Dirut Pertamina Buka Dampak Ketidakpastian Ekonomi Global ke Bisnis
JAKARTA, investor.id – Direktur Utama (Dirut) PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri membeberkan sejumlah dampak ketidakpastian perekonomian global yang dirasakan oleh bisnis industri minyak dan gas (migas). Adapun fenomena tersebut telah terjadi sejak tahun sebelumnya, ditambah lagi saat ini terdapat perang dagang yang dipicu kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah negara mitra dagangnya.
Simon mengungkapkan, dampak pertama yang cukup dirasakan adalah turunnya harga minyak mentah dunia yang tentunya sangat dirasakan oleh Pertamina. Hal ini disebabkan sejumlah faktor, kata Simon.
Faktor utama berasal dari sentimen pengumuman kebijakan tarif yang diberlakukan Trump untuk negara-negara pengimpornya, jelas Simon, yang membuat para pelaku pasar masih memantau tensi perdagangan dunia. Faktor lainnya adalah dorongan sentimen negatif dari peningkatan produksi minyak oleh sejumlah negara.
Rata-rata harga minyak dunia saat ini jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, terlihat cukup berjarak, dari rata-rata yang sebelumnya US$ 75 per barel menjadi US$ 65 per barel saat ini.
"Hal ini antara lain disebabkan oleh adanya kondisi oversupply kapasitas dikarenakan banyak kilang baru yang juga membuat selisih harga minyak mentah dan produk kilang," ungkap Simon dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR-RI di Jakarta, dikutip Jumat (23/5/2025).
Dirinya melanjutkan, dampak lain dari adanya ketidakpastian perekonomian global adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Diketahui, rupiah saat ini terus mengalami tren pelemahan dan sempat menembus Rp 16.500 per dolar AS.
Hal ini tentunya memberikan dampak yang cukup signifikan, mengingat transaksi belanja perseroan menggunakan dolar AS. Diketahui, Pertamina hingga saat ini masih melakukan impor sejumlah komoditas migas untuk memenuhi kebutuhan nasional. "Di saat yang sama, adanya pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp 16.500 per dolar Amerika Serikat yang turut mempengaruhi pembayaran dalam transaksi global," beber Simon.
Terlepas dari adanya tantangan tersebut, Pertamina terus melakukan langkah dalam merespon dinamika. Simon menjelaskan, Pertamina berfokus pada peningkatan kapasitas domestik baik untuk produksi hulu maupun peningkatan serapan minyak dalam negeri serta menjaga keandalan operasional seluruh lini bisnis.
Langkah diversifikasi sumber dan jalur impor juga terus dilakukan untuk mitigasi resiko geopolitik di jalur distribusi, lanjut Simon. Saat ini, manajemen terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mendapat dukungan kebijakan dalam menjaga stabilitas suplai.
"Melalui berbagai upaya yang telah kami lakukan ini alhamdulillah Pertamina tetap mampu mempertahankan kinerja yang solid dan terus memberikan kontribusi optimal bagi negara," tandasnya.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

