Jumat, 15 Mei 2026

Airlangga: Tensi Geopolitik Rusia-Ukraina Belum Berdampak ke Inflasi

Penulis : Triyan Pangastuti
24 Mar 2022 | 13:15 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan ketegangan geopolitik antara Rusia-Ukraina tidak akan berdampak langsung terhadap kenaikan inflasi dalam negeri. Sebab transmisinya yang lama untuk memengaruhi Indonesia.

Ia menjelaskan tingkat inflasi saat ini masih rendah, apalagi data BPS Februari 2022 terjadi deflasi sebesar 0,02% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,24. Kemudian inflasi februari secara yoy tercatat 2,06%.

Untuk komponen inti pada Februari 2022 mengalami inflasi sebesar 0,31%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Februari) 2022 sebesar 0,72% dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Februari 2022 terhadap Februari 2021) sebesar 2,03%.

ADVERTISEMENT

"Ini masih belum berimbas karena transmisinya (lambat). Bulan Februari kita masih rendah bahkan deflasi," kata dia Kamis (24/3).

Airlangga memperkirakan tingkat inflasi baru akan mengalami peningkatan pada periode bulan Maret. Mengingat tingkat konsumsi masyarakat meningkat menjelang momentum bulan Ramadan.

"Kita lihat di bulan Maret, terutama menjelang bulan Ramadan," kata Airlangga.

Sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyebut konflik Rusia-Ukraina memiliki dampak terhadap perekonomian Indonesia melalui tiga jalur.

Pertama jalur pergerakan harga komoditas, ketegangan dua negara tersebut membuat harga komoditas global melonjak, salah satunya harga minyak dunia. Ini kemudian akan berimplikasi pada kondisi fiskal Indonesia dan harga-harga dalam negeri.

“Kami perkirakan harga minyak Indonesia akan mengalami kenaikan secara rata-rata US$85-US$86 per barel, dari asesmen kami pada Februari 2022 lalu yang berkisar US$67-US$70 per barel. Ini juga berdampak ke harga komoditas yang lain,” katanya pekan lalu.

Perry pun memperkirakan, indeks harga komoditas ekspor Indonesia akan mengalami kenaikan hingga 10,5%, naik dari perkiraan sebelumnya 4,2%. Berbagai proyeksi ini masih akan tergantung dari seberapa lama ketegangan antara Rusia dan Ukraina berlangsung.

Di sisi lain, lonjakan harga komoditas global tentunya akan mempengaruhi harga dan kondisi fiskal di dalam negeri. Apalagi, seperti kita ketahui Indonesia merupakan negara net importir minyak. Peningkatan harga minyak ini kemudian bisa mempengaruhi peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini diberi subsidi pemerintah.

Alhasil dampak terhadap dalam negeri akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menyikapi harga energi global, terutama untuk BBM non subsidi.

“Koordinasi akan kami lakukan. Kita sudah melihat ada kenaikan harga Pertamax. Namun, kami akan terus melihat dan pada waktunya akan kami sampaikan,” kata dia.

Kemudian, dari sisi perdagangan, menututnya dampak langsungnya tidak terlalu besar karena mengingat hubungan perdagangan antara Indonesia dan kedua negara tersebut tidak sebesar negara mitra dagang lain.

Namun, dengan kenaikan harga komoditas, Indonesia bisa mendapatkan berkah berupa peningkatan ekspor terutama non minyak dan gas (non migas). Dengan kondisi ini, neraca perdagangan Indonesia berpotensi masih mencetak surplus selama beberapa waktu ke depan.

Dari sisi keuangan, menurut Perry, memang memberikan dampak berupa hengkangnya arus modal asing dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Apalagi, para investor mencari aset yang lebih aman (safe haven asset) dan tentu akan berpengaruh pada nilai tukar rupiah.

“Namun, implikasinya pada nilai tukar rupiah sejauh ini tetap terjaga. Karena kami melihat nilai tukar rupiah ada kecenderungan apresiasi,” kata Perry.

Apabila Eskalasi geopolitik Rusia dan Ukraina yang terus berlanjut dikhawatirkan akan menghambat pemulihan ekonomi secara global. Pada RDG bulan ini, BI telah merevisi ke bawah angka proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2022 dari perkiraan sebelumnya 4,4% menjadi 4,2%.

“Bahkan kalau berlanjut bisa 3,8%, tergantung seberapa lama eskalasi ini berlanjut,” kata Perry.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia