BGN Akui Harga Ayam dan Telur Naik Imbas Serapan MBG yang Masif
JAKARTA, investor.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengakui adanya fenomena kenaikan harga ayam potong dan telur ayam, disebabkan oleh tingginya kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Maka dari itu, Dadan berharap para peternak ayam baru dapat segera bermunculan guna menutupi stok ketersediaan ayam ternak dan petelur.
Hal ini diungkapkan Kepala BGN saat memberikan sambutan via daring dalam acara gelaran diskusi Food Business Opportunity yang digelar oleh Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) di bilangan Jakarta Selatan, Selasa (7/10/2025).
"Sekarang harga ayam naik karena meningkat karena kebutuhan MBG, saya kira ini ada benarnya karena setiap kali masak ayam untuk 3.000 orang itu dibutuhkan 350 ayam," ungkap Dadan, dikutip Rabu (8/10/2025).
Dadan menuturkan, dalam sekali penyajian MBG satu harinya, jika satu ekor ayam disamakan beratnya sebesar satu kilogram (Kg), maka kebutuhan ayam untuk MBG bisa mencapai 350 ekor per harinya.
"Kalau 2 kali seminggu saja butuh 700 ayam, 1 bulan berarti kan 2.800 ayam," terang dia.
Tak hanya itu, Dadan mengungkapkan kebutuhan daging ayam beserta telur ini memang diakui meningkat. Serapan daging dan telur ayam, diakui Dadan, banyak dibutuhkan oleh setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang saat ini sudah beroperasi secara resmi sebanyak 10.681 di seluruh Indonesia.
"Kalau dikalikan nanti dengan sejumlah SPPG yang ada, saya kira kebutuhan ayam kita akan segera meningkat dan jika tidak diikuti dengan peternak-peternak baru, saya kira kita akan kekurangan pasokan ayam demikian juga dengan telur," bebrnya.
Sementara itu, menjelang pelaksanaan MBG yang telah berjalan hampir setahun, BGN mengungkapkan saat ini tengah mengalami tekanan di luar prakiraan terutama dalam ketersediaan pangan. Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan dalam diskusi yang sama.
Tigor yang hadir sebagai narasumber di acara tersebut, bahkan mengaku tidak bisa berlama-lama lantaran harus segera beranjak ke provinsi Nanggroe Aceh Darussalam guna memberikan sosialisasi tata kelola kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada disana.
"Kami semua tengah dalam under pressure, tekanan yang sangat di luar prakiraan ya. Dari Rp 1,1 miliar yang sudah dideliver, 9200 itu ada masalah dalam kesediaan pangan itu menjadi sangat tertekan," jelas Tigor.
BGN Berlakukan Aturan Tegas untuk SPPG
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






