Jumat, 15 Mei 2026

Startup Teknologi Disarankan Ciptakan Value, bukan Valuation

Penulis : Emanuel Kure
25 Okt 2023 | 11:07 WIB
BAGIKAN
Inflection Point: Mapping the Next Phase of Indonesia
Inflection Point: Mapping the Next Phase of Indonesia

JAKARTA, investor.id - Di tengah melambatnya arus pendanaan (fundraising) kepada perusahaan rintisan (startup) di Tanah Air, para pelaku startup disarankan untuk menciptakan solusi atau produk yang benar-benar dapat memberikan solusi kepada para pengguna. Artinya, pelaku startup harus mampu menciptakan nilai (value) dari produk atau solusinya, bukan mengejar valuasi (valuation), yang ujung-ujungnya ‘bakar duit’.

Demikian benang merah dari diskusi yang bertajuk Inflection Point: Mapping the Next Phase of Indonesia’s Maturing TechIndustry, dengan narasumber Claudia Kolonas, Co-founder Pluang, Roderick Purwana, Managing Partner at East Venture, Gita Sjahrir, Head of Investment BNI Ventures, dan Timothius Martin, CMO Pintu dalam acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Hutan Kota by Plataran, Senayan, Jakarta, Selasa (24/10/2023).

Menurut Roderick, East Venture merupakan salah satu venture capital (VC) yang telah hadir di Indonesia, lebih dari 10 tahun yang lalu, tepatnya pada 2009. Perusahaan pertama yang diinvestasikan adalah Tokopedia. Dengan pengalaman yang lebih dari 10 tahun, East Venture telah mengalami lifecycle dan cukup matang menghadapi pasar di Indonesia. Terutama pengalaman mendanai startup lokal.

ADVERTISEMENT

Menurut dia, pada jaman 10 tahun yang lalu, di mana pertumbuhan startup belum setinggi saat ini, startup mampu menghadirkan solusi dan produk yang berkualitas. Solusi dan produk tersebut sesuai dengan apa yang dibutuhkan pengguna di pasar. Namun, di periode lima tahun belakangan ini, pelaku startup tidak terlalu mementingkan nilai dari produk atau solusinya, tetapi lebih mengejar valuasi dari startup itu sendiri.

“Sebenarnya kan dari dulu, startup itu kan, founder menemukan masaalah yang penting, yang mereka bisa selesaikan. Terus setelah itu mereka meyakinkan investor untuk masuk, dan berinvestasi di mereka. Terus, sempat karena mungkin hype juga, karena market condition dan lain-lain, kayaknya agak berubah sedikit. Kayakanya founder-founder mencari investor untuk memasukan uang, habis itu baru mencari masaalah untuk diselesaikan,” kata Roderick.

Sehingga, Roderick melanjutkan, salah satu pelajaran yang penting untuk pelaku startup saat ini adalah kembali ke core-nya, yaitu mengutamakan nilai ketimbang valuasi.

“Jadi mungkin salah satu pelajaran adalah, kalau memang mau memulai satu perusahaan yang sukses, harus dasarnya itu clear, masaalah apa yang mau diseleaikan, atau kalau mau jual produk service-nya, harus ada yang mau beli. Itu mungkin salah satu yang paling berharga dari 10-11 tahun ke belakang ini,” ujar Roderick.

Back to Basic

Lebih jauh, Gita menuturkan, pada dasarnya para venture capital atau investor ketika melakukan investasi, hal yang paling dinantikan adalah hasil dari investasi tersebut, atau dalam istilahnya disebut exit game.

“Jadi saat ini sebagai investor, saya melihat hal yang sama. Wich is back to basic. Karena kalau kita pikirkan investor nih, investor kan cara mainnya sebenarnya simple. Investor itu bukan di investment game, tetapi mereka itu di exit game. Mereka harus exit, ujung-ujungnya begitu. Maksudnya mereka masukin duit, harus keluar. Gitu kan,” ungkap Gita.

Gita menambahkan, pelaku startup harus mampu menciptakan Produk Market Fit (PMF). Produk atau solusi yang dihasilkan harus benar-benar menjadi kebutuhan utama dari para pengguna. Startup dengan kualifikasi tersebutlah yang disebut paling diminati oleh investor.

Dia memberikan contoh, soal aplikasi WhatsApp. Ketika aplikasi milik Mark Zuckerbeg ini mengalami down sekitar 2 jam, semua pengguna berteriak, dan pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa.

“Contoh, Whatsapp waktu down 2 jam, kita semua kan panik. Produk kamu bisa kayak gitu enggak? Sehingga kalau kamu enggak ada, orang literally datang ke kamu terus kasih duit, eh bro turnid on dong. So, i tihink dengan funding winter ini yang kita lihat adalah itu, siapa yang benaran dedicated ke market, sehingga benaran dapat fit, di mana kalau tanpa produk mereka, market mereka nangis,” jelas Gita.

Fokus Membuat Value

Lebih lanjut, Claudia mengungkapkan, kondisi startup saat ini berbeda dengan kondisi awal-awal startup baru mulai booming. Menurut dia, pada periode 2019-2021, startup di Indonesia kebanjiran dana investasi dari para investor. Bahkan, para investor berlomba-lomba untuk menyuntikan modal kepada startup di Indonesia.

“Saya ingat banget, ketika tahun 2019, 2020, 2021, kita itu jadi founder, bagun tidur aja udah ada notifikasi email. Fundraising itu segampang itu. Bahkan, kita enggak pernah melakukan fundraising sama sekali. Karena setiap kali kita keluar rumah aja, udah ada beberapa fundraising yang sebenarnya juga ngejar-ngejar setiap hari gitu. Bahkan dari luar negeri, dari AS, China, pada datang semua pada saat itu,” ungkap Claudia.

Karena hal tersebut, lanjut Claudia, justru menjadi masaalah. Karena, para founder terbiasa untuk menggunakan uang untuk mengerjakan apa pun. Hal ini berbeda dengan para founder di luar negeri, yang membangun startup dengan susah payah, bahkan memulai bisnisnya dari garasi rumah.

“Jadi yang tadi pak Rodrieck singgung benar sekali. Karena kita sebagai founder itu terus terang jadi terbiasa konsep di mana, dana itu mudah sekali yah untuk didapatkan. Itu sebenarnya menjadi sedikit masaalah, karena kita itu terbiasa dengan konsep di mana, ok kita bisa melakukan semua hal, menggunakan uang,” tegas Claudia.

“Dan kita itu tidak pernah melalui journey seperti yang di luar negeri itu, yaitu mereka biasanya memulai bisnis dalam garasinya, terus mereka memulai bisnis dengan dua orang saja, dan mereka itu kemudian bahkan mereka melakukan customer service sendiri. Jadi mereka benar-benar menjadi intim dengan masaalah yang mereka ingin solve pada saat itu,” tutur Claudia.

Tak hanya itu, Timothius juga menyarankan para pelaku startup atau enterpreneur untuk mulai fokus membuat produk atau solusi yang berbasiskan nilai, bukan valuasi. “Nilai ini akan sangat dihargai, di mana customer itu kalau enggak ada solusi itu mungkin akan nangis, dan kalau disuruh bayar, mereka akan rela bayar. Dan ini merupakan nilai yang sesungguhnya. Sehingga, startup itu harus punya PMF,” kata Timothius.

Pelaku startup, saat ini, dan ke depannya harus berani membuat terobosan dengan menekankan nilai. Sehingga, akan menarik customer yang semakin lengket dengan produk atau solusinya.

“Yah sekarang, dan ke depannya, mereka (pelaku startup) harus cari cara untuk bikin values di mana customer-nya itu lebih sticky. Sehingga life time value-nya naik terus. Sehingga sekarang ini bedanya adalah di fokus antara be create values and valuation,” imbuh Timothius.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 8 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 10 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 1 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia