.
Penyelesaian ketegangan antara AS dan Iran menjadi faktor kunci dalam stabilitas harga kali ini.
Sejarah menunjukkan setiap kali terjadi eskalasi militer di wilayah penghasil energi utama, pasar akan bereaksi terhadap ketidakpastian harga minyak. Namun, dengan adanya sinyal de-eskalasi dari Gedung Putih, aliran modal kembali masuk ke instrumen investasi yang lebih agresif.
Penembusan angka US$ 80.000 ini bukan sekadar angka psikologis, melainkan cerminan dari likuiditas pasar yang masih sangat besar meskipun dihantam berbagai krisis politik internasional selama awal tahun 2026.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






