Harga Emas Turun, Permintaan di Asia Tetap Lesu, Ada Apa?
JAKARTA, investor.id – Penurunan harga emas yang terjadi belakangan ini ternyata belum cukup untuk menghidupkan kembali permintaan fisik di Asia. Di tengah koreksi harga yang cukup dalam, pembeli di India dan China justru masih cenderung menahan diri karena ketidakpastian pasar dan volatilitas harga yang tinggi.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (20/6/2026), padahal, harga emas di India telah turun ke level terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir. Pada Jumat (19/6/2026), harga emas domestik tercatat sebesar 146.252 rupee atau setara Rp 27,55 juta (kurs Rp 188,4 per rupee) per 10 gram, level terendah sejak 2 April 2026.
Meski harga lebih murah mulai menarik sebagian pembeli kembali ke pasar, banyak investor dan konsumen memilih menunggu arah pergerakan harga yang lebih jelas sebelum melakukan transaksi dalam jumlah besar.
“Koreksi harga memang membantu menarik kembali pembeli. Namun volatilitas yang masih tinggi membuat sebagian konsumen memilih menunggu tren harga yang lebih pasti,” ujar seorang pelaku usaha perhiasan di Ahmedabad, India.
Kondisi tersebut tercermin dari semakin lebarnya diskon emas fisik di India. Pekan ini, dealer menawarkan diskon hingga US$ 54 per ons dibandingkan harga resmi domestik, termasuk bea masuk 15% dan pajak penjualan 3%. Diskon tersebut lebih besar dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai US$ 35 per ons.
Seorang pedagang bullion di Mumbai mengatakan permintaan investasi masih relatif lemah dalam beberapa pekan terakhir. Kendati demikian, sejumlah toko perhiasan mulai meningkatkan persediaan untuk mengantisipasi kemungkinan pemulihan permintaan.
“Permintaan investasi masih lemah, tetapi para jeweller mulai membangun stok,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di China, konsumen emas terbesar dunia bersama India. Untuk pertama kalinya sejak akhir Desember 2025, harga emas fisik di China berbalik dari premi menjadi diskon terhadap harga spot global.
Emas diperdagangkan dengan diskon US$ 4 hingga US$ 8 per ons dibandingkan harga internasional. Padahal pada pekan sebelumnya, logam mulia tersebut masih diperdagangkan dengan premi US$ 1 hingga US$ 5 per ons.
Tunggu Kesepakatan AS-Iran
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






