Asa Operator Telko Genjot Penetrasi FMC di Indonesia
JAKARTA, investor.id - Operator telekomunikasi (telko) menggenjot penetrasi Fixed Mobile Convergence (FMC) di Indonesia. Hal ini seperti yang dilakukan Telkomsel dan XL Axiata.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) telah menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) untuk mengintegrasikan IndiHome ke Telkomsel. Sehingga, sejak 1 Juli 2023, IndiHome resmi dioperasikan oleh Telkomsel. Kesepakatan ini merupakan tonggak penting bagi implementasi inisiatif Fixed Mobile Convergence (FMC) Telkom Group.
Selain Telkom, operator telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) dan PT Link Net Tbk (Link Net) juga terus memperkuat sinergi untuk mewujudkan percepatan penetrasi pasar layanan Fixed Broadband (FBB) dan Fixed Mobile Convergence (FMC) di Indonesia.
Melalui kerja sama jaringan ini, XL Axiata berharap mampu menjangkau pasar konvergensi yang lebih luas, seiring dengan terus meningkatnya permintaan pasar di wilayah yang lebih luas.
Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Ririek Adriansyah mengatakan, integrasi tersebut juga dalam rangka menciptakan dampak berkelanjutan di masyarakat seperti menghadirkan layanan broadband yang lebih luas, merata, dan andal, mendukung akselerasi inklusi digital dan ekonomi digital, meningkatkan level playing field industri telekomunikasi Indonesia, serta memperkuat bisnis perseroan di masa mendatang.
“Ini jadi basis yang penting untuk mulai mengoperasikan FMC di Telkomsel. Kita juga berharap bahwa FMC ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan, tetapi nanti dapat digunakan oleh masyarakat luas di Indonesia, dan termasuk juga stakeholder yang lain,” kata Ririek di Jakarta, pekan lalu.
Menurut Ririek, layanan FMC tersebut akan mengintegrasikan dua jaringan, yaitu layanan fixed broadband IndiHome dan dan layanan fix wireless access (FWA) Telkomsel. Kombinasi keduanya diharapakan dapat meningkatkan penetrasi home broadband di Indonesia, yang saat ini masih sekitar 15%.
“Jadi integrasi ini akan dua jaringan yah, ada fiber optik, ada FWA. Kita harapkan kombinasi keduanya di FMC ini, maka penetrasi home bradband di negara kita yang tadi masih sekitar 15%, nanti akan terus bertambah. Nanti akan sekian banyak rumah-rumah yang dapat pelayanan broadband, baik itu melalui fiber optik maupun FWA,” ungkap Ririek.
Sebelumnya, Ririek menuturkan, pertumbuhan fixed brodband di Indonesia semakin melambat. Bahkan, penetrasi fixed broadband pun baru mencapai sekitar 15%. Dari 6,1 juta pelanggan pada 2018, kemudian tumbuh menjadi 10,3 juta pada akhir 2022. Dan di 2023 diperkirakan hanya menjadi 12,2 juta, dan pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 19,3 juta pelanggan.
Hal itu, terjadi karena investasi untuk menggelar layanan hingga mencapai rumah itu cukup mahal. Selain itu, Avarege Revenue Per User (ARPU) pelanggan juga tinggi sekitar Rp 400 ribu. Bahkan, Rumah tangga yang mampu bayar ARPU tinggi juga semakin berkurang. Bahkan, saat ini dari sekitar 70 juta rumah di Indonesia, yang dilayani jaringan fiber optik baru sekitar 15%.
“Kalau pun masih ada, mereka letaknya agar berjauhan, sehingga secara teknis membuat kita agak sulit mengembangkan fiber optik. Ini yang menjadi salah satu challenging, yang kadangkala menunjukkan potensi pasar relatif terhadap harga bulanannya. Yang kalau kita lihat, yang akan besar kalau di harga 150 ribu ke bawah (ARPU), potensinya besar,” tutur Ririek saat Rapat Kerja(Raker) dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, belum lama ini.
Ririek melanjutkan, secara teknis, terdapat empat jenis teknologi konektivitas yang dilayani oleh operator telekomunikasi kepada pelanggan, yaitu layanan seluler, fiber optik, Fix Wireless Accsess (FWA), dan satelit. Meski demikian, dari keempat jenis teknologi tersebut, seluler, fiber optik dan FWA akan menjadi bisnis masa depan operator telekomunikasi.
Bahkan, berdasarkan analisa yang dilakukan, terdapat tiga jenis operator, yaitu yang melayani dengan teknologi mobile saja, lalu melayani mobile dan fixed, serta yang integrated atau digabung.
“Yang integrated akan lebih sustain dibanding yang fix only atau mobile only. Ini yang menjadi salah satu latar belakang kenapa kita ingin menggabungkan anatara fix dan mobile (FMC),” jelas Ririek.
Targetkan 1 Juta Home Passed
Terpisah, Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini menuturkan, kerja sama antara XL Axiata dan Link Net merupakan bagian dari tahapan kerja sama kedua entitas pasca-akuisisi Link Net oleh Axiata Group Bhd dan XL Axiata di periode awal 2022 lalu.
“Kami berharap dapat memanfaatkan segala keunggulan yang dimiliki Link Net yang kita semua tahu merupakan perusahaan terbesar di Indonesia sebagai penyedia layanan internet fixed line yang sangat berpengalaman membangun dan mengelola jaringan fiber optik yang sangat luas,” ungkap Dian.
Dian menambahkan, pembangunan jaringan 1 juta homes passed ini ditargetkan berlangsung dan selesai dalam satu tahun, yang menjangkau lebih dari 10 kota/kabupaten yang berada di beberapa provinsi, termasuk di luar Jawa.
“Dengan menambah 1 juta homes passed ini, XL Axiata berharap mampu mendorong percepatan pencapaian 450 ribu home connect serta penetrasi konvergensi layanan XL SATU hingga sebesar 150 ribu pelanggan,” kata Dian.
Dalam kerja sama ini, XL Axiata telah menyiapkan perencanaan (planning) dan desain target pasar yang bisa melayani kebutuhan layanan konvergensi (convergence), sedangkan Link Net akan melakukan desain jaringan dan kapasitas yang dapat memenuhi kebutuhan target pasar XL Axiata.
Terkait investasi, hingga saat ini sejumlah biaya pembangunan masih dalam proses perhitungan kedua perusahaan. Investasi penggelaran fiber akan dilakukan dari pihak Link Net. Investasi dari pihak XL Axiata lebih berfokus pada penyambungan last-mile dan pemasangan alat CPE (Customer Premises Equipment) ke rumah-rumah pelanggan.
“Setelah akuisisi, peluang kerja sama terus dieksplorasi oleh XL Axiata dan Link Net. Benang merah dari kolaborasi kedua pihak adalah mewujudkan visi XL Axiata sebagai penyedia layanan konvergensi terdepan di Indonesia yang menggabungkan layanan internet fixed broadband dan internet mobile,“ imbuh Dian.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






