Jumat, 15 Mei 2026

Prospek dan Tantangan Perekonomian Global 2023

Penulis : Ryan Kiryanto *)
10 Jan 2023 | 18:19 WIB
BAGIKAN
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST
Ekonom Ryan Kiryanto. Foto: IST

Prospek perekonomian global 2023 diramalkan bergerak ke arah stagflasi, yakni perekonomian yang stagnan dibarengi inflasi tinggi. Invasi militer Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 telah mengganggu rantai pasokan global yang mendorong kenaikan harga di sektor energi dan pangan secara ekstrim.

Itulah yang menjadi faktor utama lonjakan inflasi global yang mendorong bank-bank sentral serempak menaikkan suku bunga acuan secara agresif untuk meredamnya. Tak heran jika sentimen negatif terhadap prospek ekonomi global terus mengemuka, yang membuat para pengambil kebijakan dan pucuk pimpinan dunia usaha di muka bumi terus gelisah.

Mereka melihat konflik geopolitik dan inflasi sebagai ancaman ekonomi utama yang paling mendesak selama setahun ke depan, bahkan ke tahun depannya lagi.

Di Eropa, risiko dari harga energi yang fluktuatif telah nyata, menyusul risiko inflasi dan ketidakstabilan geopolitik. Krisis energi telah mendorong inflasi melonjak hingga tembus 10% yang memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuan (kini di level 2,5%), diikuti bank sentral Inggris (kini di level 3,5%), untuk segera melandaikan inflasi. ECB diperkirakan akan mengerek suku bunga ke level puncak sebesar 3% pada Mei 2023.

ADVERTISEMENT

Bayang-bayang resesi ekonomi di Eropa tercermin dari memburuknya perekonomian Jerman dan Inggris. Kenaikan luar biasa harga gas sebagai sumber energi utama telah memiskinkan banyak warga Jerman dan Inggris sehingga menggerus tingkat konsumsi. Pada gilirannya, hal ini menekan pertumbuhan ekonomi. Di Jerman, produk domestik bruto (PDB) 2023 bakal menyusut menjadi sebesar 1%.

Dengan kenaikan suku bunga acuan yang agresif, inflasi memang melandai. Namun, langkah ini dilematis, karena daya dorong ke pertumbuhan ekonomi pupus seiring erosi daya beli masyarakat pada 2023 dan 2024. Tapi, itulah pilihan kebijakan yang ada di tengah berkecamuknya perang di Ukraina.

Di AS, pertumbuhan ekonomi sudah melambat sebagai akibat dari pengetatan kebijakan The Fed, yang pada akhirnya diperkirakan akan memicu “resesi ulangan” mulai kuartal II-2023. Pada saat itu PDB diramalkan minus 1,1% dengan tingkat pengangguran 5,5% pada kuartal I-2024.

Sebagai catatan, AS sempat mengalami resesi pada semester I-2022, kemudian tumbuh positif pada kuartal III-2022. Namun, agresivitas bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan (Fed fund rate/FFR) membuat resesi terulang lagi pada kuartal II-2023, sebagai upaya mengarahkan inflasi ke target 2% pada 2025. Sebuah long journey of recovery yang harus ditempuh dengan yakin dan teguh.

Di Asia-Pasifik, risiko kenaikan suku bunga acuan lebih dikhawatirkan karena efeknya menekan potensi pertumbuhan ekonomi secara nyata. Di kawasan ini, Tiongkok tetap menjadi outlier, sebagai satu-satunya negara yang memandang pandemi Covid-19 sebagai risiko dominan.

Perbaikan ekonomi Tiongkok akan menjadi salah satu kunci utama pemulihan ekonomi global tahun 2023. Namun, perlu dicermati adanya perubahan arah kebijakan ekonomi negara ini yang cukup ekstrim.

Model pertumbuhan Tiongkok bergerak dari sebelumnya yang sangat bergantung pada sektor properti, realestat dan infrastruktur, ke model pertumbuhan berbasis ekonomi digital dan hijau yang memainkan peran lebih besar.

Paralel dengan itu, melemahnya permintaan global karena efek perang di Ukraina yang menyebabkan perlambatan ekspor secara cepat juga mengubah orientasi pasar Tiongkok ke pasar domestik untuk menjaga momentum pertumbuhan. Dengan pelonggaran penguncian, konsumsi domestik akan berperan signifikan untuk pemulihan ekonomi Tiongkok secara berkelanjutan mulai 2023 nanti, di mana penjualan ritel diperkirakan tumbuh 6,8% dengan PDB nasional tumbuh 4,8%. Bahkan jika pengendalian Covid-19 bisa cepat tuntas, ekonomi Tiongkok punya potensi tumbuh 5,2%.

Kilas Balik 2022

Hingga akhir 2022, pemulihan ekonomi global diyakini belum mampu kembali ke periode pra pendemi. Ini semua karena efek pengetatan kebijakan protokol kesehatan, fiskal, moneter, dan keuangan yang bersumbu pada perang Rusia-Ukraina. Alhasil, outlook pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan anjlok ke level 1,8% pada 2023.

Pertumbuhan PDB untuk Asia (tidak termasuk Jepang) akan melambat menjadi 3,1% pada 2023, turun dari 4,0% pada 2022. Pertumbuhan ekspor Asia yang kian menurun karena pelemahan ekonomi menyebar dari Tiongkok ke AS dan Eropa. Kondisi keuangan yang ketat, permintaan yang lemah dan ketidakpastian akan menunda rencana belanja modal. Namun, begitu penguncian di Tiongkok dicabut, lalu AS dan Eropa mulai bangkit pada awal 2024, Asia diperkirakan akan menarik arus masuk modal besar, berkat prospek pertumbuhan ekonomi yang baik dan fundamental lebih kuat.

Pemulihan ekonomi Tiongkok dapat menopang prospek ekonomi Asia Utara seperti Hong Kong dan Korea Selatan yang lebih terkait erat dengan Tiongkok. Lalu Indonesia, Vietnam dan Filipina akan menjadi “penerang” Asia Tenggara. Potensi pertumbuhan ekonomi tahunan pascapandemi untuk masing-masing negara tadi yang memiliki populasi lebih muda diperkirakan di atas 5% di 2023 dan 2024. Sementara untuk pertumbuhan PDB Asia di 2024 diproyeksikan 4,3%.

Ekonomi Asia Tenggara diuntungkan situasi pelik relasi AS-Tiongkok, yang mendorong kedua negara adidaya ekonomi itu untuk berinvestasi dan memperdalam hubungan di kawasan ini. Indonesia, Vietnam, dan Filipina, yang semuanya memiliki populasi muda yang tumbuh relatif cepat, memiliki potensi pertumbuhan berkisar 5,0-6,0% pada 2023 dan 2024.

Hanya saja, potensi pertumbuhan ekonomi di Asia bergantung pada pelandaian inflasinya, yang diperkirakan terjadi pada kuartal II-2023. Setelahnya, arah inflasi akan menuju sasaran di setiap negara sehingga bank-bank sentral memiliki ruang untuk secara hati-hati dan terukur menurunkan suku bunga acuannya. Inilah yang mendasari pemulihan ekonomi Asia dipersepsikan lebih cepat dibandingkan di AS dan Eropa yang akar masalahnya lebih kompleks dan rumit.

Catatan Penutup

Memasuki 2023, muncul harapan adanya dua game changer yang akan mendorong pemulihan ekonomi global menyerupai periode pra pandemi sebelum 2020. Game changer yang pertama adalah pengendalian Covid-19 di seluruh dunia tuntas, termasuk di Tiongkok, sehingga mobilitas orang, barang dan jasa antarbenua menjadi lancar dan efisien lagi karena hilangnya disrupsi rantai pasokan global.

Game changer kedua adalah tercapainya rekonsiliasi perang atau perdamaian antara Rusia dan Ukraina, setidaknya melalui mekanisme gencatan senjata. Perang membuat distorsi ekonomi secara meluas, khususnya di kawasan Eropa, karena menyeret kepentingan strategis setiap negara. Pasokan gas dari Rusia yang menjadi tumpuan negara-negara Eropa harus kembali pulih supaya pemulihan ekonomi global berada di jalur yang benar.

Untuk Indonesia, memasuki 2023 dengan penuh optimisme disertai kewaspadaan tinggi merupakan sikap yang baik, benar dan bertanggungjawab.

Syaratnya adalah terjadi aksi damai di antara negara-negara yang bersengketa baik melalui perundingan internasional yang difasilitasi pihak netral atau atas kesadaran sendiri dari kedua negara untuk melakukan gencatan senjata. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) harus mampu menunjukkan peran vitalnya sebagai “juru damai” atau “penengah” di antara negara yang berperang.

Jika perang berlarut-larut, skenario optimis bahwa pemulihan ekonomi global yang lebih kuat akan terjadi di 2023 atau setidaknya 2024 hanya menjadi harapan kosong belaka. Yang terjadi bukan pemulihan atau kebangkitan ekonomi global, melainkan stagflasi (ekonomi stagnan dengan inflasi tinggi) atau reflasi (resesi ekonomi disertai inflasi tinggi). Tanda-tandanya adalah pertumbuhan ekonomi melemah, laju inflasi yang tinggi di atas normal, kenaikan suku bunga acuan yang lebih lama, penguatan dolar AS yang di luar kelaziman, dan adanya fenomena cash is king lantaran masyarakat pemilik dana cenderung memilih menarik dana investasinya untuk diuangkan.

Terlepas dari bagaimana akhir dari perang di Ukraina, terdapat seberkas sinar harapan untuk outlook perekonomian global di 2023 nanti, yaitu pemulihan ekonomi AS dan Tiongkok ssecara beriringan didukung oleh kebangkitan ekonomi Asia (dengan tulang punggungnya India dan negara-negara Timur Tengah sebagai produsen dan eksportir minyak dunia) serta kekuatan ekonomi Asia Tenggara (khususnya Indonesia, Vietnam dan Filipina dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan di atas 5% lantaran kuatnya konsumsi domestik dengan populasi usia mudanya).

Untuk Indonesia, memasuki 2023 dengan penuh optimisme disertai kewaspadaan tinggi merupakan sikap yang baik, benar dan bertanggungjawab. Kekuatan konsumsi domestik didukung investasi langsung yang meningkat serta konsumsi pemerintah yang berperan strategis sebagai “shockbreaker” perekonomian akan menopang ketahanan ekonomi. Syukur-syukur kalau ekspor masih tetap tumbuh positif meskipun mungkin tidak setinggi di 2021 dan 2022, tentu akan lebih baik lagi. Alhasil, perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2023 sebesar 4,8-5,3% cukup wajar dan logis, melanjutkan capaian tahun ini yang berkisar 5,2-5,3%. ***

*) Ekonom, Dewan Pakar Institute of Social, Economic and Digital/ISED, dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia/LPPI).

Editor: Totok Subagyo

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 46 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 48 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia