Jumat, 15 Mei 2026

Gara-gara Perang, Pertumbuhan Ekonomi Global akan Susut 0,6%

Penulis : Triyan Pangastuti
17 Mar 2022 | 17:17 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam FGD bersama pimpinan redaksi media massa secara virtual, Rabu (23/2/2022). (Foto: Primus Dorimulu)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam FGD bersama pimpinan redaksi media massa secara virtual, Rabu (23/2/2022). (Foto: Primus Dorimulu)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi global sejalan dengan meningkatnya eskalasi geopolitik antara Rusia dan Ukraina menjadi 3,8% (yoy) dari proyeksi semula 4,4% (yoy), alias susut 0,6%.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, proyeksi ini masih berpotensi berubah, sangat bergantung pada seberapa lama eskalasi tensi geopolitik Rusia dan Ukraina berlangsung. 

Eskalasi ketegangan geopolitik telah berdampak pada pemberian sanksi berbagai negara terhadap Rusia.

Alhasil akan berimplikasi pada transaksi perdagangan, pergerakan harga komoditas, dan pasar keuangan global, di tengah penyebaran Covid-19 yang mulai mereda.

ADVERTISEMENT

“Yang semula pertumbuhan ekonomi global bisa mencapai 4,4%, pada asesmen terkini bisa turun jadi 4,2%, bahkan kalau berlanjut bisa 3,8%, tergantung seberapa lama eskalasi ini berlanjut,” katanya dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/3/2022).

Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan berbagai negara, seperti Eropa, Amerika Serikat (AS), Jepang, Tiongkok, dan India berpotensi lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Di samping itu, volume perdagangan dunia berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sejalan dengan risiko tertahannya perbaikan perekonomian global dan gangguan rantai pasokan yang masih berlangsung.

“Harga komoditas global meningkat, termasuk komoditas energi, pangan, dan logam, sehingga memberikan tekanan pada inflasi global,” ucapnya.

Tak hanya itu, eskalasi ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina tersebut menambah ketidakpastian pasar keuangan global, di samping karena kenaikan suku bunga bank sentral AS dan percepatan normalisasi kebijakan moneter di negara maju lainnya, sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi.

“Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal, seiring dengan risiko pembalikan arus modal ke aset yang dianggap aman (safe haven asset), dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia,” tuturnya.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 45 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 55 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia