Kamis, 14 Mei 2026

Rusia Tegaskan Belum Ada Rencana Konkret Akhiri Perang Ukraina

Penulis : Grace El Dora
12 Mei 2026 | 23:20 WIB
BAGIKAN
Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan Ombudsman Hak Asasi Manusia Rusia Tatyana Moskalkova, selama pertemuan mereka di Kremlin di Moskow, Selasa (12/5/2026). (Foto: Mikhail Metzel/ Sputnik, Foto Kremlin Pool via AP)
Presiden Rusia Vladimir Putin mendengarkan Ombudsman Hak Asasi Manusia Rusia Tatyana Moskalkova, selama pertemuan mereka di Kremlin di Moskow, Selasa (12/5/2026). (Foto: Mikhail Metzel/ Sputnik, Foto Kremlin Pool via AP)

MOSKOW, investor.id – Pemerintah Rusia memberikan pernyataan mendinginkan suasana terkait spekulasi berakhirnya perang di Ukraina. Meski Presiden Vladimir Putin sempat memberi sinyal konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini akan segera usai, pihak Moskow menegaskan, hingga saat ini belum ada langkah konkret atau rincian rencana perdamaian yang nyata.

Pernyataan ini muncul setelah akhir pekan lalu Putin menyebutkan perang sedang menuju akhir. Namun, ucapan tersebut justru memicu kebingungan global karena Moskow tetap pada tuntutan maksimalnya terhadap Ukraina, sementara negosiasi sejauh ini selalu menemui jalan buntu.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengklarifikasi tidak ada rincian khusus di balik pernyataan Putin. "Presiden hanya menyatakan, Rusia tetap terbuka untuk menjalin kontak. Namun, saat ini tidak mungkin untuk berbicara tentang rincian spesifik," ujar Peskov seperti dikutip AFP, Selasa (12/5/2026).

Peskov juga menambahkan, Putin hanya bersedia bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di luar Rusia jika tujuannya adalah untuk menandatangani perjanjian damai final.

ADVERTISEMENT

Gencatan Senjata Versi Trump Berakhir Tragis

Situasi di lapangan justru kembali memanas setelah berakhirnya gencatan senjata tiga hari yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Segera setelah masa jeda berakhir, Rusia dan Ukraina kembali meluncurkan serangan udara besar-besaran.

Ukraina menuduh Rusia mengakhiri gencatan senjata dengan meluncurkan lebih dari 200 drone serang yang merusak fasilitas energi dan bangunan apartemen, hingga memakan korban jiwa.

"Gencatan senjata kemanusiaan telah berakhir. Operasi militer khusus terus berlanjut," tegas Peskov.

Sebaliknya, pihak Rusia mengklaim telah menembak jatuh 27 drone Ukraina yang menyerang wilayah mereka sesaat setelah gencatan senjata berakhir.

Dilema Domestik dan Kelelahan Perang

Sinyal perdamaian dari Putin muncul di tengah meningkatnya tekanan domestik. Perayaan Hari Kemenangan (Victory Day) di Moskow baru-baru ini berlangsung secara terbatas karena tingginya kekhawatiran akan serangan drone Ukraina.

Survei menunjukkan masyarakat Rusia mulai menunjukkan tanda-tanda "kelelahan perang", yang mulai menggerus tingkat popularitas Putin di dalam negeri. Sementara itu, di Ukraina, Presiden Zelensky mendesak agar Rusia mengambil langkah nyata menuju gencatan senjata yang abadi, bukan sekadar jeda sementara yang mudah dilanggar.

Invasi skala penuh Rusia ke Ukraina yang dimulai sejak Februari 2022 telah berkembang menjadi perang atrisi (saling menghancurkan) yang merenggut ratusan ribu nyawa dan memaksa jutaan orang mengungsi. Fokus dunia sempat teralihkan oleh pecahnya konflik besar di Timur Tengah (AS-Iran) pada awal 2026, namun perang di Ukraina tetap menjadi titik panas geopolitik yang melumpuhkan ekonomi Eropa.

Perselisihan utama tetap pada status wilayah Donbas di timur Ukraina dan semenanjung Krimea. Rusia bersikeras agar Ukraina menarik pasukannya dari wilayah-wilayah yang diklaim Moskow sebagai syarat mutlak perundingan. Di sisi lain, Ukraina dengan dukungan Barat menuntut penarikan total pasukan Rusia dari seluruh wilayah kedaulatannya.

Kegagalan gencatan senjata terbaru yang diusulkan oleh Donald Trump menunjukkan betapa dalamnya jurang ketidakpercayaan antara kedua belah pihak, di mana jeda kemanusiaan seringkali hanya digunakan sebagai waktu untuk memulihkan kekuatan militer sebelum kembali menyerang.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 11 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 44 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 53 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 54 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia