Minggu, 21 Juni 2026

Harga Emas Turun, Permintaan di Asia Tetap Lesu, Ada Apa?

Penulis : Indah Handayani
20 Jun 2026 | 09:09 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas. (Treasury)
Ilustrasi emas. (Treasury)

JAKARTA, investor.id – Penurunan harga emas yang terjadi belakangan ini ternyata belum cukup untuk menghidupkan kembali permintaan fisik di Asia. Di tengah koreksi harga yang cukup dalam, pembeli di India dan China justru masih cenderung menahan diri karena ketidakpastian pasar dan volatilitas harga yang tinggi.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (20/6/2026), padahal, harga emas di India telah turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir. Pada Jumat (19/6/2026), harga emas domestik tercatat sebesar 146.252 rupee atau setara Rp 27,55 juta (kurs Rp 188,4 per rupee) per 10 gram, level terendah sejak 2 April 2026.

Meski harga lebih murah mulai menarik sebagian pembeli kembali ke pasar, banyak investor dan konsumen memilih menunggu arah pergerakan harga yang lebih jelas sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.

ADVERTISEMENT

“Koreksi harga memang membantu menarik kembali pembeli. Namun volatilitas yang masih tinggi membuat sebagian konsumen memilih menunggu tren harga yang lebih pasti,” ujar seorang pelaku usaha perhiasan di Ahmedabad, India.

Kondisi tersebut tercermin dari semakin lebarnya diskon emas fisik di India. Pekan ini, dealer menawarkan diskon hingga US$ 54 per ons dibandingkan harga resmi domestik, termasuk bea masuk 15% dan pajak penjualan 3%. Diskon tersebut lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai US$ 35 per ons.

Seorang pedagang bullion di Mumbai mengatakan permintaan investasi masih relatif lemah dalam beberapa pekan terakhir. Kendati demikian, sejumlah toko perhiasan mulai meningkatkan persediaan untuk mengantisipasi kemungkinan pemulihan permintaan.

“Permintaan investasi masih lemah, tetapi para jeweller mulai membangun stok,” katanya.

Kondisi serupa juga terjadi di China, konsumen emas terbesar dunia bersama India. Untuk pertama kalinya sejak akhir Desember 2025, harga emas fisik di China berbalik dari premi menjadi diskon terhadap harga spot global.

Emas diperdagangkan dengan diskon US$ 4 hingga US$ 8 per ons dibandingkan harga internasional. Padahal pada pekan sebelumnya, logam mulia tersebut masih diperdagangkan dengan premi US$ 1 hingga US$ 5 per ons.

Tunggu Kesepakatan AS-Iran

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 1 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 2 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 2 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 2 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 2 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 3 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia