Kamis, 14 Mei 2026

Choi Chang Sik, Pemimpin Adalah Motivator

Penulis : Antara
18 Jul 2011 | 11:14 WIB
BAGIKAN

Sesuatu yang berbeda, khas, dan lain dari yang lain bisa menjadi kekuatan dan nilai tambah bagi seorang pemimpin perusahaan. Itulah alasan mengapa Choi Chang Sik memiliki gaya dan cara kepemimpinan yang berbeda. Lalu, mengapa ia juga berperan sebagai motivator?

Bagi Choi Chang Sik, menjadi berbeda adalah salah satu cara berpikir, bukan taktik. Choi juga menjadikan hal yang berbeda sebagai komitmen untuk memotivasi karyawan, rekan sejawat, dan nasabah. Salah satu hal paling penting yang dipegang teguh Choi adalah nilai tambah (added value).

Menurut dia, salah satu kunci sukses seseorang dalam berkarier adalah menyelesaikan tugas yang diemban, kemudian secara bersamaan menyelesaikan lagi suatu pekerjaan di luar yang ditugaskan atasan.

“Itu salah satu contoh untuk tampil berbeda dalam lingkup pekerjaan,” ujar chief executive officer (CEO) dan presiden direktur PT Bank Hana itu kepada wartawan Investor Daily Thomas E Harefa dan fotografer David Gita Roza di Jakarta, belum lama ini.

Sebagai orang nomor satu Bank Hana di Indonesia, tentu saja Choi Chang Sik mengemban tugas yang amat berat. Sekadar informasi, Bank Hana mayoritas sahamnya (75%) dikuasai Hana Bank Korea, anak usaha Hana Financial Group, Korea Selatan (Korsel).

Di Negeri Ginseng, Hana Bank berada pada peringkat ke-4 bank terbesar setelah Kookmin Bank, Woori Bank, dan Sinhan Bank. Aset Hana Bank Korea mencapai Rp 1.600 triliun. Bank tersebut memiliki kantor cabang antara lain di New York, Singapura, Tokyo, dan Hong Kong.

Selain Hana Bank Korea, bisnis Bank Hana di Indonesia didukung International Finance Corporation (IFC), anak usaha Bank Dunia, dengan kepemilikan saham 19%. Sisa saham Bank Hana dimiliki individu.

Visi Bank Hana adalah menjadi bank komersial yang mengglobal sekaligus lokal (glokal). Artinya, Bank Hana Indonesia merupakan bank global yang menjangkau nasabah lokal (glokal).

“Misi kami adalah memberikan standar layanan dan manajemen yang bersifat glokal. Oleh karena itu, saya juga berusaha melokalkan diri dengan memelihara kumis dan jenggot untuk menyesuaikan diri dengan penampilan orang Indonesia,” kata Choi yang sudah 24 tahun menekuni profesi bankir dan sejak 2009 memimpin Bank Hana.

Perseroan menargetkan dalam lima tahun ke depan menjadi salah satu dari 40 bank terbesar di Indonesia. Untuk mencapai target itu, salah satu hal penting yang ditanamkan manajemen Bank Hana adalah membangun dan memelihara kebersamaan.

“Hana dalam bahasa Korea berarti satu. Sebagai bagian dari Hana Bank, semua staf bersatu dan memberikan yang terbaik untuk mendukung bisnis dan melayani nasabah,” tandas pria penggemar pakaian batik ini. Yang pasti, bisnis Bank Hana terus bertumbuh. Sampai kuartal I-2011, kredit yang disalurkan perseroan mencapai Rp 1,69 triliun, naik dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 957 miliar. Aset Bank Hana juga meningkat dari Rp 1,68 triliun menjadi Rp 2,31 triliun, kendati laba bersihnya turun dari Rp 7,5 miliar menjadi Rp 3,6 miliar.

Pada periode tersebut, Bank Hana yang memiliki 23 kantor cabang, mampu menghimpun dana giro Rp 441 miliar, meningkat dari sebelumnya Rp 157 miliar. Dana pada tabungan juga naik menjadi Rp 78 miliar dari sebelumnya Rp 43 miliar. Adapun deposito yang dibukukan Bank Hana naik dari Rp 931 miliar menjadi Rp 1,08 triliun.

Apa saja kiat Choi Chang Sik memimpin Bank Hana? Mengapa ia ingin tampil beda? Benarkah Choi terobsesi menjadi motivator? Berikut petikan lengkap wawancara dengan pria kelahiran Seoul, 50 tahun silam tersebut.

Seperti apa pola kepemimpinan Anda?
Saya ingin menerapkan pola yang berbeda dibandingkan dengan yang dijalankan presiden direktur (presdir) perusahaan lainnya. Saya banyak membaca buku dan rutin membaca hingga tuntas paling tidak dua buku dalam seminggu. Saya menyukai topik- topik motivasi. Tahun ini, saya mengunjungi beberapa perusahaan asal Korsel di Indonesia untuk mengajar.

Topik saya adalah kehidupan yang baik (better life). Sebab, setiap orang ingin mendapat hidup yang baik. Saya ingin membagikan rahasia tersebut. Saya memotivasi karyawan dan nasabah. Para presdir rata-rata menyampaikan banyak hal mengenai penataan keuangan atau target-target. Saya justru ingin seperti motivator Mario Teguh. Saya senang memotivasi karyawan dan nasabah. Ada istilah a month without progress, is a lost month. Jadi, setiap saat harus fokus pada progres. Tanpa bertindak, tidak akan ada perkembangan. Salah satunya dengan membaca buku dan berpikir.

Pola tersebut cukup berhasil?
Saya kira demikian. Di Indonesia ada empat bank asal Korsel yang beroperasi, termasuk Bank Hana. Pola yang saya terapkan di Bank Hana berbeda dengan tiga bank lainnya. Di sini, saya membuat progres. Saya memberikan motivasi kepada masyarakat, sehingga mereka ter tarik membuka rekening di Bank Hana. Ini salah satu rahasia marketing saya. Saya menamakannya knowledge marketing. Jadi, banyak orang Korea di sini yang mengenal saya.

Saya harus bisa mengembangkan nilai tambah (added value). Salah satu kunci sukses seseorang dalam karier adalah menyelesaikan tugas yang dikerjakan, dan mengerjakan sesuatu lagi yang bernilai tambah, sehingga akan menyenangkan atasan. Saya juga menerapkan hal itu. Di Korea, para pria seperti saya jarang memanjangkan kumis dan jenggot. Sepertinya itu merupakan larangan di sana. Tetapi saya justru memanjangkan kumis dan jenggot saya di Indonesia. Ini sebagai upaya adaptasi. Ini adalah nilai tambah. Jangan menjadi biasa-biasa, tetapi jadilah luar biasa!

Siapa tokoh yang menginspirasi Anda?
Saya memiliki mentor di holding company, namanya Mr Kim. Pada 2003-2004 saya menjabat sebagai kepala sekretaris Mr Kim selama tiga tahun. Dia adalah orang yang pintar dan berwawasan tinggi. Kita perlu memiliki panutan yang bisa menjadi contoh. Saya banyak belajar dari dia.

Sejak kapan Anda berminat menjadi motivator?
Pada 2008, saat saya menjabat direktur. Saat itu saya adalah direktur yang berusia muda dan harus memotivasi orang untuk mencapai target. Bagi para pemimpin, cukup mudah untuk mencapai target dengan memarah-marahi bawahannya. Tapi itu, bukan metode yang baik. Memotivasi bawahan bagi seorang pemimpin itu penting. Saya banyak membaca buku-buku motivasi. Saya membagikan motivasi, sehingga staf menyukai saya. Mereka menikmati bekerja dan hidup. Saya tidak memarah- marahi mereka. Sejak itu, saya ingin menjadi motivator. Pada 2009, saya datang ke Indonesia.

Mengapa memilih jadi motivator?
Kebanyakan bankir berpikir bekerja harus sangat hati-hati. Saya justru ingin menjadi bankir yang berkembang. Selama menetap di Indonesia, salah satu misi saya adalah membangun atau memotivasi karyawan dan nasabah. Kalau di Korea, para pengusaha saling bersaing satu sama lain. Senin-Jumat mereka bekerja keras. Demikian halnya pengusaha di Indonesia. Bedanya, pada akhir pekan pengusaha di sini pergi liburan atau golf. Jarang yang membaca buku. Sedangkan di Korea, pada akhir pekan banyak membaca buku. Di sini, saya ingin membangkitkan semangat membaca.

Salah satu alasan saya berani menetap di Indonesia karena bisa berbahasa Inggris. Di Korea, banyak orang yang memiliki berbagai kemampuan, tetapi tidak dapat berbahasa Inggris dengan baik. Jadi, mereka tidak berani datang ke Indonesia. Saya juga berusaha belajar bahasa  Indonesia. Kita harus mengembangkan kemampuan kita sendiri. Dengan demikian, kita dapat bersaing dan bekerja dengan optimal. Saya berupaya menangkap pesan-pesan yang ada dalam pengalaman. Itu kemudian saya sampaikan kepada karyawan dan nasabah, serta keluarga.

Apa filosofi yang Anda anut?
Saya ingin memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan, baik moril maupun materil. Jika mental seseorang bisa diarahkan dengan baik, meski uang atau penghasilannya sedikit, pasti dapat hidup baik. Pada September 2011, saya mendapat kesempatan mengajar di Universitas Pelita Harapan (UPH). Saya tergerak ingin membangkitkan semangat orang. Tahun ini banyak orang Korea datang untuk berbisnis di Indonesia. Setiap ada kesempatan bertemu dengan mereka saat makan malam, saya memberikan pengajaran motivasi. Saya bersyukur upaya yang saya lakukan mendapat respons positif.

Ada yang mengirim email ke saya, hidupnya berubah 100% setelah saya motivasi. Setiap minggu saya mengirimkan email motivasi dan banyak menerima respons. Dengan demikian, banyak orang memperoleh motivasi melalui email. Bahan motivasi yang saya peroleh berasal dari pengalaman dan berbagai buku yang saya baca. Saya memiliki sekitar 1.000 buku di rumah. Bahkan, di mobil pun saya membaca buku.

Seberapa kuat buku memengaruhi pola pikir Anda?
Ada dua buku berbahasa Korea mengenai pengembangan diri yang sangat memengaruhi saya pada 2008. Kedua buku itu mengubah cara pandang saya mengenai hidup. Sebelumnya, saya kurang suka membaca buku- buku bertema seperti itu. Kedua buku itu justru saya temukan di kamar putri saya.

Ketika saya sedang mengajar, banyak orang bertanya bagaimana Anda bisa mengubah hidup. Mereka juga membaca buku-buku yang saya rekomendasikan, tetapi kesulitan untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Saya menjawab dengan suatu istilah, bacalah buku melalui hati. Jangan membaca buku melalui pikiran.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda di Hana Bank Korea dan Bank Hana?
Saya lulus kuliah pada 1983, lalu saya masuk wajib militer selama tiga tahun. Awalnya saya bergabung dengan Sinhan Bank pada 1986. Kemudian pada 1994 saya bergabung dengan Hana Bank. Jadi, hampir 17 tahun saya bekerja di Hana Bank. Pada 1999, kami membeli bank dan menamakannya Hana Bank. Awalnya berjalan baik. Tetapi sebagai dampak krisis 1997-1998 , bank tersebut menjadi insolvent. Saya datang ke Indonesia pada 2000 dan pada 2001, bank tersebut kami jual.

Pada 2007, kami mengakuisisi bank lokal (Bank Bintang Manunggal). Pada 2009, saya kembali lagi ke Indonesia. Bank tersebut kemudian menjadi Bank Hana. Nasabah-nasabah lama Bank Bintang Manunggal tetap menempatkan dana di Bank Hana, karena pertumbuhan bisnisnya cukup baik. Total nasabah saat ini sekitar 10 ribu dengan komposisi nasabah 75% orang Indonesia. Sisanya nasabah asal Korea.

Bisa dijelaskan strategi bisnis Bank Hana?
Bank-bank asal Korsel membuka perwakilan di berbagai negara untuk mendukung perkembangan bisnis perusahaan Korsel di negara tersebut. Demikian juga dengan Bank Hana di Indonesia. Tetapi, strategi kami sedikit berbeda. Kami ingin menjadi bank lokal. Di Indonesia, terdapat empat bank asal Korsel, yakni Bank Hana, Bank Woori, Korean Exchange Bank, dan Koexim Bank. Mayoritas nasabah dari tiga bank tersebut adalah orang-orang Korea. Sedangkan nasabah kami kebanyakan orangorang Indonesia, jumlahnya mencapai 75%. Kami juga focus menyalurkan kredit kepada usaha kecil dan menengah (UKM).

Menurut Anda, Indonesia merupakan pasar potensial?
Indonesia merupakan negara yang tumbuh pesat. Karakteristik nasabah di Indonesia juga unik. Di Korsel, masyarakat kebanyakan menempatkan dana di deposito untuk jangka sekitar 3-6 bulan. Tapi nasabah di Indonesia sekitar 1-2 bulan. Orang-orang di Indonesia cenderung menempatkan dana di giro dan tabungan berbunga rendah, sehingga keuntungan bisnis perbankan di Indonesia cukup besar.

Net interest margin (NIM) di Korsel hanya 2-3%. Berbeda di Indonesia yang rata-rata mencapai 5-10%. Satu perbandingan lagi pada penempatan dana investasi. Orang-orang Korea suka berinvestasi high risk high return. Populasi Korea sekitar 49 juta jiwa, Indonesia 240 juta jiwa. Tapi orang-orang di Korsel yang menempatkan dana di saham mencapai sekitar 4 juta orang. Sedangkan di Indonesia hanya 400 ribu orang. Demikian pula perbandingan pemilik kartu kredit di Korsel 30 juta orang, sedangkan di Indonesia sekitar 12 juta orang. Potensinya cukup besar.

Target bisnis Bank Hana pada 2011?
Kami menargetkan aset Bank Hana menjadi Rp 3 triliun. Penyaluran kredit kami targetkan sebesar Rp 2,3 triliun, dan penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 2,2 triliun. Pada kuartal II-2011, kami berencana membuka tiga kantor cabang. Awal tahun ini, kami telah membuka tiga kantor baru. Sedangkan total kantor cabang kami saat ini sebanyak 23 kantor yakni 15 cabang di Jakarta, satu cabang di Surabaya, satu cabang di Bogor, dua cabang di Bandung, satu cabang di Salatiga.

Target bisnis Bank Hana dalam lima tahun ke depan seperti apa?
Kami ingin menjadi bank lokal dan berkompetisi dengan bank-bank tersebut. Jadi, kami perlu memperbesar kapasitas aset. Kami akan merekrut sumber daya manusia berkualitas, membuat sistem yang baik, dan melatih karyawan. Kami ingin membuat good corporate culture. Saya yakin dapat berkompetisi. Saya teringat ucapan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono saat memenangi pemilu. Dia mengatakan, kita bisa. Semangat masyarakat Korea juga demikian, we can do.

Bank Hana punya rencana mengakuisisi bank lokal lagi?
Pada dasarnya ya, karena kami berusaha masuk dalam peringkat 40 besar pada 2014. Ini tentu lebih sulit dilakukan jika hanya mengandalkan pertumbuhan organik. Kami perlu mengakuisisi bank lokal dengan asset menengah. Mungkin tahun depan rencana itu akan kami laksanakan. Sedangkan untuk jangka panjang, kami ingin menempati peringkat 20 besar bank di Indonesia.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 11 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 28 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 58 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia