Hasto: Geopolitik dan Diplomasi Internasional Fokus Visi Misi Capres Ganjar
JAKARTA, Investor.id – Sekretaris Jenderal PDIP yang juga merupakan Doktor Ilmu Pertahanan Hasto Kristiyanto mengungkapkan fokus misi dan visi Ganjar Pranowo di Pilpres 2024 adalah geopolitik, diplomasi internasional, dan pertahanan.
Pasalnya, kata Hasto, geopolitik dan diplomasi internasional akan menjadi variabel terpenting untuk membangun masa depan Indonesia, khususnya bidang pertahanan.
Hal ini disampaikan Hasto saat memberikan kuliah umum kepada siswa Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) TNI Angkatan ke-61 di Jakarta Selatan, Jumat (12/5/2023). Kuliah umum Hasto ini berjudul 'Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya' dan diikuti oleh 118 orang siswa Dikreg Seskoal TNI angkatan ke-61.
“Kami sedang merancang visi misi calon presiden, Ganjar Pranowo, di mana fungsi diplomasi luar negeri dan pertahanan harus jadi satu,” ujar Hasto.
Dalam pemaparannya, Hasto menjelaskan, pemikiran geopolitik Soekarno itu didasarkan pada ideologi Pancasila dengan tujuan membangun tata dunia baru, yakni dunia yang damai, apabila bebas dari imperialisme dan kolonialisme.
Selain itu, kata Hasto, di dalam pemikiran geopolitik Soekarno juga menekankan pentingnya menggalang solidaritas bangsa berdasarkan prinsip koeksistensi damai (peaceful coexistence) serta berorientasi pada struktur dunia yang demokratis, sederajat dan berkeadilan.
"Ada tujuh variabel geopolitik Soekarno, yaitu demografi, teritorial, sumber daya alam, militer, politik, ko-eksistensi damai serta sains dan teknologi. Dari ketujuh itu, dua variabel yang paling mempengaruhi adalah politik dan diplomasi internasional, serta variabel ilmu pengetahuan dan teknologi atau Iptek," ungkap Hasto.
Hasto lalu mengangkat contoh Soekarno memanfaatkan pemikiran geopolitik dalam membebaskan Irian Barat. Saat itu, Soekarno menyadari, jika Irian Barat dikuasai Asing maka akan menjadi pisau belakang kapitalisme yang setiap saat bisa menusuk Indonesia.
Karena itu, kata Hasto, dibangun kesadaran rakyat mengenai kesatuan dari Sabang sampai Merauke. Kemudian di tahun 1955, Indonesia mengadakan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang menghasilkan Dasasila Bandung yang mana 7 dari 10 poinnya adalah demi pembebasan Irian Barat.
“Apa modalnya? Hanya hospitality kepada para negara peserta. Dengan berhasilnya KAA, legitimasi internasional Indonesia menjadi menguat. Kita dapat dukungan Asia Afrika. Sehabis itu, dikeluarkan deklarasi Djuanda yang menaikkan wilayah kita 2,5 kali lipat tanpa perang,” ujar Hasto.
Dalam konteks itu, Hasto pun mengajak para perwira muda TNI untuk mengambil inspirasi dari aplikasi teori geopolitik Soekarno. Menurut Hasto, TNI sekarang harus berani berimajinasi menjabarkan pemikiran geopolitik Soekarno agar Indonesia memiliki kekuatan pertahanan terkuat di Samudera Hindia sehingga bisa menjadi pintu gerbang masa depan dunia di Pasifik.
“Inilah kekuatan imajinasi dan ide. Jangan berpikir punya uang atau tidak. Kuncinya ide, imajinasi, dan strategi serta mengambil prakarsa keterlibatan Indonesia di percaturan global sambil mengembangkan penguasaan Iptek," tandas Hasto.
Lebih lanjut, Hasto menegaskan, bahwa setelah KAA, Indonesia aktif di Gerakan Non Blok dan berbagai even internasional lain yang semakin memperkuat pengaruh Indonesia. Menurut dia, Indonesia menggunakan pengaruh itu untuk memperkuat pertahanan negara serta mengirimkan para pemuda Indonesia ke luar negeri.
“Pada saat itu, kekuatan militer Indonesia disebut sebagai kekuatan terhebat di belahan bumi bagian Selatan. Pendanaan alutsista tidak lebih dari hasil dari strategi geopolitik yang ditopang sebagian oleh APBN. Dengan diplomasi luar negeri yang menyatu dengan diplomasi pertahanan, kita akan kuat,” terang Hasto.
Hasto juga memotivasi para perwira muda TNI agar berani berimajinasi dan mengeluarkan ide tentang bagaimana merancang pertahanan negara Indonesia masa depan, sehingga benar-benar menjadi terkuat di dunia.
“Mari mulai hari ini, anda-anda semua para perwira siswa, kita berimajinasi bahwa TNI ke depan betul-betul jadi kekuatan terhebat. Bahwa semua itu mungkin, tak ada yang mustahil jika kita berani berimajinasi dan membuat ide disertai dengan sebuah tindakan strategis yang terukur,” imbuh Hasto.
Pada kesempatan itu, Danseskoal Laksamana Muda TNI Yoos Suryono Hadi mengatakan pihaknya memberikan apresiasi kepada Hasto yang menyempatkan waktunya memberikan kuliah umum geopolitik kepada para perwira TNI. Secara keseluruhan, ada 118 perwira siswa dari semua matra angkatan di TNI plus Kepolisian RI, di angkatan ke-61 itu.
“Terima kasih atas kesediaan Doktor Hasto Kristiyanto untuk memberikan kuliah mata pelajaran geopolitik kepada seluruh siswa,” terang Laksamana Muda Yoos.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





