Jumat, 15 Mei 2026

Asa Operator Telko Genjot Penetrasi FMC di Indonesia

Penulis : Emanuel Kure
3 Jul 2023 | 05:40 WIB
BAGIKAN
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan Telkomsel telah
menandatangani Perjanjian Pemisahan Bersyarat (Conditional Spin-off Agreement/CSA) untuk mengintegrasikan IndiHome ke Telkomsel. (Foto : Ilustrasi)
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan Telkomsel telah menandatangani Perjanjian Pemisahan Bersyarat (Conditional Spin-off Agreement/CSA) untuk mengintegrasikan IndiHome ke Telkomsel. (Foto : Ilustrasi)

JAKARTA, investor.id - Operator telekomunikasi (telko) menggenjot penetrasi Fixed Mobile Convergence (FMC) di Indonesia. Hal ini seperti yang dilakukan Telkomsel dan XL Axiata. 

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) dan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) telah menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) untuk mengintegrasikan IndiHome ke Telkomsel. Sehingga, sejak 1 Juli 2023, IndiHome resmi dioperasikan oleh Telkomsel. Kesepakatan ini merupakan tonggak penting bagi implementasi inisiatif Fixed Mobile Convergence (FMC) Telkom Group.

Selain Telkom, operator telekomunikasi PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) dan PT Link Net Tbk (Link Net) juga terus memperkuat sinergi untuk mewujudkan percepatan penetrasi pasar layanan Fixed Broadband (FBB) dan Fixed Mobile Convergence (FMC) di Indonesia.

ADVERTISEMENT

Melalui kerja sama jaringan ini, XL Axiata berharap mampu menjangkau pasar konvergensi yang lebih luas, seiring dengan terus meningkatnya permintaan pasar di wilayah yang lebih luas.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) Ririek Adriansyah mengatakan, integrasi tersebut juga dalam rangka menciptakan dampak berkelanjutan di masyarakat seperti menghadirkan layanan broadband yang lebih luas, merata, dan andal, mendukung akselerasi inklusi digital dan ekonomi digital, meningkatkan level playing field industri telekomunikasi Indonesia, serta memperkuat bisnis perseroan di masa mendatang. 

“Ini jadi basis yang penting untuk mulai mengoperasikan FMC di Telkomsel. Kita juga berharap bahwa FMC ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan, tetapi nanti dapat digunakan oleh masyarakat luas di Indonesia, dan termasuk juga stakeholder yang lain,” kata Ririek di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Ririek, layanan FMC tersebut akan mengintegrasikan dua jaringan, yaitu layanan fixed broadband IndiHome dan dan layanan fix wireless access (FWA) Telkomsel. Kombinasi keduanya diharapakan dapat meningkatkan penetrasi home broadband di Indonesia, yang saat ini masih sekitar 15%.

“Jadi integrasi ini akan dua jaringan yah, ada fiber optik, ada FWA. Kita harapkan kombinasi keduanya di FMC ini, maka penetrasi home bradband di negara kita yang tadi masih sekitar 15%, nanti akan terus bertambah. Nanti akan sekian banyak rumah-rumah yang dapat pelayanan broadband, baik itu melalui fiber optik maupun FWA,” ungkap Ririek.

Sebelumnya, Ririek menuturkan, pertumbuhan fixed brodband di Indonesia semakin melambat. Bahkan, penetrasi fixed broadband pun baru mencapai sekitar 15%. Dari 6,1 juta pelanggan pada 2018, kemudian tumbuh menjadi 10,3 juta pada akhir 2022. Dan di 2023 diperkirakan hanya menjadi 12,2 juta, dan pada 2026 diperkirakan hanya mencapai 19,3 juta pelanggan.

Hal itu, terjadi karena investasi untuk menggelar layanan hingga mencapai rumah itu cukup mahal. Selain itu, Avarege Revenue Per User (ARPU) pelanggan juga tinggi sekitar Rp 400 ribu. Bahkan, Rumah tangga yang mampu bayar ARPU tinggi juga semakin berkurang. Bahkan, saat ini dari sekitar 70 juta rumah di Indonesia, yang dilayani jaringan fiber optik baru sekitar 15%.

“Kalau pun masih ada, mereka letaknya agar berjauhan, sehingga secara teknis membuat kita agak sulit mengembangkan fiber optik. Ini yang menjadi salah satu challenging, yang kadangkala menunjukkan potensi pasar relatif terhadap harga bulanannya. Yang kalau kita lihat, yang akan besar kalau di harga 150 ribu ke bawah (ARPU), potensinya besar,” tutur Ririek saat Rapat Kerja(Raker) dengan Komisi I DPR RI di Jakarta, belum lama ini.

Ririek melanjutkan, secara teknis, terdapat empat jenis teknologi konektivitas yang dilayani oleh operator telekomunikasi kepada pelanggan, yaitu layanan seluler, fiber optik, Fix Wireless Accsess (FWA), dan satelit. Meski demikian, dari keempat jenis teknologi tersebut, seluler, fiber optik dan FWA akan menjadi bisnis masa depan operator telekomunikasi.

Bahkan, berdasarkan analisa yang dilakukan, terdapat tiga jenis operator, yaitu yang melayani dengan teknologi mobile saja, lalu melayani mobile dan fixed, serta yang integrated atau digabung.

“Yang integrated akan lebih sustain dibanding yang fix only atau mobile only. Ini yang menjadi salah satu latar belakang kenapa kita ingin menggabungkan anatara fix dan mobile (FMC),” jelas Ririek.

Targetkan 1 Juta Home Passed

Terpisah, Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini menuturkan, kerja sama antara XL Axiata dan Link Net merupakan bagian dari tahapan kerja sama kedua entitas pasca-akuisisi Link Net oleh Axiata Group Bhd dan XL Axiata di periode awal 2022 lalu.

“Kami berharap dapat memanfaatkan segala keunggulan yang dimiliki Link Net yang kita semua tahu merupakan perusahaan terbesar di Indonesia sebagai penyedia layanan internet fixed line yang sangat berpengalaman membangun dan mengelola jaringan fiber optik yang sangat luas,” ungkap Dian.

Dian menambahkan, pembangunan jaringan 1 juta homes passed ini ditargetkan berlangsung dan selesai dalam satu tahun, yang menjangkau lebih dari 10 kota/kabupaten yang berada di beberapa provinsi, termasuk di luar Jawa.

“Dengan menambah 1 juta homes passed ini, XL Axiata berharap mampu mendorong percepatan pencapaian 450 ribu home connect serta penetrasi konvergensi layanan XL SATU hingga sebesar 150 ribu pelanggan,” kata Dian.

Dalam kerja sama ini, XL Axiata telah menyiapkan perencanaan (planning) dan desain target pasar yang bisa melayani kebutuhan layanan konvergensi (convergence), sedangkan Link Net akan melakukan desain jaringan dan kapasitas yang dapat memenuhi kebutuhan target pasar XL Axiata.

Terkait investasi, hingga saat ini sejumlah biaya pembangunan masih dalam proses perhitungan kedua perusahaan. Investasi penggelaran fiber akan dilakukan dari pihak Link Net. Investasi dari pihak XL Axiata lebih berfokus pada penyambungan last-mile dan pemasangan alat CPE (Customer Premises Equipment) ke rumah-rumah pelanggan.

“Setelah akuisisi, peluang kerja sama terus dieksplorasi oleh XL Axiata dan Link Net. Benang merah dari kolaborasi kedua pihak adalah mewujudkan visi XL Axiata sebagai penyedia layanan konvergensi terdepan di Indonesia yang menggabungkan layanan internet fixed broadband dan internet mobile,“ imbuh Dian.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 12 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 23 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 27 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia