Kamis, 14 Mei 2026

Kebijakan Sawit Harus Perhatikan Aspek Hulu-Hilir

Penulis : Tri Listiyarini
5 Jan 2024 | 12:46 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)
Ilustrasi komoditas CPO. (Foto: Kemenperin/Beritasatu.com)

JAKARTA, investor.id-Kebijakan tata kelola industri sawit nasional harus bersifat komprehensif dengan memperhatikan aspek hulu hingga hilir. Sebab, industri sawit merupakan sebuah rantai pasok, pemberlakuan kebijakan dalam salah satu mata rantai akan berdampak ke rantai lainnya.

Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia (RSI) Kacuk Sumarto mengatakan, pelaku langsung industri sawit saja sedikitnya terbagi empat kelompok. Yakni, penghasil buah (tandan buah segar/TBS) yang terdiri atas produsen/penyedia bibit, produsen/penyedia pupuk dan pestisida, pekebun petani/kelompok tani maupun perusahaan.

Lalu, penghasil minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), penghasil bahan baku industri, dan penghasil barang konsumsi, ketiga ini berupa produsen bahan baku industri dan atau barang konsumsi, pengolah limbah, dan pelaku logistik. Di sisi lan, terdapat pelaku tidak langsung, seperti penyedia mesin, jasa perawatan, dan institusi riset. “Karena itu, kebijakan tata kelola industri sawit nasional jangan parsial, harus menyeluruh dari aspek hulu hingga hilir,” ujar Kacuk Sumarto di Jakarta, Kamis (04/01/2024).

ADVERTISEMENT

Salah satu kebijakan parsial di industri sawit nasional adalah terkait minyak goreng (migor). Menurut Kacuk, ketika pemerintah menyetop ekspor minyak sawit dengan alasan menjaga suplai migor dalam negeri, yang terdampak justru petani sawit.

“Kebijakan itu hanya mempertimbangkan pelaku migor, tapi lupa dalam rantai pasoknya ada petani. Akibat setop ekspor itu timbul ongkos sosial yang mahal, terjadi malapetaka karena ketika ekspor dibuka lagi, kapal sulit didapat kalaupun ada biayanya sangat mahal. Akhirnya, ekspor minyak sawit Indonesia sempat stuck,” jelas Kacuk. Kacuk menggambarkan, kebutuhan migor nasional hanya 2,5 juta ton setiap tahun dan hanya 16% dari angka itu yang dikonsumsi kalangan berpenghasilan rendah.

Belajar dari pengalaman itu, ke depan, perlu dirumuskan kebijakan tata kelola industri sawit nasional yang benar-benar mempertimbangkan aspek hulu-hilir sawit. Karenanya, RSI siap menjadi mitra pemerintah untuk membantu merumuskan hal tersebut. “Kami siap menjadi mitra pemerintah dalam merumuskan kebijakan dan peraturan perundangan dan pemberdayaan masyarakat sawit,” tutur Kacuk.

Salah satu misi RSI adalah menyelenggarakan riset dan kajian kebijakan dan peraturan perundangan terkait pengusahaan perkelapasawitan nasional pada seluruh rantai pasok (hulu-hilir termasuk penunjangnya) agar dapat memberikan usulan dan rekomendasi kepada pemerintah tentang kebijakan dan peraturan perundangan yang sesuai dan mendukung pengusahaan perkelapasawitan nasional saat ini maupun masa depan.

RSI didirikan dan dideklarasikan pada 23 Juni 2023 di Medan, Sumatra Utara, oleh 17 orang sebagai pribadi dan atau mewakili perusahaan yang semuanya merupakan pelaku sawit dengan idealisme mewujudan kondisi pengusahaan perkelapasawitan yang kondusif, kompetitif (produktif, efisien, berkelanjutan) melalui upaya-upaya kolaborasi dari seluruh pemangku kepentingan.

RSI hadir karena keprihatinan para pendiri atas iklim usaha yang kurang kondusif, posisi tawar usaha kecil menengah (UKM) dan petani yang lemah, serta pemberdayaan seperti peremajaan sawit rakyat (PSR) yang lambat.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 menit yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 13 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 30 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 60 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia