ASEAN: Epicentrum Pertumbuhan
Oleh: Iman Pambagyo*
Tanpa disadari, dua bulan sudah Indonesia memegang peran sebagai ketua ASEAN tahun 2023 ini. Beberapa pertemuan ASEAN tingkat pejabat senior dan tingkat Menteri sudah pula digelar di beberapa kota di Indonesia. Berbagai langkah mulai dijalankan agar tahun ini ASEAN dapat meraih kembali peran sentralnya sebagai epicentrum pertumbuhan dalam pemulihan ekonomi kawasan dan dunia.
Mungkin banyak yang pesimis melihat prospek ekonomi dunia ke depan, termasuk prospek ASEAN sendiri. Dunia belum pulih setelah terjangkit Covid-19, sementara perang antara Ukraina dan Rusia pun tidak kunjung berkesudahan tetapi justru melebar dengan merebaknya skandal peledakan jalur pipa Nord Stream tahun lalu. Di tengah carut-marut dunia saat ini, ASEAN masih memiliki potensi untuk memainkan peranannya mendorong kembali pertumbuhan ekonomi dunia dengan memperkuat diri sebagai pusat pertumbuhan regional. Hal ini bukan sesuatu yang musykil diwujudkan.
Pada tahun 2021, ASEAN mempertahankan posisinya sebagai ekonomi kelima terbesar di dunia dengan total Produk Domestik Bruto atau PDB sepuluh anggotanya mencapai $ 3,3 triliun. Hanya AS ($ 23 triliun), China ($ 17,7 triliun, Jepang ($ 4,9 triliun) dan Jerman ($ 4,2 triliun) yang mencatatkan PDB lebih besar dari ASEAN. Dengan angka itu, pangsa PDB ASEAN mewakili sekitar 3,5% dari PDB dunia pada tahun 2020 dan 2021, atau sedikit menurun dari tahun 2019 yang tercatat 3,6%.
Pertumbuhan positif PDB 3,4% di tahun 2021 menunjukkan bahwa ekonomi ASEAN mengalami rebound setelah pada tahun 2020 mengalami kontraksi 3,2%. PDB nyata ASEAN juga mencatatkan tren positif dalam periode 2005-2021, kecuali di tahun 2008-2009 karena krisis ekonomi global dan di tahun 2020 karena meluasnya pandemic Covid-19. Total PDB ASEAN tahun 2021 pada current price mengalami peningkatan lima kali dari posisinya di tahun 2005 yakni sebesar $ 0.9 triliun, sementara PDB per kapita juga mengalami peningkatan dari $ 1.706,5 di tahun 2005 menjadi $5.024,2 di tahun 2021.
Di antara sepuluh negara anggota, Indonesia berkontribusi 35,4% terhadap PDB ASEAN, disusul Thailand (15,1%), serta Philippines dan Singapore (masing-masing 11,8%). Di tahun 2021, Singapore, Philippines dan Indonesia mencatatkan pertumbuhan PDB tertinggi di antara negara ASEAN, masing-masing 7,6%, 5,6% dan 3,7%. Hal ini dicapai setelah pada tahun 2020 ketiganya mengalami kontraksi pertumbuhan masing-masing 4,1%, 9,6% dan 2,1%.
Lalu bagaimana ASEAN dapat memposisikan diri sebagai epicentrum pertumbuhan ekonomi? Meningkatnya benturan kepentingan keamanan dan geo-politik antar negara besar dipercaya oleh banyak pengamat antara lain dari Council on Foreign Relations, McKinsey & Co., Boston Consulting Group, dan Hinrich Foundation akan terus mengubah pola atau arus perdagangan dunia. Perdagangan antara Rusia dan Uni Eropa, misalnya, dipastikan akan terus menurun dan Rusia akan lebih banyak berdagang dengan kawasan lain tapi terutama dengan China dan India. Demikian pula perdagangan antara China dan AS, diyakini akan terus menurun terutama yang bersifat perdagangan langsung.
Perdagangan antara China dan Uni Eropa diperkirakan akan tetap positif tetapi dengan pertumbuhan yang lebih lemah dari rata-rata pertumbuhan perdagangan dunia. Perusahaan-perusahaan Uni Eropa, AS dan China akan terus merangkai-ulang ketahanan matarantai pasok mereka dengan mendiversifikasi sumber input untuk proses produksi maupun pasar untuk output mereka sebagai jawaban atas ketidakpastian yang dihadapi selama dua tahun terakhir ini, serta antipasinya ke depan.
Setidaknya secara teoritis, perkembangan di atas akan menggeser pusat pertumbuhan perdagangan dunia ke India, Mexico dan ASEAN bersamaan dengan semakin meluasnya pendekatan near-shoring atau friend-shoring, yaitu mencari mitra bisnis yang dekat secara geografis atau dari negara-negara sepaham dari aspek keamanan dan kepentingan geo-politik.
Dalam konteks ini, ASEAN dapat menjadi pihak yang paling menikmati peningkatan perdagangan dengan China, Uni Eropa, AS, Jepang, Australia dan lainnya sepanjang ASEAN dapat menunjukkan netralitas dalam persaingan geo-politik negara-negara maju. Hal ini ditopang oleh biaya berbisnis yang masih rendah di ASEAN dan meningkat serta semakin dalamnya kemampuan manufakturing khususnya di Indonesia, Malaysia, Thailand dan Vietnam.
Selaku ketua ASEAN tahun ini, dan sebagai critical mass di ASEAN, Indonesia harus dapat memanfaatkan peluang untuk menjadikan ASEAN sebagai pusat pertumbuhan setidaknya di Asia Timur. Perlu peran konkrit dari kementerian dan lembaga bidang ekonomi, terutama Kementerian Perdagangan melalui Menteri dan Pejabat Eselon 1, untuk know the way, go the way, and show the way sebagai pilot dan co-pilot perjalanan ekonomi, perdagangan dan investasi ASEAN tahun ini dan selanjutnya.
*) Dirjen Perundingan Perdagangan Internasional-Kemendag 2012-2014 dan 2016-2020; Duta Besar RI untuk WTO 2014-2015; Anggota Dewan Redaksi B-Universe Media Holding; dan Principal pada Trade Advisory-Bahar Consulting
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






