Menu
Sign in
@ Contact
Search

Inflasi Terkendali, BI Janji Tak Agresif Naikkan Suku Bunga Acuan

Kamis, 22 Sep 2022 | 20:54 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) memastikan tidak akan mengadopsi kenaikan suku bunga yang agresif atau hawkish seperti yang dilakukan sejumlah bank sentral dunia di antaranya Federal Reserve (The Fed). Ini dikarenakan laju inflasi Indonesia hingga kini relatif terkendali.

Bank Indonesia, hari ini (Kamis, 22/09/2022), kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 4,25%. Kenaikan yang lebih tinggai dari proyeksi banyak ekonom ini merupkaan yang kedua kalinya tahun ini setelah pada Agustus BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, kenaikan suku bunga acuan ini merupakan langkah front-loaded, pre-emptive, dan forward looking dalam menurunkan ekspektasi inflasi dan inflasi inti. Kendati begitu, ia memastikan stance kebijakan suku bunga ke depan, tidak akan mengadopsi penaikan suku bunga yang agresif atau hawkish.

"Inflasi kita relatif terkendali dibandingkan negara lain, sehingga keperluan untuk menaikkan suku bunga lebih agresif tidak diperlukan di Indonesia. Kami akan memantau bulan ke bulan dan meperkuat respons kebijakan yang diperlukan sisi moneter, makropurndesial dan lainnya," papar dia dalam konferensi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Kamis (22/09/2022).

Advertisement

Perry tidak menampik akan ada peningkatan inflasi yang cukup tinggi di Indonesia pada tahun ini. Inflasi inti diperkirakan mencapai 4,6% dan inflasi umum diperkirakan bisa lebih dari 6% di tahun ini.

Hal tersebut, kata dia, didorong oleh kenaikan berbagai harga barang yang memberi dampak langsung (first round impact) maupun dampak tidak langsung (second round impact), dan juga diikuti dengan peningkatan permintaan masyarakat.

Namun, pergerakan inflasi inti akan terus diupayakan menurun menjadi di bawah 3% pada kuartal III-2023.

Menurut perhitungan bank sentral, peningkatan harga BBM akan memberi tambahan inflasi sebesar 1,8% hingga 1,9%. Dengan demikian, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada akhir tahun 2022 akan lebih dari 6% secara tahunan atau year on year (yoy).

"Penyesuaian harga BBM, khususnya Pertalite dan solar tidak hanya berdampak langsung tetapi juga tidak langsung. Sehingga, akan terjadi second round effect yang berlangsung 3 bulan dan karenanya kemungkinan inflasi akan meningkat," ujar dia.

Perry menambahkan, BI juga akan menggandeng pemerintah pusat dan daerah untuk turut menjaga inflasi. Dengan demikian, harapannya inflasi Indonesia terutama dari dampak lanjutan akan lebih terkendali.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com