Sabtu, 20 Juni 2026

Harga Batu Bara Galau, Gangguan Tambang China Jadi Sorotan

Penulis : Indah Handayani
20 Jun 2026 | 07:37 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi batu bara. (Foto: Antara/Prasetyo Utomo)
Ilustrasi batu bara. (Foto: Antara/Prasetyo Utomo)

JAKARTA, investor.idHarga batu bara galau pada perdagangan Jumat (19/6/2026), di tengah meningkatnya impor China akibat gangguan pasokan domestik setelah kecelakaan fatal di sejumlah tambang. Kondisi tersebut mendorong pembelian batu bara dari pemasok utama seperti Australia dan Kanada, sekaligus memunculkan kekhawatiran pengetatan pasokan di pasar global.

Berdasarkan data perdagangan, harga batu bara Newcastle kontrak Juni 2026 stabil di US$ 144 per ton. Kontrak Juli 2026 turun US$ 0,5 ke level US$ 131,5 per ton, sedangkan Agustus 2026 naik US$ 0,1 menjadi US$ 130,85 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam kontrak Juni 2026 melonjak US$ 1,85 menjadi US$ 126,1 per ton. Kontrak Juni 2026 melejit US$ 4,3 menjadi US$ 114,7 per ton, sedangkan Agustus 2026 melesat US$ 3,25 ke level US$ 112,6 per ton.

ADVERTISEMENT

Dikutip dari TradingView, China diperkirakan akan terus meningkat sepanjang tahun ini setelah kecelakaan fatal di sejumlah tambang memicu gangguan pasokan domestik. Kondisi tersebut mendorong importir China meningkatkan pembelian dari negara pemasok utama seperti Australia dan Kanada.

Permintaan impor melonjak setelah 155 tambang batu bara di Provinsi Shanxi, wilayah penghasil batu bara terbesar di China, dihentikan operasinya untuk pemeriksaan keselamatan menyusul insiden yang terjadi pada akhir Mei lalu. Penutupan tambang itu sempat memicu lonjakan harga batu bara kokas di pasar domestik.

Meski sebagian tambang mulai kembali beroperasi, tingkat produksi belum sepenuhnya pulih. Berdasarkan survei konsultan industri Mysteel, sekitar 64% kapasitas produksi yang terdampak telah kembali beroperasi hingga 17 Juni 2026.

Namun, Wakil Manajer Logam Ferrous Gent Commodity, Johnny Deng, mengatakan produksi masih berada di bawah level sebelum kecelakaan terjadi. Menurut dia, tingkat utilisasi tambang diperkirakan hanya berada di kisaran 70%-80%, jauh lebih rendah dibandingkan 105%-110% sebelumnya.

“Kami membeli beberapa kargo dari Kanada dan mengimpornya ke China setelah harga melonjak pascakecelakaan tersebut,” ujar Deng dalam konferensi batu bara kokas di Singapura.


 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 11 menit yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 30 menit yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
International 45 menit yang lalu

Israel Serang Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Iran kembali tutup Selat Hormuz usai Israel serang Lebanon, ancam kesepakatan damai dengan AS dan picu krisis energi global.
Lifestyle 2 jam yang lalu

Hotto Gaet Indro Warkop

Brand minuman multigrain Hotto resmi meluncurkan kampanye "Karena Kamu Harus Sehat".
Business 2 jam yang lalu

Gandeng Indomaret, FolaPlay (IRSX) Perluas Akses Hiburan Digital

Folaplay menjalin kerja sama distribusi dengan Indomaret yang dikelola oleh PT Indomarco Prismatama.
Lifestyle 2 jam yang lalu

Epidemiolog Prediksi Kasus Demam Dengue Meningkat pada 2027

Epidemiolog memprediksi kasus demam berdarah akan meningkat pada 2027. Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem dan El Nino.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia