Kamis, 14 Mei 2026

Pakar: Krisis Beras Diatur untuk Justifikasi Impor Awal Tahun

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
12 Mar 2024 | 17:17 WIB
BAGIKAN
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (tengah), Dirut Perum Bulog Bayu Krisnamurti (kiri) dan Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo (kanan) melihat beras yang dijual di Sentra Nusantara di Kompleks pergudangan modern Perum Bulog, Kelapa Gading, Jakarta. (ANTARA FOTO/Reno Esnir/nz)
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo (tengah), Dirut Perum Bulog Bayu Krisnamurti (kiri) dan Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo (kanan) melihat beras yang dijual di Sentra Nusantara di Kompleks pergudangan modern Perum Bulog, Kelapa Gading, Jakarta. (ANTARA FOTO/Reno Esnir/nz)

JAKARTA, investor.id – Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa menyampaikan bahwa kenaikan harga beras di awal tahun ini adalah sebuah anomali. Mengingat, lonjakan harga beras terjadi di saat stok beras nasional sebenarnya terjaga aman.

“Januari-Februari (2024) ini anomali bagi saya karena kok tiba-tiba naik begitu cepat sampai kemarin itu harga beras rata-rata nasional di angka Rp 15.950 dari Rp 14.700,” ungkap Andreas, saat dihubungi B-Universe, dikutip Selasa (12/3/2024).

Menurut Andreas, anomali mulanya dapat dideteksi dari rencana pemerintah untuk mengimpor 3,6 juta ton beras pada Desember 2023. Lalu dalam realisasinya, Indonesia pada Januari 2024 meneken kontrak 2 juta ton beras impor dari Thailand dan menyusul impor baru-baru ini sebanyak 1,6 juta ton beras dari India.

ADVERTISEMENT

Dia juga bilang, kebetulan Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kerangka sampel area untuk produksi padi pada Desember 2023 lalu. Data itu menunjukkan bahwa akan terjadi defisit beras mencapai 1,63 juta ton pada Januari 2024 dan 1,15 juta ton pada Februari 2024. Totalnya, akan ada defisit 2,78 juta ton beras pada periode Januari-Februari 2024.

“Itu yang terus-menerus disampaikan oleh pemerintah dan itu menimbulkan kepanikan pasar. Masyarakat berpikir, wah kita dalam kondisi gawat. Padahal, defisit beras Januari-Februari itu memang siklus tahunan,” jelas Andreas.

Pakar: Krisis Beras Diatur untuk Justifikasi Impor Awal Tahun
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Ketua Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa. (Dok. B-Universe)

Tak sampai di situ, fenomena panic buying dari masyarakat untuk membeli beras di pasar semakin menggebu karena minimnya stok beras di ritel modern akibat pembelian beras yang dijatah per orang. “Satu orang hanya boleh beli satu bungkus dan beberapa ritel modern yang benar-benar kosong di foto lalu disebarkan ke mana-mana. Ya masyarakat tambah panik,” urai Andreas.

Menurut Andreas, lonjakan harga beras di awal tahun 2024 ini merupakan akumulasi dari kesalahan komunikasi pemerintah kepada publik dalam menyampaikan informasi ketersediaan stok beras nasional. Padahal, stok beras nasional pada 2024 mencapai 6,7 juta ton, bahkan lebih tinggi dari stok awal 2023 sebanyak 4,06 juta ton.

“Harusnya pemerintah menyampaikan bahwa Januari-Februari kita akan surplus 3,9 juta ton, sehingga masyarakat tenang. Tapi yang dilakukan tidak seperti itu, sehingga harga beras bergejolak,” ujar dia.

Dari sederet kejadian tersebut, Andreas bilang bahwa pemerintah ingin menunjukkan bahwa impor seolah menjadi solusi jalan pintas dalam menjaga ketersediaan stok dan menstabilkan harga beras dalam negeri. “Nah karena itu pemerintah perlu mencari justifikasi (impor beras),” demikian jelas Andreas.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 1 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 1 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 1 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 2 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 2 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 3 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia