Lusiana Lu Ungkap Kisah Sukses HashMicro
JAKARTA, investor.id - Lusiana Lu, Business Development Director sekaligus founder HashMicro mengungkapkan kisah sukses HashMicro sebagai perusahaan penyedia software manajemen bisnis enterprise resource planning (ERP) tanpa pendanaan dari investor.
“HashMicro membangun bisnis tanpa menarik investasi atau modal dari eksternal sehingga perusahaan dapat mengendalikan seluruh sektor lini perusahaan secara menyeluruh tanpa keputusan dari pihak lain,” jelas Lusiana Lu dalam keterangan resmi yang diterima Investor Daily, Rabu 2 Maret 2022.
Kedua pendiri HashMicro, kata Lusiana Lu, berprofesi sebagai IT engineer dan ahli manajemen bisnis asal Indonesia yang mengenyam pendidikan di Singapura.
“Kami membangun perusahaan penyedia perangkat lunak ERP. Pada saat itu, pemerintah Singapura sedang mendorong adopsi IT, sehingga mayoritas perusahaan-perusahaan di sana berlomba mencari vendor yang dapat mendukung transformasi tersebut,” jelas Lusiana Lu.
Di tengah tingginya kesadaran pentingnya IT di kalangan pebisnis Singapura, kata Lusiana Lu, HashMicro mulai menapaki kesuksesannya. Di sana, HashMicro berhasil menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan raksasa seperti Abbott, Bank of China, Changi Airport dan menjadi vendor digital untuk beberapa kementerian strategis seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Pertahanan Singapura.
Selang tiga tahun, menurut Lusiana Lu, founder HashMicro mulai melebarkan sayapnya di tanah air dan melampaui kesuksesan yang telah diraih sebelumnya di Singapura dengan pertumbuhan valuasi hingga 200-300% setiap tahunnya dengan 600+ karyawan.
Menurut Lusiana Lu, fokus utama perusahaan rintisan seharusnya ada pada pengembangan produk yang sudah pasti akan laku di pasaran. Pasalnya, Lusiana mengamati banyak founder yang ingin cepat-cepat tumbuh, dan menghasilkan banyak produk sekaligus. “Awalnya mungkin ingin dilihat sebagai perusahaan inovatif. Tapi, itu akan sia-sia karena fokusnya menjadi terbagi-terbagi.” ujar Lusiana.
Pada awal berdirinya, HashMicro fokus pada menghadirkan solusi utama yang dibutuhkan perusahaan target pasarnya. Strategi ini disebut juga dengan product market fit. Selain itu, HashMicro juga berinvestasi pada branding dan marketing organik. Seiring dengan jangkauan pasar yang lebih luas dan produk yang semakin bagus, sumber daya pun juga akan makin berkembang.
HashMicro, kata Lusiana Lu, memilih untuk memastikan proses dan alur kerja yang efektif sebelum meluncur jauh. Lusiana melanjutkan, “Seluruh strategi bisnis yang kami buat berangkat dari prinsip efisiensi. Pada dasarnya sumber daya awal kami terbatas, sehingga kami harus berupaya untuk memaksimalkan yang ada,” jelas dia.
HashMicro juga memprioritaskan untuk merekrut sedikit karyawan namun berkualitas untuk mengembangkan produknya. Intinya, berangkat dari efisiensi manajemen dan SDM yang berkualitas akan meminimalisasi risiko dan memberikan stabilitas untuk mengembangkan bisnis.
Lusiana Lu bercerita, profit yang didapat HashMicro digunakan untuk reinvestment dengan cara merancang produk baru untuk pasar yang lebih luas. Misalnya, HashMicro mematangkan adaptabilitas software untuk setiap industri, meluncurkan fitur Artificial Intelligence (AI) yang akan mendukung kerja software ERP yang sudah ada, dan melahirkan dua anak perusahaan yang menyasar pasar berbeda.
Strategi reinvestment ini harus didukung pula dengan riset yang baik. Perusahaan rintisan harus rajin mempelajari tren-tren industri, memperbarui pengetahuan secara daring, dan bangun jejaring dengan perusahaan lain untuk membangun kerja sama.
“Perjalanan HashMicro bisa melewati masa bootstrap hingga menjadi perusahaan yang sudah sustain tidak mudah. Kami harus keluar dari zona nyaman, berusaha untuk tidak membuat kesalahan, dan menginvestasikan waktu untuk menciptakan produk terbaik. Pada akhirnya, itu semua terbayarkan,” pungkas Lusiana Lu.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

