Kebijakan Tarif Trump Ancam Produktivitas Susu Sapi Lokal
PROBOLINGGO, investor.id – Kebijakan terbaru dari mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai menunjukkan efek domino hingga ke sektor peternakan di Indonesia. Salah satu dampak paling nyata terlihat pada kenaikan harga bahan baku pakan ternak, terutama Distillers Dried Grains with Solubles atau DDGS yang merupakan produk impor dari Amerika.
Kenaikan harga DDGS kini mulai dirasakan oleh Koperasi Unit Desa (KUD) Argopuro di Dusun Timur, Desa Krucil, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Suloso, pengelola KUD Argopuro, mengatakan harga DDGS yang sebelumnya hanya Rp 5.000 per kilogram kini melonjak naik menjadi Rp 7.000 per kilogram. Kenaikan telah terjadi sebanyak tiga kali dalam dua bulan terakhir.
Baca juga: Demi Pertumbuhan Ekonomi, BI Harus Segera Turunkan Suku Bunga Acuan
“Bahan baku pakan ternak memang banyak yang diimpor, salah satunya DDGS. Kenaikannya luar biasa, terutama dari Amerika,” jelasnya, Senin (19/05/2025).
Sebagai informasi, KUD Argopuro membutuhkan sekitar 600 ton pakan setiap bulannya, di mana 20% di antaranya merupakan DDGS. Dengan naiknya harga pakan, otomatis biaya produksi susu menjadi lebih tinggi. Meski demikian, sejauh ini dampak terhadap ekspor atau penjualan susu belum terlalu terasa karena KUD Argopuro telah bekerja sama dengan industri pengolahan susu segar, salah satunya PT Nestlé.
Baca juga: Pakar UGM Sebut Nikel Jadi Senjata Tawar Ekspor Indonesia di Tengah Tarif Trump
"Sampai saat ini belum ada pembatasan kuota. Berapa pun yang kita produksi, masih tetap diterima," imbuhnya.
Namun, kondisi ini memaksa koperasi untuk melakukan efisiensi dengan memangkas biaya-biaya yang tidak terlalu penting. Langkah ini dilakukan demi menyiasati kenaikan harga bahan baku pakan, yang dikhawatirkan nantinya akan mulai membebani peternak.
“Kalau kita sudah tidak mampu menyiasati harga, tentu kita akan evaluasi. Karena ini koperasi milik bersama, harus kita pikirkan bersama pula,” tegasnya.
Baca juga: Tarif Trump Bagian dari Strategi Besar yang Sangat Mahal
KUD Argopuro sendiri saat ini menaungi sekitar 5.300 peternak dengan kapasitas produksi susu segar mencapai 27.000 liter per hari. Dari volume tersebut, omzet bulanan dari penjualan susu segar bisa mencapai Rp 6,5 miliar.
Mereka berharap pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, bisa segera mungkin turun tangan dengan membuat kebijakan yang berpihak pada peternak. “Mungkin bisa intervensi harga bahan baku pakan ternak. Kami berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap nasib peternak rakyat,” tandasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






