Jumat, 15 Mei 2026

Subsidi Kendaraan Listrik Minim Peminat, Ternyata Baru 106 Pembeli

Penulis : Leonard AL Cahyoputra
19 Mei 2023 | 10:30 WIB
BAGIKAN
ilustrasi kendaraan listrik. (B-Universe Photo/Ruht Semiono)
ilustrasi kendaraan listrik. (B-Universe Photo/Ruht Semiono)

JAKARTA, investor.id – Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut, sampai saat ini baru 106 unit yang tercatat di aplikasi kendaraan listrik atau PLN Mobile. Hal ini menunjukkan subsisi kendaraan listrik minim peminat.

“Pembeli hanya sekitar seratus orang, padahal kuota yang tersedia mencapai 200 ribu unit. Jika tak ada perbaikan, akan banyak kuota yang tidak terpakai. Masyarakat suduh diberikan kesempatan subsidi, tapi kok tidak direspons? Sampai saat ini baru 106 unit di aplikasi itu, padahal kuota yang tersedia sampai 200 ribu unit," ujar Moeldoko di sela pameran kendaraan listrik Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2023, Jakarta, Rabu (17/05/2023).

Moeldoko menilai, setidaknya ada dua penyebab yang membuat dampak subsidi itu berjalan lambat. Pertama, subsidi tidak bisa dinikmati semuanya. Kedua, adalah restitusi.

ADVERTISEMENT

Moeldoko mengatakan, dengan memanfaatkan subsidi kendaraan Listrik, pembeli hanya membayar 1% dari pajak Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11% dan dealer menanggung restitusi. Padahal, dealer punya pembiayaan yang juga terbatas, sehingga tidak bisa terbebani banyak biaya.

"Dikhawatirkan dengan restitusi setahun baru dibayar pemerintah, maka itu akan menjadi beban bagi dealer-dealer," kata Moeldoko yang juga menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Untuk itu, lanjut dia, pemerintah akan mengevaluasi kebijakan subsidi pembelian Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) yang berlaku sejak 1 April 2023, karena implementasinya berjalan lambat. Evaluasi tersebut diharapkan bisa menghasilkan solusi kebijakan yang lebih sederhana dan meringangkan, mampu mempercepat pembentukan ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di dalam negeri.

Dia mengungkapkan, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk mengubah skema subsidi yang sudah berjalan saat ini. Moeldoko berharap, ke depannya kebijakan ini bisa lebih meringankan dan tidak rumit "Itulah yang menjadi bahan diskusi kita. Pertanyaannya, apakah tidak bisa restitusi itu dijalankan hanya 1-2 bulan? Kami masih evaluasi ke arah yang lebih baik," kata dia.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 10 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia