East Ventures Ekspansif Investasi Startup
JAKARTA, investor.id - East Ventures, perusahaan modal ventura (venture capital/VC) yang terbuka pada seluruh sektor dan pelopor investasi usaha rintisan berbasis teknologi (start-up) Indonesia, tetap aktif investasi di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Hingga semester I-2023, East Ventures telah melakukan setidaknya 17 deals investasi, termasuk di sektor fintech.
“Dan, kami akan terus melakukan investasi ke depan karena situasi di Indonesia yang baik, ekonomi kita masih bertumbuh melebihi target kuartal lalu, suku bunga terkontrol, dan pasar domestik yang besar,” ungkap Co-Founder dan Managing Partner East Ventures Willson Cuaca kepada Investor Daily, dikutip Senin (6/11/2023).
Perusahaan yang dipimpinnya punya filosofi investasi, yaitu fokus pada people dan potential market untuk investasi ke startup tahap awal (seed). Namun diakuinya, setiap perusahaan VC memiliki strategi investasi masing-masing.
“Kami mencari startup yang dipimpin oleh founders punya karakteristik yang kami cari, yakni berintegritas, memiliki self-awareness, dan paradoxical trait,” imbuhnya.
Dengan tiga karakteristik tersebut, pendiri startup akan mampu membawa perusahaannya untuk fokus pada core strength dan tujuannya. Lalu, tim yang baik akan membangun produk yang bagus dan menjangkau pasar yang besar. Tujuannya agar perusahaan bisa berkembang dengan sangat cepat.
“Sedangkan pada pendanaan tahap lanjutan (growth funding), kami berfokus pada traction,” tutur dia.
Siklus Baru
Saat ini, sebagian investor cenderung menahan pendanaan untuk membiayai ekspansi (fundraising) di tengah belum menguntungkannya sebagian besar bisnis startup. Pada semester I-2023, tim riset DailySocial.id pun mencatat perlambatan arus investasi ke startup Indonesia.
Penurunannya cukup ekstrem dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 74%. Sekurangnya, ada 73 pendanaan yang diumumkan ke publik dengan nilai US$ 707 juta dari 34 transaksi yang disebutkan nominalnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Willson menuturkan, East Ventures melihat bisnis sektor digital (startup) di Indonesia tengah memasuki siklus (cycle) baru, yakni masa sulit (winter tech). Siklus sebelumnya, tahun 2009 hingga 2021 terjadi perkembangan startup. Sedangkan valuasi startup digital naik dan mencapai puncak jayanya (peak point) pada 2020-2021.
“Tahun 2022-2023, kita masuk ke babak baru di mana terjadi kenaikan suku bunga bertubi-tubi di Amerika, inflasi yang susah dikontrol, perang Rusia-Ukraina yang membuat global supply chain terganggu, sehingga seluruh ekosistem teknologi secara global sedang menghadapi tekanan,” ujarnya.
Pulih 2024
Menurut Willson, tahun 2023, bisnis startup tengah melambat, tahun 2024 akan ada pemulihan secara bertahap. Karena itu, dia pun memberikan saran kepada startup harus bisa bertahan hingga tahun 2025 ketika masa kembangkitannya terjadi lagi.
“Dari sisi investor, mereka semakin berhati-hati dalam memberikan pendanaan. Namun, perlu selalu diingat bahwa uang masih tersedia untuk perusahaan yang baik,” imbuhnya.
Sementara itu, selama masa tunggu kebangkitannya kembali, perusahaan VC dan startup perlu untuk fokus pada kemampuan utama (core competency) agar dapat mencapai keberlangsungan secara finansial (financial sustain).
“Para founder juga perlu untuk benar-benar bijaksana (prudent) dalam mengatur penggunaan dana mereka dan menaruh perhatian lebih ke unit economic. Terlebih, era di mana ekspansi secara agresif dan melakukan uji coba produk baru, sebaiknya lebih ditahan dulu,” pungkas Willson.
Editor: Investor.id
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






