Jumat, 15 Mei 2026

BI: Kenaikan Bunga The Fed Dorong Penguatan Dollar

Penulis : Arnoldus Kristianus
5 Des 2022 | 14:08 WIB
BAGIKAN
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: ERIC BARADAT / AFP  )
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell. ( Foto: ERIC BARADAT / AFP )

JAKARTA,investor.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan langkah agresif bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) menaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) mendorong penguatan mata uang dolar AS dan yield US Treasury, dibandingkan mata uang negara lain di dunia.

Langkah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan tidak terlepas dari tingginya tinggi di Amerika Serikat. “Yield dari US akan lebih tinggi, ini akan merambat pada DXY indeks dollar terhadap mata uang utama,” ucap Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Solikhin M Juhro dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2023 "Mengelola Ketidakpastian Ekonomi di Tahun Politik" pada Senin (5/12).

Pada Rabu (2/11) Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin menjadi 3,75-4%. Solikhin menuturkan, fenomena sangat kuatnya dolar AS memberikan tekanan pelemahan (depresiasi) mata uang di berbagai negara. Semakin menguat dan semakin memicu ketidakpastian di pasar global dan akan memperburuk persepsi investor ke negara berkembang termasuk Indonesia karena bicara cash is the king semua akan menumpuk pada aset likuid terutama dolar.

ADVERTISEMENT

“Tekanan terhadap mata uang tidak hanya melanda Indonesia, tetapi semua negara menjadi terdampak penguatan dolar,” kata Solikhin.

Dia mengatakan ketegangan geopolitik dunia memperburuk fragmentasi dan prospek ekonomi dan keuangan global. Berlanjutnya fragmentasi politik dan ekonomi serta pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju menyebabkan perekonomian dunia ke depan diperkirakan melambat disertai meningkatnya risiko resesi.

“Tekanan inflasi masih akan tinggi ke depan memicu kebijakan suku bunga tinggi yang diprakirakan akan dipertahankan dalam jangka waktu lebih lama,” ucapnya.

Untuk Indonesia sendiri, Solikhin menuturkan Indonesia memiliki sinergi yang kuat antara pemangku kepentingan terkait. Sinergi kebijakan fiskal dan moneter berjalan berdampingan antara pemerintah dan BI. Sehingga inflasi Indonesia terjaga. Suku bunga acuan BI meskipun mengalami kenaikan namun tetap berjalan moderat dan inflasi Indonesia bisa terjaga .

“Negara-negara asing yang mengambil ruang kebijakan dengan mengandalkan sisi moneter lewat suku bunga, padahal tekanan dari sisi suplai direspon dengan suku bunga inflasi gak akan turun. Coba lihat kasus di Turki, kita masih 175 basis poin ini menggambarkan policy spaces secara makro dengan sinergi yang dimiliki adalah suatu kunci dari keberhasilan mengelola perekonomian,” kata Solikhin.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 4 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 5 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia