Harga Bitcoin (BTC) Menguat, Investor Waspadai Kedaluwarsa Opsi Raksasa
JAKARTA, investor.id – Harga Bitcoin (BTC) menguat pada Sabtu (20/6/2026) pagi. Meski demikian, pelaku pasar masih dibayangi kedaluwarsa kontrak opsi Bitcoin senilai sekitar US$13 miliar pada akhir Juni yang berpotensi memicu volatilitas dan mempertahankan dominasi sentimen bearish di pasar kripto.
Berdasarkan data CoinMarketCap, kapitalisasi pasar kripto global naik 0,55% menjadi US$ 2,18 triliun saat berita ditulis. Sementara itu, harga Bitcoin (BTC) melesat 0,85% ke level US$ 63.524 per koin atau sekitar Rp 1,13 miliar (kurs Rp 17.826 per dolar AS).
Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar menguat 0,56%. Binance (BNB) menanjak 0,42% ke US$ 581, dan Dogecoin (DOGE) naik tipis 0,01% ke US$ 0,08. Sedangkan Solana (SOL) melemah 0,06% menjadi US$ 69,71, Ethereum jatuh 0,3% menjadi US$ 1.708, dan XRP anjlok 0,78% ke US$ 1,13.
Dikutip dari CoinTelegraph, Pasar kripto bersiap menghadapi kedaluwarsa (expiry) kontrak opsi Bitcoin (BTC) senilai sekitar US$13 miliar pada 26 Juni 2026. Besarnya nilai kontrak yang akan jatuh tempo tersebut dinilai dapat meningkatkan tekanan terhadap harga Bitcoin, terutama karena posisi investor yang bertaruh pada kenaikan harga saat ini berada dalam posisi kurang menguntungkan.
Penurunan harga Bitcoin sekitar 14% sepanjang Juni membuat banyak pelaku pasar yang membeli opsi call (hak beli) berada dalam kondisi tertekan. Sebagian besar opsi call dipasang pada level harga US$ 68.000 ke atas, sementara Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$ 63.000.
Bursa derivatif kripto Deribit masih mendominasi pasar opsi Bitcoin dengan nilai open interest mencapai US$ 10,4 miliar atau sekitar 79% pangsa pasar global. Sementara itu, OKX menguasai sekitar 6%, disusul Binance dan CME masing-masing 5%, serta Bybit sebesar 4%.
Data menunjukkan total open interest opsi call di Deribit mencapai US$ 6 miliar. Namun, sekitar 78% dari posisi tersebut berada pada harga strike US$ 72.000 atau lebih tinggi. Dengan waktu tersisa kurang dari sepekan sebelum kedaluwarsa, peluang kontrak tersebut berakhir tanpa nilai (out of the money) semakin besar apabila harga Bitcoin gagal pulih signifikan.
Sebaliknya, dari total open interest opsi put (hak jual) sebesar US$ 4,5 miliar, hanya sekitar 28% yang bergantung pada skenario Bitcoin turun hingga US$ 57.000 atau lebih rendah. Kondisi ini membuat posisi investor bearish dinilai lebih kuat dibandingkan investor bullish menjelang akhir bulan.
Analis menilai sebagian optimisme berlebihan investor sebelumnya dipicu oleh aksi pembelian besar-besaran Bitcoin oleh perusahaan Strategy (MSTR). Pada April hingga Mei, perusahaan tersebut mengakumulasi 62.841 BTC dalam kurun empat pekan, yang turut membantu mendorong harga Bitcoin menembus US$ 73.000 pada Mei lalu.
Namun sentimen pasar berubah setelah arus dana keluar (outflow) mulai terjadi pada ETF Bitcoin spot yang tercatat di Amerika Serikat (AS) sejak pertengahan Mei.
Harapan Aturan Baru Memudar
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






