Investasi US$ 43 Miliar, Proyek Kilang Pertamina Rampung 2027
10 Jan 2022 | 10:10 WIB
BALIKPAPAN, investor.id - PT Pertamina (Persero) memastikan seluruh proyek kilang yang meliputi peningkatan kapasitas produksi BBM dan integrasi petrokimia terhadap kilang existing akan rampung tahun 2026, atau paling lambat 2027. Nilai investasi proyek mencapai US$ 43 miliar, dengan 40% pendanaan berasal dari equity.
“Pada 2023 kapasitas kilang BBM kita akan bertambah, ditandai dengan onstream-nya (produksi) revamping unit pada proyek RDMP (Refinery Development Master Plan) Kilang Balikpapan pada Oktober 2023. Kalau proyek kilang seluruhnya selesai sekitar 2026. Paling lama ada di proyek Kilang Tuban, karena membangun baru refinery serta petrochemical dalam satu area,” kata Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati dalam acara focus group discussion (FGD) dan kunjungan pimpinan redaksi media nasional di Balikpapan, Sabtu (8/1/2022).
Pelaksanaan proyek tersebut dikerjakan oleh Refinery and Petrochemical Subholding dari Pertamina, yang secara operasional diserahkan kepada PT Kilang Pertamina Internasional (KPI). Subholding ini bertanggung jawab terhadap kegiatan pengolahan minyak menjadi produk minyak dan produk petrokimia, di sejumlah kilang yang sudah beroperasi maupun proyek-proyek yang sedang dijalankan.
Baca Juga:
Pertamina Terus Dorong UMKM Go GlobalNicke menjelaskan, BUMN migas tersebut memiliki total enam subholding. Ini mencakup Upstream Subholding, Refinery and Petrochemical Subholding, Commercial & Trading Subholding, Power & New Renewable Energy Subholding, Gas Subdolding, dan Integrated Marine Logistic Company Subholding.
Nicke mengatakan, pembangunan kilang di Tanah Air itu sudah memberikan manfaat nyata, seperti mengurangi impor minyak dan gas (migas). BBM solar dan avtur tercatat sudah tidak lagi diimpor sejak tahun 2019.
Indonesia, lanjut dia, saat ini masih memiliki cadangan minyak di Indonesia bagian timur, meski makin ke timur makin ke laut dalam. Sedangkan untuk cadangan gas masih banyak.
Jika nanti minyak Indonesia sudah habis, kilang tersebut juga bisa dialihkan untuk mengolah biofuel dari minyak sawit yang renewable. Indonesia merupakan produsen terbesar minyak nabati yang paling kompetitif di dunia tersebut.
Jika kemudian gas juga habis, Indonesia juga masih memiliki cadangan batu bara yang besar, yang dapat diolah menjadi bahan baku petrokimia yang bernilai tambah tinggi. Produk petrokimia ini juga masih banyak kita impor.
“Produk dengan nilai tambah lebih besar itu bisa dihasilkan, jika teknologinya kita kuasai. Maka itu, kami mengajak para milenial untuk masuk. Semua itu membutuhkan ilmu pengetahuan dan iptek,” kata Nicke.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler

