Lebih Ciamik Mobil Hibrid
17 Jun 2023 | 09:57 WIB
JAKARTA, investor.id – Obral insentif mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) disambut dingin masyarakat. Alih-alih membeli BEV yang harganya sudah terdiskon karena insentif, masyarakat ternyata lebih memilih mobil hibrid. Tak mengherankan, jika penjualan mobil hibrid jauh lebih ciamik dibanding BEV.
Pada Januari-Mei 2023, penjualan BEV hanya mencapai 4.648 unit. Sebaliknya, penjualan hibrid yang terdiri atas hybrid electric vehicle (HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), tembus 12.128 unit. Berarti jumlah mobil hibrid yang berhasil dilego para pabrikan otomotif mencapai tiga kali lipat dari BEV.
Masyarakat lebih menggandrungi mobil hibrid ketimbang BEV karena sejumlah alasan, seperti infrastruktur BEV belum lengkap, teknologinya belum teruji, keselamatan berkendara masih meragukan, layanan purna jual belum masif, dan harga bekasnya belum meyakinkan. Alasan lainnya, kendati sudah disubsidi, BEV masih dibanderol selangit.
Pengamat otomotif dari LPEM-FEB Universitas Indonesia (UI) Riyanto, peneliti teknik tenaga listrik Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi, pakar otomotif Bebin Djuana, serta anggota Komisi VI DPR Amin Akram yang dihubungi Investor Daily di Jakarta, Jumat (16/6), sepakat bahwa masyarakat Indonesia tidak bisa langsung bermigrasi dari mobil konvensional ke mobil listrik murni, melainkan harus transisi terlebih dahulu ke mobil hibrid yang mengombinasikan mesin konvensional dengan tenaga listrik.
Itu sebabnya, menurut mereka, pemerintah perlu memperbanyak insentif untuk mobil hibrid agar transisi ke BEV berlangsung mulus. Harga mobil listrik, baik BEV maupun HEV dan PHEV, akan turun signifikan dan terjangkau masyarakat luas setelah ekosistemnya terbentuk dan digunakan secara masif di dalam negeri.
Mereka juga sependapat bahwa untuk mendongkrak pasar dan ekosistem mobil listrik di Tanah Air, pemerintah dan para pelaku industri otomotif perlu membuat berbagai terobosan, di antaranya menciptakan pasar mobil listrik bekas beserta suku cadangnya, menjamin ketersediaan layanan purna jual dan infrastruktur mobil listrik, serta mendorong kredit dan pembiayaan (multifinance) mobil listrik dengan suku bunga terjangkau.
Di sisi lain, para produsen mobil listrik harus terus meningkatkan kualitas produk dan teknologinya agar mobil listrik bukan saja ekonomis, tapi juga praktis, aman, dan nyaman. Kecuali itu, para produsen mobil listrik perlu memperkuat sosialisasi dan edukasi untuk mengubah paradigma masyarakat bahwa mobil listrik adalah kendaraan masa depan yang ekonomis, nyaman, aman, dan ramah lingkungan. Pemerintah sendiri telah mengeluarkan berbagai insentif untuk mobil listrik, terutama BEV.
Baca Juga:
Transisi Mobil ListrikMobil listrik terbagi atas dua kategori. Kategori pertama yaitu BEV yang sepenuhnya menggunakan tenaga baterai listrik. Sedangkan kategori kedua adalah hibrid yang terdiri atas HEV dan PHEV. Keduanya mengombinasikan kinerja mesin konvensional atau mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) dengan baterai listrik.
Ada dua sumber daya yang digunakan mobil hibrid, yaitu baterai dan bensin atau bahan bakar minyak (BBM). Pada HEV, baterai mobil tidak diisi menggunakan charging equipment, melainkan dari mesin pembakaran konvensional. Adapun pada PHEV, daya baterai diisi menggunakan power outlet. Tetapi saat daya baterai habis, mobil akan menggunakan ICE.
Paling Rasional
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






