Sabtu, 4 April 2026

AIIB: Pembangunan Tahap II JTTS Manfaatkan Availability Payment

Penulis : Indah Handayani
9 Sep 2021 | 21:05 WIB
BAGIKAN
Vice President and Chief Administration Officer Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Luky Eko Wuryanto
Vice President and Chief Administration Officer Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Luky Eko Wuryanto

JAKARTA, investor.id - Vice President and Chief Administration Officer Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) Luky Eko Wuryanto menyarankan pemerintah untuk memanfaatkan fasilitas Availability Payment (AP) dalam melanjutkan pembangunan tahap II Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) sebagaimana diatur dalam PMK 190/2015.

Sebab, fasilitas ini merupakan skema Build Operate Transfer (BOT) yaitu pemegang konsesi memperoleh sejumlah uang dari pemerintah melalui pembayaran anuitas selama masa konsesi setelah pemegang konsesi menyerahkan aset yang telah diselesaikan sesuai ketentuan atau standar yang disepakati.

Luky menjelaskan sesuai dengan pengaturan yang terdapat di dalam Pepres 117/2015 pasa 2B. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat selanjutnya memimpin proses pelaksanaannya berdasarkan evaluasi yang menyeluruh. Terlebih, tahap kedua JTTS sebagian besar adalah jalur-jalur panjang antar kota yang volume lalu lintasnya diprediksi masih minim.

Dalam kaitan itu, ia pun mendorong agar pemerintah (khususnya melalui kementerian PUPR) lebih banyak berperan memfasilitasi PT HK dalam implementasinya Mempertimbangkan kesehatan keuangan PT HK beserta anak-anak perusahaanya.

Advertisement

“Kami merekomendasikan agar Kementerian PUPR menjadi PJPK pembangunan sebagian besar ruas-ruas tahap kedua dengan memanfaatkan fasilitas Availability Payment (AP) sebagaimana diatur dalam PMK 190/2015,” ungkapnya di sela webinar HK Academy seri Webinar Nasional dengan tema: Trans Sumatra Toll Road: Accelerating Indonesia’s Economic Growth Through Infrastructure Development, Kamis (9/9).

Secara umum, lanjut Luky, AP adalah skema Build Operate Transfer (BOT). Dimana pemegang konsesi memperoleh sejumlah uang dari pemerintah melalui pembayaran anuitas selama masa konsesi setelah pemegang konsesi menyerahkan aset yang telah diselesaikan sesuai ketentuan atau standar yang disepakati. Hal tersebut berbeda dengan skenario biasa dimana pemegang konsesi akan menghasilkan laba atas investasi berdasarkan hasil pembayaran user charge.

“Pendekatan pembiayaan ini membuat proyek infrastruktur yang walaupun economically visible tapi financially feasible menjadi bankable,” jelasnya.

Untuk pemerintah dan Bank Pembangunan Multilateral (multilateral development bank (MDB), Luky menjelaskan pola pembiayaan tersebut menurutnya merupakan pilihan bijaksana, terutama mempertimbangkan kondisi saat ini. Karena menghilangkan risiko penyelesaian (konstruksi) dan mengurangi beban fiskal saat economic recovery dan menghilangkan risiko pembengkakan anggaran pemerintah akibat cost overrun anggaran.

Sementara itu, beban fiskal yang saat ini cukup berat bisa secara signifikan dikurangi tanpa mengganggu pelaksanaan pembangunan infrastruktur penting. Dari sisi swasta developer, hilangnya risiko permintaan (contoh volume trafik), kepastian akan future cash flow, dan berkurangnya risiko tahap konstruksi jelas akan menggarirahkan minat mereka untuk berpartisipasi.

“Kondisi tersebut juga akan membuat raising fund menjadi lebih murah. Beberapa negara sudah berhasil melaksanakan pola pendanaan semacam ini, seperti India, Amerika Serikat, dan negara lain sudah berhasil,” ucap Luky.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero) Aloysius Kiik Ro mengatakan perusahaan juga sudah ada pembicaraan dengan AIIB di Indonesia. “Perihal alternatif-alternatif pendanaan, termasuk annuity payment scheme,” jelasnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


International 3 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 13 menit yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 43 menit yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 54 menit yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 1 jam yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 2 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia