Buntoro, Menjadi Pengusaha yang Manusiawi
Jika kebanyakan pengusaha berupaya mencari keuntungan sebesar-besarnya, bahkan mungkin dengan cara-cara yang kurang etis, tidak demikian dengan Buntoro.
Pengusaha nyentrik yang bercita-cita menjadi R1 (presiden) ini justru terobsesi ikut mendorong industrialisasi, membangun wirausaha, berbagi keuntungan dengan masyarakat dan karyawan, serta menularkan jiwa entrepreneurshipnya kepada orang lain.
“Kebetulan saya termasuk yang beruntung bisa mengembangkan sektor industri. Sayang kalau pengetahuan ini saya bawa mati. Jadi, saya bagikan saja perjalanan saya ini,” tutur Founder/Chief Executive Officer (CEO) PT Mega Andalan Kalasan (MAK) itu kepada wartawati Investor Daily Alina Musta’idah dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.
Jalan Buntoro menjadi pengusaha tidak lempang. Ia pun kerap jatuh-bangun. Tapi semua itu justru semakin memperkuat tekad dan langkahnya untuk menjadi pengusaha yang manusiawi.
Apa yang dimaksud dengan pengusaha manusiawi? Mengapa ia merasa terpanggil untuk ikut membangun industri nasional dan menggalakkan wirausaha? Berikut petikan lengkap wawancara dengan penggagum mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tersebut.
Bagaimana perjalanan bisnis Anda?
Saya mengawalinya dari usaha bumper mobil bersama lima rekan pada 1984 di Yogyakarta, dengan modal Rp 80 juta. Di luar kongsi itu, saya juga menjalankan bisnis sendiri sebagai pedagang alat laboratorium di Jakarta.
Dengan kesederhanaan, bisnis kami (bumper) disambut pasar. Bumper yang kami produksi selalu ludes diserap sejumlah perusahaan karoseri, mulai dari yang kecil hingga besar, seperti Adiputro dan New Armada. Kami bisa disebut merajai pasar bumper. Produksi bumper terus meningkat dan puncaknya pada 1986. Saat itu kami bisa memproduksi 2.000 unit bemper setiap bulan dan mempekerjakan 40 karyawan.
Di luar dugaan, pada 1987, agen tunggal pemegang merek (ATPM) otomotif seperti Astra International dan Indomobil mengealam luarkan mobil pressed body, konstruksi mobil yang terbangun lengkap dengan periferal seperti bumper yang langsung melekat. Akibatnya, pelaku industri karoseri gulung tikar. Hal itu tidak lepas dari struktur industri otomotif nasional yang sarat monopoli, sehingga ATPM yang diproteksi pemerintah bisa seenaknya memaksakan full pressed body.
Setelah perusahaan di ambang kehancuran, saya mengambil alih karena yakin perusahaan masih bisa dibenahi. Itu bukan hal mudah. Selain modal, pertanyaan terbesar saat itu adalah, mau berbinis apa? Bukankah bisnis inti kami, bumper, sudah hancur lebur? Akhirnya, demi menyelamatkan perusahaan, saya rela berjualan rak buku di trotoar di sekitar kampus di Yogyakarta. Kondisi perusahaan tidak juga membaik.
Saya memang sempat putus asa, bahkan sempat mau menjual perusahaan, yang penting dapat menyelesaikan kewajiban-kewajiban perusahaan. Beberapa orang sempat berkunjung ke Kalasan, namun mereka mundur.
Saat terpuruk, mata saya tertumbuk pada produk yang pernah saya produksi pada 1986 tapi tidak diseriusi karena asyik menggeluti bisnis bumper, yaitu peralatan rumah sakit (hospital equipment). Untuk bisa bersaing, saya merilis produk orsinal made in Kalasan pada 1989 yang kemudian dikenal sebagai classic bed.
Pada 1989, saya mulai merestrukturisasi utang, sehingga perlahan bisa dilunasi. Bisnis kami mulai menggeliat pada 1991. Produknya mulai menembus RS Husada, RS Manuela, dan memenangi tender untuk mengisi paviliun Kartika RSPAD. Saat ini kami telah memasok produk ke seluruh rumah sakit di Indonesia. Kami juga telah memiliki tiga pabrik dengan spesifikasi masing-masing. Pabrik I membuat komponen, pabrik II merakit hospital equipment, dan pabrik III untuk produk non hospital equipment.
Bisa diceritakan tentang Prambanan Techno Park (PTP)?
PTP adalah impian saya, yang akhirnya dibangun di lahan seluas 8 hektare (ha) pada 2001, 3 km dari pabrik MAK. Proyek itu menyedot dana awal Rp 1,4 miliar. Kawasan ini saya bangun berdasarkan visi saya tentang industri yang mandiri. Di tengah mainstream pikiran para pengusaha, yaitu transfer teknologi dari luar negeri. Sebetulnya ada tiga kekuatan yang harus saling bermitra harmonis jika ingin membangun industri yang kokoh dan berkelanjutan, yaitu industri, masyarakat, dan dunia pendidikan.
Dari pemikiran itu, PTP berupaya memadukan ketiga kekuatan tersebut. Di kawasan ini ada tiga pabrik yang memproduksi aneka barang, plastik, dan permesinan.
Modelnya seperti ini, operasional PTP mengandalkan suplai aneka komponen yang diproduksi oleh industri di sekitarnya. Dengan demikian, hal ini diharapkan dapat mencetak industrialis dan masyarakat industri.
Kenapa Anda mau berbagi?
Berdasarkan perkiraan makro ekonomi Indonesia sampai 2018, produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia diperkirakan di atas US$ 5.000, sehingga kita harus mengandalkan sektor-sektor yang medium income dan high profit. Jika hanya mengandalkan natural resources, incomenya di bawah US$ 5.000. Itu terbatas. Saya kasih contoh saja, kalau PDB per kapita sekarang US$ 3.000 dikali 250 juta (penduduk Indonesia) ada US$ 750 miliar. Sekarang berpikir yang gampang saja, untuk meningkatkan US$ 3.000 ke US$ 5.000 perlu US$ 2.000. Peningkatan PDB per kapita sebesar US$ 1.000 saja, dari 250 juta orang dapat mencapai US$ 25 miliar.
Kalau dari sawit, produktivitas sebagusbagusnya hanya menghasilkan US$ 2.000 per ha per tahun. Kalau nambah 1 juta ha baru dapat US$ 2 miliar. Kalau mau dapat US$ 12 miliar maka butuh 12,5 juta ha. Jadi tidak mungkin hanya andalkan sektor pertanian. Demikian juga batubara. Untuk mencapai US$ 5.000 mustahil Indonesia hanya mengandalkan sektor yang ada sekarang. Pemerintah sebenarnya sadar mengenai hal itu, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sektor yang bisa membawa ke US$ 5.000 diabaikan, yaitu industri.
Salah satu cara untuk mencapai sasaran itu, pemerintah harus mengundang investor asing. Tapi kendalanya banyak. Dari situ saja untuk mencapai PDB per kapita US$ 5.000 sangat tidak mudah. Kalau itu terjadi (PDB per kapita meningkat), daya beli masyarakat akan naik sehingga kita tidak perlu ekspor. Yang terjadi sekarang, kebutuhan masyarakat dipenuhi dari impor, mulai daging sapi sampai komputer.
Betapa sulitnya mengembangkan industri. Kesimpulannya sekarang, yang dilakukan pemerintah saat ini, produksi sebetulnya untuk masyarakat yang PDB per kapitanya kurang dari US$ 3.000. Contohnya sepatu, tekstil murah, mi instan, dan handphone (HP). Mobil masih made in Korea, Jepang, Tiongkok, dan sebagainya. Jangan melihat itu diproduksi di sini. Omzet mobil Toyota di Jepang hampir sama dengan di Indonesia, tapi di Jepang bisa membangun Toyota City. Sedangkan uang yang didapat di Indonesia dibawa ke sana. Ini bukan anti, tetapi dalam jangka panjang akan tidak bagus.
Kebetulan saya termasuk yang beruntung bisa mengembangkan sektor industri. Sayang kalau pengetahuan ini saya bawa mati, jadi saya bagikan perjalanan saya. Saya berharap ini dapat menginspirasi. Indonesia punya Nazaruddin, Akhmad Fathanah, dan Rudi Rubiandini. Amerika Serikat (AS) diinspirasi Bill Gates, Steve Jobs, dan lain-lain. Kalau yang menginsiprasi kita seperti mereka, jelas kita ingin jadi seperti apa.
Bagaimana gaya kepemimpinan Anda?
Sebagai pendiri dan pemimpin perusahaan, saya menjadi contoh bagi karyawan. Ada karyawan yang sudah bekerja selama 20 tahun. Mereka tahu persis perkembangan perusahaan dari kecil sampai besar. Kalau karyawan yang menilai itu tidak hipokrit. Saya lebih menekankan pada kesetaraan. Saya tidak pernah rewel, selama dia (karyawan) jujur ya tidak masalah. Selama perusahaan ini bisa memberikan penghasilan, kenapa harus cari perusahaan lain? Saya sebenarnya antara ada dan tiada. Saya jarang di kantor, tetapi bisa menampilkan sosok saya, sehingga semua akan bekerja dengan baik.
Apa yang menginspirasi Anda?
Seorang pemimpin yang hebat adalah yang mampu membantu karyawan yang ingin melihat what next. Perusahaan telah berkembang selama 23 tahun dan tidak pernah berhenti membangun. Saat ini total pabrik yang kami bangun mencapai 5 ha.
Filosofi hidup Anda?
Dapat berguna bagi orang lain. Ini bukan klise. Artinya saya punya uang berlimpah untuk membeli barang mewah. Tapi setiap saya mau beli barang mewah, saya teringat karyawan. Rumah saya di Cinere, ukuran dua kapling seluas 312 m2 dan modelnya standar. Tidak ada kolam renang dan garasi. Mobil saya satu dipakai istri. Saya pakai mobil kantor. Saya sebenarnya tidak sederhana juga, tapi ini sudah mencukupi. Bagi saya sudah excellent. Tidak usah neko-neko.
Anda sudah merasa sukses?
Saat ini saya sangat beruntung di atas impian saya yang paling liar sekalipun. Keinginan saya dulu sederhana saja, yaitu bisa pensiun saat berumur 40 tahun. Artinya, pensiun tanpa kerja sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Nyatanya saya gagal karena inflasi tinggi. Saya tidak ingin hidup karena dibutuhkan. Kalau saya matipun orang di sekeliling saya akan baik-baik saja. Saya cenderung mendorong orang yang bekerja di sini laku di perusahaan lain. Kalau orang lain membodohi karyawannya agar tidak pindah, saya bikin mereka pintar, sehingga laku di tempat lain. Toh saya bisa ambil fresh graduate. Mereka lebih pintar.
Visi dan misi Anda di perusahaan?
Kami (di perusahaan ini) mempunyai ideologi, visi, misi, dan kredo. Kalau melihat kredo, itu bukan orsinal dari saya. Itu saya kutip dari Johnson and Johnson, yaitu tanggung jawab pada konsumen yang mau membeli produk kita yang belum tentu bagus, tetapi masih mau membeli. Karena itu, kita bisa terus memperbaiki kualitasnya. Kalau produk kita tidak ada yang mau membeli, bagaimana mau memperbaikinya? Misalnya, kamu memproduksi baju tetapi tidak menjualnya, bagaimana mungkin kamu bisa mengembangkannya?
Karyawan sangat hormat kepada Anda. Apa yang Anda lakukan?
Mereka mendukung perusahaan dari hari ke hari, sehingga kami bisa melakukan perbaikan dan pengembangan. Tanggung jawab kami adalah kepada masyarakat. Saya bisa membantu di Kecamatan Kalasan dan Prambanan. Kalau berkembang, perusahaan ini akan menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Sleman, Yogyakarta, dan selanjutnya Indonesia.
Tanggung jawab ada pada diri saya. Ini skala prioritas yang diterapkan secara konsisten. Kalau kita melakukan corporate social responsibility (CSR), tapi karyawan hanya digaji dengan standar upah minimum regional (UMR), ya tidak logis. Harusnya, kita penuhi dulu kebutuhan sosial karyawan, baru kita maju ke CSR. Dengan kerja keras, kapasitas produksi dapat ditingkatkan sehingga dapat menyerap lapangan kerja. Itu bisa mendorong karyawan berperan sosial.
Kekurangan CSR saat ini adalah tidak dipikirkan tanggung jawab sosial yang sustainable Misalnya, bisa tidak disediakan tempat latihan kerja. Saat ini saya mempunyai sentra pengembangan industri kecil di Kalasan. Di situ mereka bisa kerja apa saja, seperti mengelas, memotong baja, atau kerja apa saja. Saya berusaha mendorong kreativitas mereka karena upahnya borongan sesuai hasil kerja. Yang bisa kerja lebih banyak, maka upahnya akan lebih banyak lagi.
Yang paling bertanggung jawab terhadap produktivitas adalah pengusaha. Kalau pengusaha bilang produktivitas buruh rendah, itu gila. Misalnya, kalau produksi memakai tangan akan menghasilkan 100, tapi kalau pakai mesin bisa 1.000. Kalau bilang produktivitas rendah, ukurannya apa?
Cita-cita Anda yang belum tercapai?
Saya ingin jadi R1. Banyak sekali yang ingin saya lakukan. Saya punya kemampuan untuk itu. Saya sudah belajar sejak 10 tahun lalu. Kalau saya baik, saya akan diangkat menjadi presiden oleh masyarakat. Jadi, R1 bukan berarti harus ikut partai politik. Saya pernah menjadi anggota dewan syuro PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) pada 2006-2008.
Tuhan telah memberikan sesuatu yang ada maknanya. Untuk mengetahuinya, kita harus mengerti bahasa Tuhan. Kalau ingin meningkatkan ekonomi, harus memahami sumber pertumbuhan ekonomi itu. Yang saya bagi di Kalasan itu ekosistem industri. Kalau ini berhasil dan dapat dilakukan di daerah lain, 500 kabupaten di Indonesia bisa hebat. Cita-cita saya banyak, tapi harus ukur kemampuan diri kita. Harapan saya, semoga apa yang saya lakukan bisa menjadi jawaban bagi kebutuhan orang lain. Di Indonesia, banyak orang yang ngomongnya bagus, tapi dalam pelaksanaannya tidak. Niat baik semoga menghasilkan yang baik dan kondisi yang baik.
Cara Anda memecahkan masalah?
Cara saya memecahkan masalah hampir sama dengan Gus Dur. Saya sebenarnya bukan pengusaha, saya suka baca novel, hal-hal yang indah, dolan. Memecahkan masalah itu cara Tuhan untuk menunjukkan jalan yang lurus.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now

