Jumat, 15 Mei 2026

Bergerak Sangat Fluktuatif, Wall Street Ditutup Bervariasi

Penulis : S.R Listyorini
1 Mar 2022 | 06:26 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Johannes Eisele)
Ilustrasi bursa saham AS Wall Street. (Foto: AFP / Johannes Eisele)

NEW YORK, Investor.id – Saham-saham AS di Bursa Wall Street bergerak sangat fluktuatif karena investor mencermati situasi krisis di Ukraina. Tiga indeks utama yang pada pembukaan turun tajam akhirnya ditutup bervariasi pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB).

Dow Jones Industrial Average turun 166,15 poin, atau sekitar 0,49%, jadi 33.892,60. S&P 500 ditutup turun 0,24% pada 4.373,94, sedangkan Nasdaq naik 0,41% menjadi 13.751,40.

Pergerakan Senin menutup Februari yang fluktuatif, dengan rata-rata utama membukukan pelemahan bulanan cukup tajam.

Perdagangan terjadi di tengah gejolak konflik Rusia dan Ukraina, di mana pasukan Rusia telah menguasai kota-kota penting termasuk ibu kota Kyiv. Sementara pejabat kedua negara mengadakan pertemuan negosiasi di dekat perbatasan Belarusia pada Senin.

ADVERTISEMENT

"Perang pada dasarnya adalah lingkungan risk off untuk aset berisiko karena investor global beralih ke obligasi pemerintah dan safe havens lainnya," kata analis Raymond James Tavis McCourt dalam sebuah catatan.

Saham pertahanan seperti Lockheed Martin dan Northrop Grumman masing-masing naik 6,7% dan 7,9%. Saham keamanan siber juga di zona hijau yakni Crowdstrike melonjak 7,4%, membatasi kerugian Nasdaq.

Saham bank berada di bawah tekanan, dengan JPMorgan jatuh 4,2% dan Citigroup turun 4,4%.

Imbal hasil obligasi pemerintah turun tajam dengan benchmark Treasury 10-tahun di 1,83%, turun 15 basis poin. Hal ini membantu kinerja Nasdaq Composite yang padat teknologi, karena saham yang berorientasi pada pertumbuhan cenderung berkinerja lebih baik ketika suku bunga rendah. Saham Tesla menguat 7,5% pada Senin.

Pasar mata uang adalah area utama volatilitas pada Senin. Bank Sentral Rusia menaikkan lebih dua kali lipat suku bunga utamanya, menjadi 20% dari 9,5% sebagai reaksi terhadap pergerakan mata uang rubel yang jatuh 22% terhadap dolar AS.

Pada akhir pekan, AS bergabung dengan sekutu di Eropa dan Kanada melarang bank-bank utama Rusia dari sistem pesan antar bank, SWIFT. Sistem ini menghubungkan lebih dari 11.000 bank dan lembaga keuangan di lebih dari 200 negara.

Selain itu, sekutu AS dan Eropa juga telah mengambil tindakan terhadap bank sentral Rusia, yang secara efektif membekukan cadangan devisa negara itu.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia