Jumat, 15 Mei 2026

Airlangga: Harga Komoditas Pangan dan Tarif Angkutan Udara Jadi Tantangan Menjaga Inflasi

Penulis : Arnoldus Kristianus
5 Mar 2023 | 22:15 WIB
BAGIKAN
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

JAKARTA, investor.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, harga komoditas pangan dan tarif angkutan cenderung meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Oleh karena itu, pemerintah terus melakukan pemantauan agar harga komoditas pangan yang biasanya berpotensi meningkat dapat tetap terjaga.

“Memasuki bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idulfitri, peningkatan harga pangan dan tarif menjadi tantangan. Kami berharap langkah antisipatif bisa dilakukan dengan pemantauan harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, cabai, bawang, daging, telur ayam ras,” ucap Airlangga dalam Kick Off Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) 2023 pada Minggu (05/3/2023).

Secara historis pada Ramadan dan Idulfitri selalu terjadi kenaikan inflasi pada komponen harga pangan bergejolak (volatile food) dan harga diatur pemerintah (administered price). Komoditas dalam komponen volatile food yang biasanya mengalami kenaikan harga adalah daging ayam ras, daging sapi, bawang merah, ikan segar, dan cabai. Komoditas dalam komponen administered price yang biasanya mengalami kenaikan harga adalah tarif angkutan antar kota dan tarif angkutan udara.

“Kita harus memonitor bulan Maret dan April 2023 apalagi memasuki bulan ramadan dan hari besar keagamaan. Terkait administered price pemerintah melihat komponen tertinggi dari transportasi udara adalah avtur dan pemerintah sudah melihat upaya yang perlu dilakukan untuk mengurangi harga avtur,” kata Airlangga.

ADVERTISEMENT

Pemerintah dan Bank Indonesia sudah menugaskan Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) serta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas inflasi. Khususnya untuk komponen volatile food maupun administered price. Airlangga mengatakan dalam beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan harga beras, namun pada bulan Maret dan April memasuki musim panen.

“Tentu kita tidak ingin saat kemarin produksi beras rendah harga tinggi dan pada saat panen harga turun. Sehingga kita akan kehilangan beberapa segi baik dari nilai tukar petani maupun dari segi inflasi. Tentu ini perlu kita juga agar nilai tukar petani bisa baik dan nilai inflasi bisa terkendali,” tandas Airlangga.

Tantangan Menghadapi Inflasi

Pada kesempatan itu, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tantangan inflasi ke depan adalah kendala dalam produksi dan distribusi; hilirisasi pangan, ketahangan pangan, serta digitalisasi pangan.

Dia memperkirakan sampai dengan semester I-2023 inflasi masih akan berada di atas 5%. Dia juga menyoroti tentang kenaikan harga beras, oleh karena itu harus ada upaya memperbaiki distribusi beras agar harga terjaga. Upaya menjaga komponen harga pangan begejolak juga terkendala masalah iklim. Fenomena El Nino berdampak pada kenaikan curah hujan di daerah sentra produksi beras.

“Ini yang harus kita kendalikan karena sebentar lagi kita memasuki bulan Ramadan dan hari raya Idulfitri. Mari kita semakin memperkuat sinergi untuk mendorong inflasi bisa terkendali,” tutur dia.

Untuk komponen administered price, Perry mengatakan harus ada penanganan menyeluruh secara nasional. Khususnya yang terkait dengan tarif angkutan udara. Dia mengatakan komponen harga tarif angkutan udara mengalami kenaikan cukup tinggi.      

“Apalagi tahun ini wisata sudah mulai bergerak, kemarin saya baru saja dari Wakatobi dan Raja Ampat, tiket angkutan udara ini mahal banget. Ini yang menjadi masalah secara nasional yang perlu kita atasi bersama,” kata Perry.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam empat tahun terakhir terdapat sejumlah komoditas yang menyebabkan inflasi di bulan Ramadan. Pada 2019, bulan Ramadan jatuh di bulan Mei yang saat itu terjadi inflasi 0,68%. Komoditas yang memberikan andil inflasi pada Mei 2019 adalah cabai Merah (0,10%), daging ayam ras (0,05%), bawang putih (0,05%), ikan segar (0,04%), angkutan antar kota (0,04%), dan telur ayam ras (0,02%).

Pada 2020, bulan Ramadan jatuh di bulan April yang pada saat itu terjadi inflasi 0,08%. Komoditas yang memberikan andil inflasi pada April 2020 adalah bawang merah (0,08%), emas perhiasan (0,06%), gula pasir (0,02%), bahan bakar ruta (0,01%), pepaya (0,01%), dan rokok kretek filter (0,01%).

Pada 2021, bulan Ramadan jatuh di bulan April yang pada saat itu terjadi inflasi 0,13%. Komoditas yang memberikan andil inflasi pada April 2021 adalah daging ayam ras (0,06%), minyak goreng (0,01%), jeruk (0,01%), bahan bakar ruta (0,01%), emas perhiasan (0,01%), dan anggur (0,01%).

Pada 2022, bulan Ramadan jatuh di bulan April dengan inflasi sebesar 0,95%. Komoditas yang memberikan andil inflasi pada April 2022 adalah minyak goreng (0,19%), bensin (0,16%), daging ayam ras (0,09%), tarif angkutan udara (0,08%), bahan bakar ruta (0,03%), dan telur ayam ras (0,02%).

Editor: Thomas Harefa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 2 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 3 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia