Kamis, 14 Mei 2026

Indonesia Tangkal Sengatan Dampak Tarif Trump, Ini Caranya

Penulis : Bambang Ismoyo
26 Apr 2025 | 15:56 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat konferensi pers secara daring dari AS, pada Jumat (25/4/2025). (Foto: Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat konferensi pers secara daring dari AS, pada Jumat (25/4/2025). (Foto: Kemenko Perekonomian)

JAKARTA, investor.id – Pemerintah Indonesia akan mengupayakan perluasan pasar ekspor dan kerja sama perdagangan dengan sejumlah negara. Hal ini dilakukan untuk menangkal dampak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah cara untuk meminimalisir dampak tersebut.

Ia menjelaskan, sejumlah wilayah yang akan dimaksimalkan untuk perluasan kerja sama seperti kawasan Eropa dan negara anggota BRICS yaitu Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (Afsel).

Untuk kawasan Eropa, Indonesia akan mengupayakan kerjasama melalui perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

ADVERTISEMENT

"Salah satunya kita akan melakukan kerjasama bilateral maupun multilateral, dengan kerjasama yang sudah ditandatangani maupun yang sedang dalam proses," papar Airlangga dalam konferensi pers secara daring, Jumat (25/4/2025).

Pemerintah Indonesia tengah melakukan percepatan penyelesaian IEU-CEPA. Uni Eropa merupakan mitra dagang dan investasi utama Indonesia yang juga membuka akses ke pasar global yang lebih luas.

"Antara lain Indonesia menargetkan IEU-CEPA dan sudah komunikasi, mereka sangat terbuka dan CEPA dapat diselesaikan," papar Airlangga.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan mendorong perluasan pasar ekspor produk-produk dari dalam negeri. Hal ini dilakukan di tengah adanya kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Amerika Serikat kepada sejumlah negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia.

Diketahui, dampak adanya kebijakan tersebut akan membuat permintaan ekspor sejumlah barang dari Indonesia akan menurun. Sehingga perlu adanya pasar alternatif agar kinerja ekspor Indonesia tetap mengalami kinerja yang positif.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengungkapkan, Pemerintah saat ini tengah fokus melakukan kerjasama dengan negara-negara mitra non-tradisional.

"Sebenarnya sebelum ada kebijakan tarif, kita sudah fokus untuk membuka pasar alternatif atau pasar non-tradisional. Sudah banyak pasar non-tradisional yang berhasil kita jajaki," ungkap Djatmiko di Kantor Kemendag, Jakarta, Senin (21/4/2025).

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 7 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 16 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 34 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 1 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia