Ahli Tata Kota Sebut 50% Pendatang ke Jakarta Tak Punya Keahlian dan Tujuan
JAKARTA, investor.id – Tren penglaju (comuter) ke Jakarta mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Indikasinya, mereka mulai bergerak ke daerah penyanggah di sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek).
Pemerintah diharapkan dapat melihat persoalan ini lebih lanjut. Lantaran, dampak yang ditimbulkan akan sama, apalagi jika yang datang tidak berbekal keahlian.
Ahli Tata Kota Universitas Trisakti, Nirwono Joga mengatakan secara umum ada tiga hal yang selama ini menjadi kendala utama saat perantau datang ke Kota Jakarta. Sebanyak 30-50% dari total pendatang itu tidak dapat dipastikan apakah mereka punya keahlian berupa ijazah atau sertifikat dan tujuan merantau ke kota besar.
“Kemudian apakah mereka punya tempat tinggal yang pasti atau tidak, baik itu di rumah teman dan saudara serta tempat tujuan kerja yang pasti dalam beberapa bulan ke depan di Jakarta,” kata Nirwono Joga dalam program Investor Daily Talk, usai Forum Group Discussion (FGD) bertema 'Jakarta Tak Lagi Jadi Magnet', di Kantor B-Universe, PIK2, Banten, Selasa (23/4/2024).
Nirwono menyebut kendala tersebut yang seharusnya wajib diantisipasi karena pada bulan-bulan berikutnya akan muncul persoalan baru seperti meningkatnya pengangguran dan masalah sosial lain. Selain itu, dapat memicu menjamurnya pemukiman kumuh karena mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak dan masuk ke kampung-kampung kumuh.
“Kalau ini tidak diantisipasi persoalan berikutnya sudah pasti akan muncul kemacetan lalu lintas karena secara teknis mereka tidak punya pilihan, transportasi publik atau kendaraan pribadi seperti motor yang lebih hemat. Tentu nanti efeknya pada polusi udara, artinya timbul masa lain yang justru akan menambah beban ke Jakarta,” pungkas dia.
Sebelumnya, Kepala Disdukcapil provinsi Jakarta Budi Awaluddin melaporkan angka pendatang selepas arus balik Lebaran 2024 diperkirakan berkurang. Dia memproyeksikan warga baru di Jakarta pasca Idul Fitri hanya akan bertambah sekitar 10 hingga 20 ribu. Hal tersebut disebabkan perhitungan data penambahan warga pendatang baru di Jakarta yang terus menurun. Seperti di tahun 2022, angka pertambahan penduduk selepas Idul Fitri hanya mencapai 27 ribu jiwa. Sedangkan di tahun 2023 trennya lanjut merosot yakni sebanyak 25 ribu orang.
Disisi lain, data BPS menunjukkan terjadi peningkatan lebih dari tiga kali lipat pada volume arus migrasi yang masuk ke pulau Kalimantan, Sulawesi dan pulau lainnya selama lima dekade terakhir. Terjadi pola migrasi yang tidak lagi hanya berpusat pada pulau Jawa dan Sumatera yang mengindikasikan konvergensi wilayah antar pulau.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler


