Jumat, 15 Mei 2026

Tiga Prinsip Ini Akan Membangun Pertanian dan Ketahanan Pangan di IKN

Penulis : Grace El Dora
11 Jul 2023 | 13:32 WIB
BAGIKAN
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Myrna Safitri, saat Simposium Memperkuat Ekosistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan IKN & Kalimantan Timur pada 11 Juli 2023. (Foto: B Universe/Kementerian Komunikasi dan Informatika RI)
Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Myrna Safitri, saat Simposium Memperkuat Ekosistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan IKN & Kalimantan Timur pada 11 Juli 2023. (Foto: B Universe/Kementerian Komunikasi dan Informatika RI)

JAKARTA, investor.id – Pengembangan pertanian dan ketahanan pangan di Ibu Kota Nusantara (IKN) harus diselaraskan dengan tiga prinsip pembangunan IKN.

Demikian ditegaskan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Myrna Safitri secara daring, di tengah Simposium Memperkuat Ekosistem Pertanian Berkelanjutan untuk Mendukung Ketahanan Pangan IKN & Kalimantan Timur pada Selasa (11/7/2023).

Prinsip pertama yang dimaksud adalah pembangunan di IKN harus selaras dengan alam. Kedua, pembangunan di IKN adalah pembangunan yang sirkuler atau zero waste dan tangguh. Ketiga, pembangunan di IKN adalah pembangunan yang rendah emisi karbon.

ADVERTISEMENT

"Tiga prinsip itu menjadi payung di dalam arah dan pelaksanaan kegiatan pertanian dan ketahanan pangan di Ibu Kota Nusantara," kata Myrna, Selasa.

Pembangunan yang harus selaras dengan alam, salah satunya dengan menjadikan 65% dari wilayah IKN itu sebagai kawasan yang dilindungi. Kemudian, 10% dari wilayah IKN itu adalah area yang akan dijadikan sebagai lokasi produksi pangan.

"Kami sendiri sudah mengidentifikasi areal-areal tersebut, jumlahnya sekitra 40 ribuan hektare (ha), jadi kita range arealnya sekitar 25 ribu hingga 40 ribuan ha," ujarnya.

Dalam pembangunan pertanian yang selaras dengan alam, sebut Myrna, tentu saja tidak boleh menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan. Pelaksanaan pembangunan harus efisien, utamanya terkait efisiensi sumber daya lahan, dan melakukan pembangunan yang zero waste.

Terkait pembangunan yang rendah emisi karbon, sektor pertanian adalah sektor yang menjadi penyumbang pada emisi gas rumah kaca. Oleh karena itu pertanian masa depan di IKN harus menjadi pertanian yang cerdas iklim.

“Pembangunan itu sedapat mungkin memanfaatkan areal-areal secara efisien termasuk pemanfaatan areal Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan sebagai areal untuk pengembangan pertanian perkotaan atau urban farming," ujarnya.

Dalam kaitan dengan ketahanan pangan ketersediaan pangan di IKN adalah penting karena juga butuh dukungan dari areal-areal di sekitar IKN, yakni di Kalimantan Timur maupun di Pulau Kalimantan secara keseluruhan.

Keamanan pangan juga menjadi hal yang penting karena pangan yang sehat dan berkualitas akan memberikan nutrisi yang baik bagi masyarakat.

"Kita menginginkan pangan yang tersedia bagi warga IKN itu adalah pangan yang berasal dari pertanian yang tidak merusak lingkungan, pangan-pangan alternatif yang mengandung banyak protein nabati, dan kita juga ingin menggali sumber-sumber pangan lokal. Pembangunan pertanian di IKN tidak bisa dilakukan oleh IKN sendiri, akan tetapi perlu bersinergi dengan daerah atau wilayah sekitar," pungkas Myrna.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor mengungkapkan pihaknya telah melakukan berbagai program strategis yang berdaulat dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) berkelanjutan.

Pemprov Kaltim saat ini fokus pada tiga sasaran besar di sektor pertanian dalam arti luas. Pertama, membangun swasembada dan ketahanan pangan. Kedua, meningkatkan penghasilan petani, petani nelayan, dan petani hutan agar memiliki masa depan yang lebih baik.

Ketiga, membangun iklim masyarakat yang cukup dan mampu memperoleh bahan pangan dengan harga yang terjangkau.

“Namun begitu, ini semua akan terwujud apabila ada keterlibatan semua pihak termasuk stakeholder terkait dalam membangun sektor pertanian yang berkelanjutan. Yang paling penting adalah keterlibatan dan keseriusan masyarakat,” tambahnya.

Rektor Universitas Mulawarman Dr. Ir. Abdunnur M.Si menilai akademisi juga perlu turut memperkuat ekosistem pertanian yang berkelanjutan dalam mendukung pembangunan IKN.

“Ini juga tindak lanjut dari kerja sama yang dilakukan Kepala Badan Otorita IKN dengan Universitas Mulawarman, agar semua program diimplementasikan untuk mendukung stabilitas lingkungan di IKN,“ ujarnya.

Simposium ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi penguatan ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 16 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 20 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia