Ada yang Aneh di Saham BUMI
JAKARTA, investor.id - Ada yang tak biasa alias aneh di saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pasalnya, saham emiten Grup Bakrie dan Salim ini tiba-tiba membukukan net buy asing pada perdagangan Kamis (19/2/2026) kemarin, meskipun tipis Rp 93,21 miliar.
Sebelumnya, sejak 9 Februari sampai dengan 18 Februari, saham BUMI selalu mencatatkan net sell asing dengan total Rp 2,68 triliun. Di mana broker CGS International Sekuritas paling getol mencetak net sell asing di saham BUMI mencapai Rp 1,4 triliun dalam periode tersebut.
Tapi pada perdagangan 19 Februari, CGS International malah membukukan net buy untuk investor asing Rp 5,8 miliar. Adapun asing paling banyak belanja saham BUMI kemarin melalui broker UBS Sekuritas dengan net buy Rp 115 miliar.
Baca Juga:
Gara-gara Ini Saham BUMI NgacirSedangkan broker Semesta Indovest dan Verdhana Sekuritas mencatatkan net buy di saham BUMI untuk investor domestik masing-masing Rp 268,9 miliar dan Rp 109 miliar.
Solidnya belanja yang dilakukan investor domestik dan asing kemarin di saham BUMI membuat harganya loncat 5,63% ke Rp 300. Sebanyak 9,63 miliar saham BUMI diperdagangkan, frekuensi 178.253 kali, dan nilai transaksi Rp 2,88 triliun.
Sebelumnya, banyak pelaku pasar modal menilai laju saham BUMI tertekan karena aksi jual yang dilakukan oleh China Investment Corporation (CIC) melalui Chengdong Investment Corporaton. Per akhir Januari 2026, kepemilikan Chengdong tinggal 2,81%, dari sebelumnya 5,76% pada Desember 2025.
Sementara itu, Founder CLC Rita Efendy memberikan ulasannya terkait saham BUMI. Dengan kecepatan jual sekitar 0,074% per hari, sisa kepemilikan CIC diperkirakan habis.
“Artinya, tekanan jual dari pihak CIC berpotensi segera berakhir,” ungkap RITA dalam ulasannya yang dibagikannya, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, selama ini CIC dianggap sebagai “standby seller” yang menahan kenaikan harga. Jika kepemilikannya habis, tekanan supply berkurang sehingga pergerakan saham BUMI dinilai bisa lebih leluasa naik.
Baca Juga:
5 Saham Melonjak 20% Lebih, Ada 2 ARAStruktur pemegang saham BUMI saat ini didominasi investor strategis. Rita merinci, pemegang saham terbesar adalah Mach Energy (45,78%), disusul UBS (5,1%), Cris Developments (4,86%), dan Treasure Global (3,18%). Sisanya sekitar 38,26% dimiliki publik.
“CIC awalnya masuk sebagai kreditur saat ekspansi BUMI, lalu menjadi pemegang saham melalui skema debt-to-equity swap saat restrukturisasi 2017. Setelah kondisi perusahaan membaik, aksi jual sekarang dianggap sebagai realisasi investasi,” jelasnya.
Rita menyebutkan fundamental BUMI lebih sehat dibanding masa krisis. Ekuitas yang dulu sempat negatif kini sudah kembali positif, perusahaan kembali mencetak laba, dan mulai diversifikasi ke sektor mineral. Hal ini membuat proses exit investor lama menjadi situasi yang relatif win-win bagi semua pihak.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menjadikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai salah satu saham pilihan untuk perdagangan pekan ini (18-20 Februari 2026).
Menurut broker tersebut, Bumi Resources mengumumkan nama Anthoni Salim dan Nirwan Dermawan Bakrie sebagai pemegang manfaat akhir dari kepemilikan saham perseroan. “Persentase saham pengendali kini mencapai 46,96%,” sebut BRIDS dalam ulasannya untuk perdagangan pekan ini.
BRIDS menilai secara teknikal saham berkode BUMI mampu menembus resistance dan berpotensi melanjutkan penguatan.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy saham BUMI di kisaran 275-290 dengan target harga pertama 302 dan target harga kedua 344. Stoploss apabila saham emiten pertambangan ini turun ke bawah 250.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






