Jumat, 15 Mei 2026

Pengamat: Energi Fosil Tetap Dibutuhkan hingga 50 Tahun ke Depan

Penulis : Harso Kurniawan
12 Jun 2023 | 13:40 WIB
BAGIKAN
Eksplorasi minyak Pertamina. Foto ilustrasi: IST
Eksplorasi minyak Pertamina. Foto ilustrasi: IST

JAKARTA, Investor.id - Energi minyak bumi dan gas (migas) yang bersumber dari fosil diperkirakan masih dibutuhkan hingga 30-50 tahun ke depan. Dengan demikian, peran energi baru terbarukan (EBT) dalam menjaga ketahanan energi adalah sebagai pelengkap, bukan pengganti.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menuturkan, masih tingginya terhadap kebutuhan energi fosil tersebut juga tercermin pada Rencana Umum Energi Nasional (RUEN). Dalam hal ini, bahwa energi fosil masih diperlukan hingga 2045, lantaran kebutuhannya terus meningkat dari tahun ke tahun.

‘’Dalam 50 tahun ke depan, energi fosil masih sangat diperlukan. Lifting migas akan terus berlanjut dan tak akan berhenti. Meskipun sudah ada EBT (energi baru terbarukan), energi fosil masih dibutuhkan khususnya untuk industri petrokimia,’’ kata Komaidi di Jakarta, Senin (12/6/2023).

Menyikapi hal tersebut, Komaidi berharap industri migas nasional terus mempersiapkan diri, tidak hanya terkait perubahan atau transisi energi yang menuntut PT Pertamina beradaptasi dengan perubahan zaman.

ADVERTISEMENT

Selain itu, industri migas harus memperhatikan pemenuhan energi fosil yang akan terus berjalan sekitar 50 tahun mendatang. Dalam hal ini, energi fosil dan transisi energi harus dilakukan berimbang, untuk menjaga ketahanan energi nasional.

‘’Saya rasa kegiatan eksplorasi atau lifting migas akan terus berlangsung, karena kebutuhan energi akan terus berlangsung terus menerus. Namun, kondisi itu memang harus diimbangi dengan energi terbarukan,’’ kata Komaidi.

Pentingnya peran energi fosil, yakni migas dalam ketahanan energi, sebelumnya juga disampaikan mantan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. Melalui akun Instagram @arcandra.tahar, dia mengatakan, banyak negara maju mengubah strategi mereka untuk memenuhi kebutuhan energi pascakonflik Rusia-Ukraina yang mulai terjadi pada akhir tahun 2021.

Uni Eropa mulai menyadari, transisi energi menuju net zero emission memerlukan waktu dan energi fosil belum bisa tergantikan paling tidak untuk 30 tahun ke depan.

‘’Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang sudah dipensiunkan, kembali dioperasikan akibat energi yang berasal dari angin dan matahari belum mampu memenuhi kebutuhan setelah pandemi. Tahun 2022 Jerman menghidupkan kembali PLTU sekitar 9 GW,’’ kata Arcandra.

Dia menambahkan, krisis energi yang terjadi di Eropa berdampak pada mahalnya harga batu bara dan gas yang sangat dibutuhkan pada saat musim dingin. Naiknya harga energi lantas mendorong inflasi tinggi dan menyebabkan harga-harga kebutuhan pokok meroket. Subsidi yang selama ini digunakan untuk membantu renewable energy bisa berkembang dengan baik dialihkan ke subsidi energi fosil. Inilah realita yang harus diterima oleh Uni Eropa.

Begitu juga dengan Amerika Serikat (AS). Arcandra mengatakan, sampai hari ini AS mampu mencukupi kebutuhan energi mereka terutama untuk gas. Untuk minyak mentah sebagian masih impor. Perlahan tapi pasti, inovasi dalam pengelolaan shale oil dan shale gas, telah mampu menjadikan AS sebagai negara produser minyak dunia mengalahkan Arab Saudi.

Sewaktu Presiden Joe Biden dilantik menjadi presiden, produksi minyak AS sekitar 11 juta barrel per day (BOPD). Tahun 2022 meningkat menjadi 12 juta BOPD dan tahun 2023 akan naik lagi menjadi 13 juta BOPD.

‘’Angka tersebut merupakan rekor terbaru dalam sejarah perminyakan AS dan merupakan salah satu langkah strategis yang dijalankan AS untuk mencapai ketahanan energi mereka. Belum ada tanda-tanda AS akan mengurangi kegiatan eksplorasi dan produksi migas paling tidak untuk 10 tahun kedepan,’’ kata Arcandra.

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia