Prospek IHSG di Tahun Kuda Api
JAKARTA, investor.id - Memasuki 2026 yang dalam tradisi Tionghoa dikenal sebagai Tahun Kuda Api, prospek pasar modal Indonesia dinilai penuh peluang namun tetap menuntut kedisiplinan tinggi dari investor. Karakter Kuda Api yang agresif namun membutuhkan kendali dianggap relevan dengan dinamika pasar tahun ini.
Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head BRI Danareksa Sekuritas Helmy Kristanto menyebut 2026 sebagai “tahun transformasi”, seiring implementasi sejumlah aturan dan perubahan kebijakan yang mulai berdampak nyata pada pasar keuangan.
“Tahun lalu bukan tahun yang mudah. Sejak 2022, faktor geopolitik menjadi dominan dan membuat pasar naik-turun tajam,” ujarnya dalam BRIDS Market Outlook 2026 – Strategi Kuda Api akhir pekan lalu.
Helmy menjelaskan terdapat dua tema global utama yang membayangi pasar sepanjang tahun ini: ketidakpastian geopolitik serta eskalasi perang tarif yang diinisiasi Presiden Donald Trump. “Dua hal itu tampaknya sulit hilang dalam waktu dekat,” katanya.
Meski begitu, revisi positif atas proyeksi pertumbuhan global mulai muncul, meskipun belum signifikan. Ia menilai kondisi 2026 menjadi titik ketika dampak kebijakan ekonomi—baik fiskal maupun moneter—mulai terlihat dalam aktivitas riil.
“Daya beli mulai membaik, likuiditas longgar, dan aktivitas usaha meningkat. Biasanya kondisi seperti ini diikuti penguatan pasar modal. Investor yang disiplin berpeluang menangkap pertumbuhan tersebut,” kata Helmy.
Menurut BRIDS, momentum suku bunga global yang lebih stabil dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif menjadikan instrumen fixed income sebagai penyeimbang portofolio yang tetap menarik. Sementara itu, perbaikan fundamental emiten membuka ruang pertumbuhan bagi pasar saham.
BRIDS memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1–5,3% pada 2026, ditopang konsumsi, investasi, serta likuiditas sektor keuangan. Optimisme publik tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen yang naik ke 127—tertinggi dalam setahun. Adapun pertumbuhan M2 sebesar 9,6% dan ekspansi kredit memperkuat prospek ekonomi domestik.
Di sisi eksternal, potensi pelonggaran suku bunga global menjadi peluang bagi arus modal masuk ke emerging markets, termasuk Indonesia, selama stabilitas ekonomi nasional terjaga.
Secara terpisah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menegaskan pergerakan IHSG pada 18–20 Februari 2026 akan dipengaruhi sentimen fundamental dari rilis laporan keuangan tahunan 2025.
“Secara umum, kinerja 2025 memberikan katalis positif bagi emiten dengan pertumbuhan laba solid dan margin yang terjaga,” ujarnya.
Selain itu, arah suku bunga akan menggerakkan sektor perbankan dan properti, sementara reformasi pasar oleh Bursa Efek Indonesia dinilai konstruktif dalam memperkuat kepercayaan investor jangka menengah.
Sektor-sektor Potensial
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






