Menteri Bahlil Sebut Investor Global Incar Kekayaan Nikel dan Timah Indonesia
JAKARTA, investor.id - Menteri Investasi dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia tetap optimistis investasi Indonesia tetap akan bergairah tahun depan. Keyakinan itu didasari fakta bahwa Indonesia memiliki memiliki sumber daya alam yang kaya untuk dikembangkan.
"Berbagi lembaga termasuk BI melakukan koreksi terhadap pertumbuhan tapi keyakinan saya adalah Indonesia ke depan tidak akan terlalu banyak terkoreksi dari sisi investasi rill," ujar Bahlil sesaat sebelum menjadi bintang tamu dalam program 'Obrolan Malam Fristian' di BTV, gedung Commodity Square, Jakarta, Jumat (25/11/2022).
Ia yakin, perlambatan ekonomi tidak akan signifikan berdampak pada investasi karena Indonesia akan dibutuhkan berbagai negara apabila hilirisasi komoditas tambang seperti nikel dan timah terwujud. "Hari ini dunia investasi, khususnya di sektor hilirisasi akan mencari negara-negara yang penghasil energi terbarukan dan mempunyai wilayah untuk menangkap seutuhnya dan di Asia Tenggara Indonesia itu menguasai 45% lahan," ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, tugas Indonesia saat ini adalah menjaga stabilitas politik di tengah kondisi global yang sedang tidak baik-baik saja. Hal ini dikarenakan menjelang tahun politik para pelaku ekonomi cenderung bersikap wait and see. Dia meyakini, stabilitas politik bisa berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi nasional.
"Khususnya stabilitas politik dan kita harus berpikir tujuan berbangsa dan bernegara itu kan kesejahteraan, penciptaan lapangan pekerjaan, bagaimana memberikan pendapatan negara. Politik itu adalah instrumen untuk pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara," papar Bahlil.
Sebelumnya Bahlil mengatakan, Indonesia menargetkan investasi di 2023 senilai Rp 1.400 triliun. Dia memandang perlu perjuangan untuk mencapai angka tersebut salah satunya adalah dengan memastikan stabilitas politik di Indonesia aman menjelang tahun politik 2024.
Dia bahkan menyebutkan, sejumlah negara sudah memasuki resesi. Enam negara sudah menjadi pasien International Monetary Fund (IMF), sementara 28 negara lainnya sudah mengantre. Ancaman resesi diperparah oleh perang antara Rusia melawan Ukraina, hingga ketegangan politik Tiongkok dengan Taiwan yang belum selesai sehingga stabilitas politik nasional dinilai Bahlil sebagai kunci menjaga kesehatan investasi Indonesia.
"Kita hanya bisa diselamatkan dengan satu catatan, pertumbuhan ekonomi kita akan stabil, investasi kita akan stabil apabila stabilitas politik kita harus baik. Kalau stabilitas politik kita tidak baik maka saya tidak meyakini pertumbuhan kita akan membaik," tuturnya.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






