Menjadi Solidarity Maker
Mengelola sebuah perusahaan riset tidaklah mudah. Maklum, di dalamnya berisi para peneliti yang pintar luar biasa dan nyentrik. Ketika empat peneliti berkumpul dalam satu meja dan berdiskusi, misalnya, akan lahir sembilan ide brilian. Untuk mengendalikannya dibutuhkan pemimpin dengan pengalaman yang mumpuni, juga yang mampu menggalang solidaritas (solidarity maker).
“Saya menempatkan diri sebagai solidarity maker karena peneliti itu tidak bisa mudah diperintah. Peneliti atau ilmuwan di mana-mana cenderung individualistik, tapi kalau kita tambahkan dengan solidarity akan menjadi sebuah kekuatan yang besar,” ujar Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) Teguh Wahyudi kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini di Kantor Pusat RPN di Bogor, baru-baru ini.
Gaya kepemimpinan solidarity maker yang diterapkan pria kelahiran Pasuruan, 27 Mei 1959, itu rupanya membuahkan hasil. Saat ini, tiga dari enam pusat penelitian (puslit) yang dikelola RPN sudah membukukan surplus, yakni Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di Medan, Pusat Penelitian Karet di Bogor, serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) di Jember.
Secara konsolidasi, laba bersih RPN pada 2015 mencapai Rp 10,5 miliar dari total omzet Rp 800-900 miliar. Melalui berbagai upaya, RPN yakin laba bersih tahun ini naik menjadi Rp 16 miliar. Bagaimana gaya kepemimpinan bisa memengaruhi kinerja perusahaan dengan karyawan sekitar 2.600-an tersebut? Strategi apa yang diterapkan Teguh Wahyudi agar RPN bisa bersaing di kancah regional? Berikut petikan lengkapnya.
Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Saya mengawali karier di Puslitkoka Indonesia di Jember selama 10 tahun sebagai peneliti, kemudian menjadi Kepala Balai Penelitian Teknologi Karet di Bogor selama dua tahun, balik lagi ke Jember menjadi Direktur Puslitkoka Indonesia, kemudian di tengah-tengah itu saya merangkap sebagai Direktur RPN. Saat pertama RPN ada, saya salah satu direkturnya, kemudian focus sepenuhnya di Puslitkoka Jember, hingga akhirnya ditugaskan lagi di RPN sebagai Direktur Utama.
Mengapa Anda tertarik berkarier di bidang riset?
Ini memang sesuai minat dan latar belakang pendidikan. Berkarier di bidang riset atau menjadi peneliti itu punya kebebasan berekspresi, ini menarik buat saya. Sebagai peneliti, kami merencanakan pekerjaan sendiri, mencari biaya untuk pekerjaan sendiri, bahkan termasuk menerima hasilnya itu sendiri, mempertanggungjawabkan sendiri.
Suka duka memimpin perusahaan riset?
Menghadapi orang pintar tentu banyak suka dukanya. Bayangkan, ada empat peneliti berdiskusi maka pendapat yang keluar ada Sembilan karena mereka saking pintarnya. Nah, ini tugas saya bagaimana bisa mengekstraknya.
Tapi saya kira ini soal pengalaman saja. Kebetulan saya seorang peneliti, sehingga tahu apa yang menjadi aspirasi mereka. Pada dasarnya, peneliti itu bagus-bagus dari segi pemikiran, tapi memang susah dihimpun karena saking pintarnya. Umumnya, peneliti atau ilmuwan itu nyentrik, saya pun nyentrik, nyentrik ketemu nyentrik kan cocok.
Berapa puslit yang dikelola RPN dan bagaimana kondisinya?
RPN mengelola enam puslit, yakni PPKS di Medan, Pusat Penelitian Teh dan Kina di Gambung, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) di Pasuruan, Puslitkoka di Jember, Pusat Penelitian Karet di Bogor, serta Balai Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Perkebunan Indonesia di Bogor.
Awal saya masuk, RPN itu berat situasinya, tapi saya punya keyakinan bahwa RPN memiliki potensi besar. Ternyata benar, sekarang tinggal tiga puslit yang kondisinya agak berat, yakni P3GI, Pusat Penelitian Teh dan Kina, serta Balai Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Perkebunan Indonesia. P3GI dan Balai Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, misalnya, sulit dari sisi finansial. Tapi saya tetap yakin mereka memiliki potensi besar.
Sekarang terbukti, P3GI baru saja laporan dan hasilnya sudah mau surplus tahun ini, sedikitnya Rp 5 miliar. Kemudian Pusat Penelitian Teh dan Kina di Gambung, gambaran ke depan sudah lebih jelas. Balai Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindutri Indonesia, baru saja saya panggil semua pimpinannya, ternyata benar bahwa mereka punya potensi besar.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya menempatkan diri sebagai solidarity maker, karena peneliti itu tidak bisa mudah diperintah. Jadi, harus ditumbuhkan di dalam dirinya supaya sense of belonging-nya muncul. Peneliti dan ilmuwan di mana-mana cenderung individualistik, tapi kalau kita tambahkan solidarity maka akan menjadi kekuatan yang besar.
Inilah kelemahan ilmuwan, jadi mereka harus dibuat merasa bagian dari keseluruhan. Bung Karno adalah tokoh panutan saya. Bung Karno adalah seorang solidarity maker. Tanpa itu, Indonesia tidak akan terbentuk. Ada sekian suku, sekian agama. Kalau bukan dipimpin seorang solidarity maker, susah menjadi Indonesia seperti sekarang.
Dengan karakteristik perusahaan yang demikian, saya pun mengupayakan paling tidak sebulan sekali berdialog dengan karyawan. Kadang-kadang tidak harus dengan peneliti saja, tapi juga dengan yang lain-lain, seluruh karyawan. Harapannya, akan muncul banyak aspirasi dari mereka. Nanti saya minta dibuat risalahnya untuk dijadikan pegangan. Dari yang kecil, termasuk sopir, bisa memberikan masukan.
Strategi Anda memajukan perusahaan?
Pertama, harus fokus. Setiap puslit di bawah RPN harus focus atau bekerja sesuai core atau kompetensinya. Puslit teh ya focus di teh saja, jangan bisnis teh agak turun maka seolah-olah peluangnya menjadi tertutup. Begitupun untuk yang kompetensinya bioteknologi, fokus di bioteknologi.
Juga puslit gula atau tebu. Kami sempat melakukan diversifikasi usaha, ada yang bilang menanam cabai menguntungkan maka lari ke cabai, padahal itu bukan keahlian kami. Karena itu, saya selalu tekankan fokus pada core masing-masing.
Kedua, buat one thing, setiap bagian apakah itu setara puslit maupun di bawahnya itu harus menetapkan one thing. One thing , satu hal, apa yang paling penting menjadi fokus dalam bekerja. Sesuatu yang apabila bisa tercapai maka hal-hal yang lainnya menjadi tidak perlu atau menjadi lebih mudah dilakukan.
Jadi, setiap puslit atau bagian di bawahnya harus punya sesuatu yang besar, satu hal saja yang menurut mereka paling penting. Strategi ini sukses diterapkan saat di Puslitkoka Jember, paling tidak saya bisa mengubah Puslitkoka Jember dari sebuah lembaga penelitian yang hidupnya tergantung subsidi menjadi mandiri. Ini teori dan sekarang diterapkan di seluruh RPN.
Sekarang RPN keseluruhan sudah tampak hasilnya, meski dengan kondisi perekonomian seperti sekarang ya kinerja turun juga. Tapi yang pasti, yang dulu terpuruk, sekarang sedikit demi sedikit membaik. Melalui strategi ini, saya harap keenam puslit di bawah RPN pada masa mendatang surplus. Dalam rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP), tiga puslit yang masih butuh sentuhan, untuk tahun ini kinerjanya sudah membaik meski keuntungannya hanya beberapa juta.
Apa one thing RPN secara keseluruhan?
One thing RPN itu soal status. Status RPN harus jelas, kalau one thing tercapai maka hal lain menjadi tidak perlu, kesulitan finansial bisa diatasi. Kalau status selesai, banyak peluang yang bisa RPN garap. Saat ini, status RPN agak tidak jelas. Awalnya, RPN statusnya bukan pegawai negeri bukan swasta, bukan BUMN, tapi kemudian agak diperjelas oleh pemerintah saat RPN menjadi perseroan terbatas (PT).
Saat menjadi PT seperti sekarang banyak timbul pertanyaan, lembaga penelitian kok PT, aneh. Apalagi di dalamnya banyak aset negara. Maka, kita harus perjelas lagi, sekarang menurut keputusan pemerintah status RPN akan diarahkan sebagai badan layanan umum (BLU). Yang saya perjuangkan itu status, ini one thing dan kita fokus. Keuntungan BLU buat RPN apa?
Apapun itu, lembaga penelitian adalah cost center. Ini yang agak kami lupakan saat menjadi PT. Jadi, harus cost center, bukan profit center. Dengan menjadi BLU, kami punya akses pendanaan dari APBN atau dana publik, dekat sekali dengan program-program pemerintah.
RPN bisa menjadi supporting program pemerintah. Bila Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) punya program pengembangan kopi, misalnya, bisa berhubungan dengan kami sebagai sesame pemerintah. Jika diminta menyiapkan bibit atau teknologinya, kami siap.
Dengan status PT, RPN ikut tender, ini yang akan diperbaiki pemerintah. Tapi karena RPN sudah telanjur menjadi lembaga berpengalaman di berbagai bidang, termasuk bisnis, kami minta pemerintah agar pengalaman ini jangan dihilangkan, tapi justru harus diberdayakan dengan status yang lebih resmi.
Kami tidak perlu betul-betul seperti satuan kerja (satker) yang sepenuhnya mengandalkan APBN. Sekarang, dengan status PT, kami mencari sendiri pendanaan untuk penelitian. Bahkan, kalau dibiarkan, kami masih mampu berdiri sendiri, hanya saja tidak optimal. Istilahnya, hanya bisa bertahan hidup. Jika hanya bertahan hidup maka kurang bagus dalam rangka bersaing dengan negara lain. Padahal, di Indonesia penelitinya jago-jago.
Produk RPN saat ini apa saja?
Produk unggulan banyak, termasuk produk teknologi. Ada juga yang betul-betul produk berbentuk jasa, seperti solusi mengatasi kebakaran. RPN pun melakukan pemasaran sendiri. Jadi, setiap pusat penelitian di bawah RPN melakukan inovasi, di samping inovasi untuk kepentingan ilmu pengetahuan, juga untuk kepentingan bisnisnya. Produk RPN yang paling banyak diekspor adalah bibit kelapa sawit dari PPKS di Medan.
Filosofi Anda?
Dekat dengan orang kecil, dekat dengan semua, karena orang kecil itu doanya paling manjur. Jadi, saya di RPN dekat dengan semua, tidak ada jarak antara saya dan para peneliti, bahkan karyawan level bawah sekalipun. Saking tidak adanya jarak, mereka menjadi lebih terbuka, tapi tetap segan.
Kebetulan, peneliti atau ilmuwan umumnya juga begitu, hamper semua tidak terlalu birokratif. Karena filosofi ini pula, saya mohon maaf, banyak kebiasaan formal di RPN yang saya hilangkan. Misalnya di bank atau perusahaan besar diharuskan memakai emblem pegawai. Tapi RPN kan perusahaan yang belum modern, buat apa seperti itu? Supaya saling kenal? Lho, karyawan di Kantor Pusat RPN hanya 80 orang, pasti kenal satu sama lain.
Bagaimana Anda melihat dunia riset di Indonesia?
Kalau dikomparasikan dengan negara tetangga memang cenderung tertinggal, terutama riset perkebunan. Ini karena tidak disediakan dana yang cukup sehingga jumlah peneliti dan hasil penelitiannya jauh lebih sedikit. Selain itu, aturan riset di Indonesia sangat rigid, padahal harusnya riset dipermudah.
Contohnya Malaysia memiliki 600 peneliti sawit, Indonesia hanya 60-an orang. Malaysia sekarang tidak memiliki kakao, luas lahan kakao mereka hanya 25 ribu hektare setara dengan kakao Indonesia di Sumatera Barat. Tapi peneliti kakao di Malaysia ada 70 orang, hasil penelitiannya banyak, di Indonesia peneliti kakao hanya 30 orang.
Itu juga dampak dari anggaran riset Indonesia yang kalah jauh. Sebagai perbandingan, Malaysia mengalokasikan 2% dari produk domestik bruto (PDB)-nya untuk riset dan pengembangan, Indonesia di bawah 0,5% dari PDB, paling banyak 1%.
Keluwesan dalam penggunaan anggaran ini terkait aturan. Di Indonesia kurang memadai. Malaysia tidak mengenal tahun anggaran. Peneliti itu idenya muncul waktu sedang baca koran, sedang naik kereta, naik pesawat. Kalau di Malaysia bisa segera direalisasikan.
Di Indonesia tidak bisa seperti itu, harus membuat proposal dulu, mengajukan anggaran, baru tahun depan dibiayai, itu pun kalau dibiayai. Saat peneliti mengajukan proposal tahun depan, ide tadi sudah hilang. Di Malaysia, mengajukan riset di tengah tahun tidak masalah.
Mimpi Anda?
Nggak punya, ilmuwan itu sederhana saja, tidak terlalu neko-neko berpikirnya, semuanya dijalani apa adanya. Saya selalu percaya bahwa semuanya sudah ada yang mengatur, tidak mungkin semua langsung jadi. Saya itu tidak pernah berpikir atau berambisi menjadi direktur utama. Saya kaget juga, lho kok saya? Tapi saya percaya bahwa kemampuan manusia untuk merencanakan hanya sampai pada tiga tahapan, di luar itu sudah merupakan anugerah atau pertolongan Tuhan.
Obsesi Anda dalam karier?
Kejelasan status RPN saja, cuma itu, selesai. Kalau jabatan, jabatan saya sudah tertinggi, sudah tidak ada lagi. Tugas saya sekarang fokus soal status RPN dan memberdayakan tiga pusat penelitian yang diharapkan surplus mulai tahun ini. Kalau sudah selesai soal status, tugas saya sudah selesai. Apalagi ya, jabatan sudah tertinggi kan? Setelah itu tinggal pensiun.
Peran keluarga dalam karier Anda?
Ya banyak, besar sekali. Istri atau perempuan yang bersuamikan peneliti harus siap melarat. Kalau cari orang kaya, keliru. Saya ini peneliti, pendapatannya terbatas. Istri saya memberikan dukungan luar biasa. Kebetulan istri saya orang perkebunan juga, tapi bukan peneliti.
Anda bisa lihat para ilmuwan, dosen, peneliti, umumnya putraputrinya memiliki karier bagus, ini karena cerminan ketenangan dalam jiwa orang tuanya. Belum tentu uang sedikit rumah tangga tidak tenang. Uang itu nomor sekian.
Baca juga di http://id.beritasatu.com/home/main-catur-demi-berlatih-strategi/146765
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

