Sabtu, 20 Juni 2026

Siap-siap Harga Emas Lanjut Melemah ke Level Ini

Penulis : Natasha Khairunisa
19 Jun 2026 | 07:10 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas batangan pada uang kertas US$ 100 dolar. (Foto: ANTARA/Shutterstock/pri)
Ilustrasi emas batangan pada uang kertas US$ 100 dolar. (Foto: ANTARA/Shutterstock/pri)

JAKARTA, investor.id - Pakar memproyeksi harga emas akan berfluktuasi di level support kritis US$ 4.000 per troy ounce.

Dikutip dari Kitco News, Jumat (19/6/2026) pernyataan dan ekspektasi Federal Reserve terkait penahanan suku bunga tetap tinggi dinilai memberi tekanan pada emas. Harga emas spot terakhir diperdagangkan di level US$ 4.230,70 per troy ounce, naik tipis dari harga penutupan pekan lalu.

Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, Ole Hansen mengatakan bahwa setelah aksi jual emas, pasar sekarang terjebak dalam ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

"Sentimen kemungkinan tidak akan membaik secara signifikan sampai pergerakan harga emas sendiri membaik, dan dalam hal ini, rata-rata pergerakan harga selama 200 hari tetap menjadi medan pertempuran utama. Emas saat ini diperdagangkan sekitar US$ 200 di bawah level tersebut, membuat para pengikut tren enggan untuk kembali terlibat dalam posisi beli," kata Hansen.

Hansen menambahkan bahwa ia memproyeksi harga emas akan bertahan di kisaran US$ 4.000 per troy ounce.

“Keberhasilan mempertahankan area tersebut akan mempertahankan pandangan bahwa aksi jual emas baru-baru ini mewakili koreksi yang relatif dangkal dalam pasar bullish yang kuat dan dimulai dari titik terendah tahun 2022 di dekat US$ 1.615 dan mencapai puncaknya pada rekor tertinggi pada bulan Januari di US$ 5.595,” ia menyoroti.

Adapun Kepala Pengembangan Bisnis di XS.com, Simon-Peter Massabni mengatakan bahwa pergerakan harga emas sedang terhambat di antara kebijakan The Fed yang agresif dan meredanya ketegangan geopolitik, menciptakan volatilitas jangka pendek.

“Emas memasuki periode yang lebih ditandai oleh volatilitas yang tinggi daripada tren yang jelas. Di satu sisi, pasar menghadapi hambatan dari dolar AS yang lebih kuat, kebijakan Federal Reserve yang agresif, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Di sisi lain, inflasi yang terus-menerus, ketidakpastian ekonomi global, dan kemungkinan ketegangan geopolitik yang kembali muncul terus memberikan dukungan mendasar,” kata Massabni.

"Terlepas dari penurunan baru-baru ini, saya tidak percaya tren bullish jangka panjang harga emas telah berakhir. Pasar keuangan sering bereaksi berlebihan terhadap perkembangan jangka pendek, sementara fundamental struktural pada akhirnya menentukan tren jangka panjang. Inflasi tetap di atas target bank sentral, bank sentral di seluruh dunia terus meningkatkan cadangan emas, dan utang pemerintah AS terus meningkat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya," tambahnya.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 24 menit yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
International 39 menit yang lalu

Israel Serang Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Iran kembali tutup Selat Hormuz usai Israel serang Lebanon, ancam kesepakatan damai dengan AS dan picu krisis energi global.
Lifestyle 1 jam yang lalu

Hotto Gaet Indro Warkop

Brand minuman multigrain Hotto resmi meluncurkan kampanye "Karena Kamu Harus Sehat".
Business 2 jam yang lalu

Gandeng Indomaret, FolaPlay (IRSX) Perluas Akses Hiburan Digital

Folaplay menjalin kerja sama distribusi dengan Indomaret yang dikelola oleh PT Indomarco Prismatama.
Lifestyle 2 jam yang lalu

Epidemiolog Prediksi Kasus Demam Dengue Meningkat pada 2027

Epidemiolog memprediksi kasus demam berdarah akan meningkat pada 2027. Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan El Nino.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia