Jumat, 15 Mei 2026

Menko Airlangga: Dunia Tengah Hadapi Situasi Tak Mudah

Penulis : Triyan Pangastuti
11 Okt 2022 | 12:18 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memberikan sambutan khusus, saat Investor Daily Summit 2022, Jakarta, Selasa (11/10/2022). BeritasatuPhoto/David Gita Roza
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memberikan sambutan khusus, saat Investor Daily Summit 2022, Jakarta, Selasa (11/10/2022). BeritasatuPhoto/David Gita Roza

JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, seluruh dunia tengah menghadapi situasi yang mudah, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global yang meningkat. Oleh karena itu, ia menekankan untuk semua pihak tetap meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi berbagai gejolak global.

"Dunia tengah hadapi situasi tidak mudah. Tapi pak Presiden (Joko Widodo) sampaikan. (situasi) ini memiliki konsekuensi pada sektor pangan, dan energi maupun keuangan," ungkapnya dalam Investor Daily Summit 2022 di JCC, Jakarta, Selasa (11/10/2022).

Meningkatnya ketidakpastian ini menyebabkan Dana Moneter Internasional atau (IMF) merevisi outlook inflasinya di tahun ini lebih dari 8,3%. Revisi outlook inflasi, kata Airlangga tidak terlepas dari faktor terganggunya suplai dan demand yang mendorong peningkatan harga energi dan pangan.

ADVERTISEMENT

Naiknya inflasi yang terjadi di berbagai negara, akhirnya direspon oleh berbagai bank sentral dengan mengetatkan likuiditas dan menaikkan suku bunga acuannya.

"Suplai demand terganggu dengan harga terus meningkat, ini merupakan tantangan menjinakan inflasi. Negara maju seperti AS naikkan suku bunga acuan karena tingkat inflasi sudah level tertinggi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir," ucapnya.

Menurut Airlangga, beberapa negara telah menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi mulai dari Amerika Serikat, Tiongkok. Selanjutnya  Rusia hingga Ukraina juga mengalami pelemahan ekonomi akibat perang yang masih berlanjut.

Kombinasi pelemahan ekonomi global serta inflasi meningkat menyebabkan munculnya isu stagflasi dan resesi. Alhasil, berbagai risiko ini harus menjadi alarm dan terus diantisipasi.

"Isu stagflasi dan resesi jadi alarm seluruh pembuat kebijakan didunia dan gejolak eksternal, kami terus harus bertahan. Pemerintah sudah lakukan extra effort jaga stabilitas harga dan menjaga daya beli masyarakat di tengah pemulihan ekonomi nasional," tuturnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 2 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 2 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 3 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 4 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia