Asa Operator Telko Genjot Penetrasi FMC di Indonesia
Sebelumnya, Ririek menuturkan, pertumbuhan fixed brodband di Indonesia semakin melambat. Bahkan, penetrasi fixed broadband pun baru mencapai sekitar 15%. Dari 6,1 juta pelanggan pada 2018, kemudian tumbuh menjadi 10,3 juta pada akhir 2022. Dan di 2023 diperkirakan hanya menjadi 12,2 juta, dan pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 19,3 juta pelanggan.
Hal itu, terjadi karena investasi untuk menggelar layanan hingga mencapai rumah itu cukup mahal. Selain itu, Avarege Revenue Per User (ARPU) pelanggan juga tinggi sekitar Rp 400 ribu. Bahkan, Rumah tangga yang mampu bayar ARPU tinggi juga semakin berkurang. Bahkan, saat ini dari sekitar 70 juta rumah di Indonesia, yang dilayani jaringan fiber optik baru sekitar 15%.
“Kalau pun masih ada, mereka letaknya agar berjauhan, sehingga secara teknis membuat kita agak sulit mengembangkan fiber optik. Ini yang menjadi salah satu challenging, yang kadangkala menunjukkan potensi pasar relatif terhadap harga bulanannya. Yang kalau kita lihat, yang akan besar kalau di harga 150 ribu ke bawah (ARPU), potensinya besar,” tutur Ririek saat Rapat Kerja(Raker) dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, belum lama ini.
Ririek melanjutkan, secara teknis, terdapat empat jenis teknologi konektivitas yang dilayani oleh operator telekomunikasi kepada pelanggan, yaitu layanan seluler, fiber optik, Fix Wireless Accsess (FWA), dan satelit. Meski demikian, dari keempat jenis teknologi tersebut, seluler, fiber optik dan FWA akan menjadi bisnis masa depan operator telekomunikasi.
Bahkan, berdasarkan analisa yang dilakukan, terdapat tiga jenis operator, yaitu yang melayani dengan teknologi mobile saja, lalu melayani mobile dan fixed, serta yang integrated atau digabung.
“Yang integrated akan lebih sustain dibanding yang fix only atau mobile only. Ini yang menjadi salah satu latar belakang kenapa kita ingin menggabungkan anatara fix dan mobile (FMC),” jelas Ririek.
Targetkan 1 Juta Home Passed
Terpisah, Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini menuturkan, kerja sama antara XL Axiata dan Link Net merupakan bagian dari tahapan kerja sama kedua entitas pasca-akuisisi Link Net oleh Axiata Group Bhd dan XL Axiata di periode awal 2022 lalu.
“Kami berharap dapat memanfaatkan segala keunggulan yang dimiliki Link Net yang kita semua tahu merupakan perusahaan terbesar di Indonesia sebagai penyedia layanan internet fixed line yang sangat berpengalaman membangun dan mengelola jaringan fiber optik yang sangat luas,” ungkap Dian.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






