Sabtu, 4 April 2026

Sekolah Swasta dan Kesan Mahal

Penulis : Oleh Paulus Mujiran
29 Jan 2017 | 19:01 WIB
BAGIKAN

Meski tahun ajaran baru masih 6 bulan ke depan, sekolah swasta sudah berlomba-lomba mendapatkan calon siswa baru. Mereka star t lebih dahulu untuk mendapatkan calon siswa baru yang berkualitas baik dari sisi akademik maupun finansial. Genderang perang antarsekolah swasta pun dimulai dengan menampilkan keunggulan dan kekurangan. Sekolah swasta memang lebih beruntung karena mempunyai kesempatan lebih awal melakukan seleksi calon siswa baru.

 

Advertisement

Tujuannya jelas, mereka dapat merekut siswa berprestasi di jenjang sebelumnya sehingga dapat mempertahankan predikat sebagai sekolah favorit sekaligus mencari sumber pemasukan dana guna mendukung kelangsungan sekolah. Celakanya, persaingan itu menjurus kepada hal-hal yang kurang sehat seperti mendiskreditkan sekolah swasta lain. Isu agama menjadi jurus paling empuk untuk menyudutkan sekolah swasta lain.

 

Berbagai jurus pun mereka gunakan untuk mendapatkan calon siswa unggulan. Ada jalur lomba yakni siswa/I pintar dari jenjang sebelumnya diundang untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh sekolah. Mereka diadu dengan soal-soal yang disediakan oleh sekolah. Biasanya mempergunakan event dies natalis atau ulang tahun sekolah. Peserta lomba yang nilainya bagus langsung diterima. Ada pula jalur prestasi. Anak-anak jenjang sekolah sebelumnya diseleksi berdasarkan nilai rata-rata raport kelas dua atau tiga tahun terakhir. Mereka yang memenuhi kriteria akan diterima.

 

Ada pula jalur test yang mempersyaratkan nilai tertentu untuk dapat diterima. Dengan aneka seleksi itu tidak mengherankan meski belum ujian akhir dan siswa belum dinyatakan lulus sudah banyak yang mendapat sekolah lanjutan. Tentu ini sangat menolong karena ketika anak-anak lain masih bingung mencari sekolah, mereka yang diterima di sekolah swasta tinggal masuk dan belajar.

 

Aneka seleksi yang dilakukan sekolah swasta sering dikritik hanya “akalakalan” belaka untuk mendapatkan siswa pintar dan berkantong tebal. Karena sudah diterima, para calon siswa baru juga diberitahu besaran uang gedung dan SPP yang harus dibayarkan. Terhadap sikap sekolah swasta semacam ini orang tua dihadapkan pada pilihan yang amat sulit. Keinginan anak untuk bersekolah swasta favorit dibayar dengan sangat mahal karena uang gedung harus lunas sebelum tahun ajaran baru.

 

Tidak ada yang salah dengan penerimaan calon siswa baru semacam itu. Hampir semua sekolah swasta melakukan cara-cara serupa, Pertama, calon siswa baru berada dalam jebakan. Ketika memutuskan mengikuti seleksi di sekolah swasta mengandaikan calon siswa bersangkutan sudah mantap dengan pilihan untuk bersekolah di tempat itu. Keharusan membayar uang gedung yang tidak dapat ditarik kembali andai berubah pikiran bisa merepotkan di kemudian hari.

 

Kedua, yang kerap absen dari penarikan sumbangan dari orang tua ialah transparansi penggunaan anggaran. Sekolah swasta menarik puluhan juta dari calon siswa baru namun penggunaan dana-dana itu sering dikelola

secara kurang transparan. Sangat jarang sekolah swasta mempublikasikan dana yang diterima secara terbuka untuk diakses oleh publik. Hal ini disebabkan kurangnya komitmen penyelenggara sekolah swasta agar dana-dana yang diterima dapat diketahui dan diakses oleh masyarakat.

 

Padahal, sebagai lembaga pendidikan yang berasal dari masyarakat, publik berhak tahu dana-dana yang diterima dan dikelola. Mereka bertindak sebagai badan hukum yang mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Hal ini untuk menghindari persepsi keliru masyarakat bahwa dana yang dikumpulkan benar-benar dipergunakan untuk kepentingan kemajuan pendidikan, bukan untuk memperkaya diri pengelola/ yayasan. Publikasi dana yang diterima akan menepis kecurigaan dari masyarakat terkait penggunaan dana.

 

Ketiga, sampai hari ini sekolah swasta lekat dengan citra mahal, sekolahnya kaum berduit, dan hanya orang kaya yang dapat sekolah di dalamnya. Hal ini sangat beralasan karena beberapa sekolah swasta menerima calon siswa baru bukan berdasarkan pertimbangan akademik, melainkan berapa uang yang hendak disetor. Bahkan ada sekolah yang menolak calon siswa baru hanya karena tidak mampu membayar sejumlah yang diminta oleh sekolah. Tentu ini sangat memprihatinkan. Keempat, mirisnya dalam penarikan uang gedung dan SPP dilakukan oleh komite sekolah.

 

Suasana wawancara untuk menarik sumbangan, mirip ajang balas dendam para anggota komite. Hal ini kerap tidak manusiawi karena para calon orang tua seperti digencet dengan kehendak para komite. Karena mereka dahulu ditarik mahal maka sekarang gantian mereka menarik mahal kepada para orang tua calon siswa baru. Kepala sekolah dan penyelenggara sekolah kerap berlindung di balik “galaknya” para anggota komite memungut sumbangan.

 

Citra mahal sekolah swasta harus ditepis. Sebagai sekolah yang lahir dari rahimnya masyarakat dan tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah, wajar manakala menerima sumbangan dari masyarakat. Yang menjadi masalah ketika kemudian menjadikan pendidikan yang tujuannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa berubah menjadi komersialisasi pendidikan yang ujung-ujungnya mencari keuntungan. Sekolah semata-mata didirikan untuk mencari keuntungan dan menafikan peran sertanya dalam mencerdaskan anak-anak bangsa.

 

Beruntung saat ini sekolah swasta masih dipercaya orang tua untuk mendidik anak-anak meski harus membayar mahal. Tetapi bukan tidak mungkin di era sekolah murah karena subsidi pemerintah yang kian besar, sekolah swasta benar-benar kelimpungan untuk mendapatkan calon siswa baru. Sudah banyak terjadi sekolah swasta yang tidak mampu mempertahankan keunggulan yang sudah banyak ditinggalkan dan gulung tikar. Saat ini hanya sekolah swasta yang benar-benar unggul yang dibanjiri peminat.

 

Citra mahal yang melekat pada sekolah swasta harus tetap dibarengi dengan komitmen menjadi bagian dari masyarakat terutama mereka yang termarginalkan. Tujuan utama mendidik tetaplah harus dikedepankan. Lagipula, sekolah swasta favorit mampu bertahan karena calon siswa baru yang diterima sudah pintar dari sekolah sebelumnya. Mereka anak-anak unggulan dan berprestasi. Dengan sedikit polesan mereka sudah berkembang. Ketika komitmen itu dibangun, bukan hanya berpihak pada kepentingan masyarakat tetapi juga mau melayani mereka yang kurang beruntung dan terpinggirkan.

 

Paulus Mujiran, Pengamat sosial, tinggal di Semarang

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Business 48 detik yang lalu

Operator Transportasi Antisipasi Libur Panjang Paskah

Sejumlah operator transportasi mengantisipasi lonjakan mobilitas masyarakat pada libur panjang Hari Raya Paskah 2026.
International 4 menit yang lalu

12 RT dan 4 Ruas Jalan di Jakbar Terendam Banjir

Banjir rendam 12 RT di Jakarta Barat akibat luapan Kali Angke dan Pesanggrahan. BPBD DKI siagakan personel untuk penyedotan genangan air.
Market 13 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Sabtu 4 April 2026: Kokoh

​​​​​​​Harga emas Antam (ANTM) terpantau kokoh pada hari ini, sabtu (4/4/2026). Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 17 menit yang lalu

Masuk Saham Terkonsentrasi Tinggi, Laba Samator (AGII) Merosot

Laba bersih Samator Indo Gas (AGII) merosot 44,37% pada 2025, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
International 25 menit yang lalu

Kadin: Perang Lumpuhkan Ekonomi Timur Tengah, Biaya Kirim Melonjak 3 Kali

Kadin ungkap dampak perang Iran-AS: Biaya logistik naik 3 kali lipat & pengiriman barang molor hingga 2 bulan. Cek dampaknya bagi Indonesia.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia