Jumat, 15 Mei 2026

Risiko Terburuk Kebijakan Tarif Trump Picu Perang Terbuka di Sejumlah Kawasan

Penulis : Hendro Dahlan Situmorang
13 Apr 2025 | 13:21 WIB
BAGIKAN
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat membuka diskusi panel bertema
Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat membuka diskusi panel bertema

JAKARTA, investor.id - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute (TYI) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan skenario terburuk dari kebijakan ekstrem Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump adalah pecahnya perang terbuka di sejumlah kawasan.

AS menetapkan tarif 145% untuk semua produk dari China dan dibalas China dengan menerapkan tarif 125% untuk produk yang masuk ke negaranya. Aksi tersebut menciptakan ketegangan perdagangan dan konflik global yang sedang berlangsung saat ini.

Menurut AHY, polarisasi ini bisa memperparah konflik regional yang sudah ada, termasuk yang tengah terjadi di kawasan Asia Pasifik.

ADVERTISEMENT

“Dalam situasi ini, relasi internasional tidak lagi dibangun atas dasar kesetaraan dan rasa saling percaya, melainkan dominasi satu pihak atas yang lain," katanya saat membuka panel diskusi The Yudhoyono Institute bertema 'Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global' di Grand Sahid Jaya, Minggu (13/4/2025).

AHY menambahkan, selain itu bisa juga terjadi ketegangan pada berbagai konflik global, seperti perang Rusia-Ukraina, eskalasi krisis di Gaza dan Iran, serta konflik kering teritorial, Laut China Selatan, bisa menjadi jauh lebih berbahaya.

Menurut Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan itu, dunia, termasuk Indonesia, harus bersiap dengan skenario terburuk, yaitu pecahnya perang terbuka di sejumlah kawasan. 

"Saat kekuatan besar bertarung untuk dominasi, Indonesia harus bekerja keras untuk mempertahankan kedaulatannya, serta terus memperjuangkan masa depannya yang gemilang," urai dia.

Maka dari itu pentingnya menjaga aliansi ekonomi kawasan. ASEAN harus bersatu menyuarakan perdagangan yang adil dan terbuka. Jangan sampai terpecah oleh agenda masing-masing negara.

“Dalam dunia yang makin terfragmentasi, Indonesia tak boleh jadi penonton. Kita harus jadi pemain utama yang menawarkan solusi dan kolaborasi,” pungkas dia.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 42 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia