IEA: Energi Terbarukan Bantu Imbangi Kenaikan Emisi Batubara
PARIS, investor.id – Lonjakan energi terbarukan dan upaya efisiensi membantu mengimbangi pertumbuhan emisi karbon dari lonjakan penggunaan batubara tahun lalu karena krisis energi global, kata Badan Energi Internasional (IEA), bahkan jika emisi karbon dioksida (CO2) mencapai rekor baru.
Pada akhirnya, emisi terkait energi global naik kurang dari 1% tetapi masih dalam lintasan pertumbuhan yang tidak berkelanjutan, kata lembaga tersebut dalam sebuah laporan yang dirilis Kamis (2/3).
“Dampak dari krisis energi tidak menghasilkan peningkatan besar dalam emisi global yang awalnya dikhawatirkan. Dan ini berkat pertumbuhan yang luar biasa dari energi terbarukan, kendaraan listrik (EV), pompa panas, dan teknologi hemat energi,” Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, Kamis.
“Tanpa energi bersih, pertumbuhan emisi CO2 akan menjadi hampir tiga kali lebih tinggi,” tambahnya.
Tambahan 321 juta ton emisi terkait energi membawa total ke level tertinggi baru lebih dari 36,8 miliar ton. Emisi terkait energi menyumbang lebih dari tiga perempat produksi gas rumah kaca.
Kenaikan 0,9% itu lebih rendah dari tingkat pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2% pada 2022. Emisi batubara kembali ke tren selama satu dekade, yang dipatahkan tahun lalu oleh lonjakan 6% akibat rebound pasca pandemi Covid-19 dalam aktivitas ekonomi global.
Pemotongan tajam Rusia dalam pengiriman gas alam ke Eropa tahun lalu, menyusul sanksi internasional atas serangan Rusia ke Ukraina yang memicu krisis energi global.
Kenaikan Emisi di Asia
Tidak hanya banyak negara Eropa yang meningkatkan penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara, negara-negara Asia bahkan lebih banyak lagi karena harga gas alam cair meroket.
Emisi CO2 dari batubara tumbuh 1,6%, sekitar seperempat dari tingkat emisi 2021, kata IEA.
Namun demikian, pertumbuhan emisi masih jauh melebihi tingkat pertumbuhan rata-rata emisi batubara selama dekade terakhir dan lebih dari mengimbangi penurunan emisi sebesar 1,6% dari konsumsi gas alam yang lebih rendah.
IEA mencatat emisi CO2 tumbuh paling cepat dari minyak, sebesar 2,5% tetapi masih di bawah tingkat sebelum pandemi. Peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh rebound pasca pandemi Covid-19 dalam lalu lintas udara.
IEA yang berbasis di Paris mengatakan emisi di Tiongkok secara keseluruhan datar tahun lalu, karena tindakan Covid-19 yang ketat dan aktivitas konstruksi yang menurun. Kondisi ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dan pengurangan emisi industri dan transportasi.
Tetapi tidak termasuk Tiongkok, emisi dari negara-negara ekonomi baru dan berkembang di Asia meningkat 4,2% karena pertumbuhan ekonomi yang cepat dan permintaan energi yang meningkat.
Birol juga menyinggung perusahaan bahan bakar fosil, yang menurutnya menghasilkan rekor pendapatan berkat lonjakan harga energi.
“Kami masih melihat peningkatan emisi dari bahan bakar fosil, menghambat upaya untuk memenuhi target iklim dunia,” katanya.
“(Perusahaan bahan bakar fosil) perlu mengambil bagian tanggung jawab mereka, sejalan dengan janji publik mereka untuk memenuhi tujuan iklim,” kata Birol. Ia mendesak perusahaan untuk meninjau kembali strategi mereka untuk menghasilkan pengurangan emisi yang berarti.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi
Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas AntamDPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Tag Terpopuler
Terpopuler






