Jumat, 15 Mei 2026

IEA: Energi Terbarukan Bantu Imbangi Kenaikan Emisi Batubara

Penulis : Grace El Dora
2 Mar 2023 | 13:24 WIB
BAGIKAN
Turbin angin beroperasi di ladang angin, sumber tenaga utama untuk Lembah Coachella, saat kendaraan melaju pada 22 Februari 2023 di dekat Whitewater, California, Amerika Serikat. Turbin angin di California menyediakan energi yang cukup untuk menggerakkan lebih dari 2 juta rumah, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan energi terbarukan akan mencapai 35% dari pembangkit listrik di seluruh dunia pada 2025. (Foto: Mario Tama/Getty Images/AFP)
Turbin angin beroperasi di ladang angin, sumber tenaga utama untuk Lembah Coachella, saat kendaraan melaju pada 22 Februari 2023 di dekat Whitewater, California, Amerika Serikat. Turbin angin di California menyediakan energi yang cukup untuk menggerakkan lebih dari 2 juta rumah, sementara Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan energi terbarukan akan mencapai 35% dari pembangkit listrik di seluruh dunia pada 2025. (Foto: Mario Tama/Getty Images/AFP)

PARIS, investor.id – Lonjakan energi terbarukan dan upaya efisiensi membantu mengimbangi pertumbuhan emisi karbon dari lonjakan penggunaan batubara tahun lalu karena krisis energi global, kata Badan Energi Internasional (IEA), bahkan jika emisi karbon dioksida (CO2) mencapai rekor baru.

Pada akhirnya, emisi terkait energi global naik kurang dari 1% tetapi masih dalam lintasan pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, kata lembaga tersebut dalam sebuah laporan yang dirilis Kamis (2/3).

“Dampak dari krisis energi tidak menghasilkan peningkatan besar dalam emisi global yang awalnya dikhawatirkan. Dan ini berkat pertumbuhan yang luar biasa dari energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), pompa panas, dan teknologi hemat energi,” Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, Kamis.

ADVERTISEMENT

“Tanpa energi bersih, pertumbuhan emisi CO2 akan menjadi hampir tiga kali lebih tinggi,” tambahnya.

Tambahan 321 juta ton emisi terkait energi membawa total ke level tertinggi baru lebih dari 36,8 miliar ton. Emisi terkait energi menyumbang lebih dari tiga perempat produksi gas rumah kaca.

Kenaikan 0,9% itu lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2% pada 2022. Emisi batubara kembali ke tren selama satu dekade, yang dipatahkan tahun lalu oleh lonjakan 6% akibat rebound pasca pandemi Covid-19 dalam aktivitas ekonomi global.

Pemotongan tajam Rusia dalam pengiriman gas alam ke Eropa tahun lalu, menyusul sanksi internasional atas serangan Rusia ke Ukraina yang memicu krisis energi global.

Kenaikan Emisi di Asia

Tidak hanya banyak negara Eropa yang meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara, negara-negara Asia bahkan lebih banyak lagi karena harga gas alam cair meroket.

Emisi CO2 dari batubara tumbuh 1,6%, sekitar seperempat dari tingkat emisi 2021, kata IEA.

Namun demikian, pertumbuhan emisi masih jauh melebihi tingkat pertumbuhan rata-rata emisi batubara selama dekade terakhir dan lebih dari mengimbangi penurunan emisi sebesar 1,6% dari konsumsi gas alam yang lebih rendah.

IEA mencatat emisi CO2 tumbuh paling cepat dari minyak, sebesar 2,5% tetapi masih di bawah tingkat sebelum pandemi. Peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh rebound pasca pandemi Covid-19 dalam lalu lintas udara.

IEA yang berbasis di Paris mengatakan emisi di Tiongkok secara keseluruhan datar tahun lalu, karena tindakan Covid-19 yang ketat dan aktivitas konstruksi yang menurun. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dan pengurangan emisi industri dan transportasi.

Tetapi tidak termasuk Tiongkok, emisi dari negara-negara ekonomi baru dan berkembang di Asia meningkat 4,2% karena pertumbuhan ekonomi yang cepat dan permintaan energi yang meningkat.

Birol juga menyinggung perusahaan bahan bakar fosil, yang menurutnya menghasilkan rekor pendapatan berkat lonjakan harga energi.

“Kami masih melihat peningkatan emisi dari bahan bakar fosil, menghambat upaya untuk memenuhi target iklim dunia,” katanya.

“(Perusahaan bahan bakar fosil) perlu mengambil bagian tanggung jawab mereka, sejalan dengan janji publik mereka untuk memenuhi tujuan iklim,” kata Birol. Ia mendesak perusahaan untuk meninjau kembali strategi mereka untuk menghasilkan pengurangan emisi yang berarti.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 23 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 55 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia