Jumat, 15 Mei 2026

Sektor Pertanian Perlu Mitigasi Perubahan Iklim

Penulis : Tri Listiyarini
8 Mei 2024 | 07:06 WIB
BAGIKAN
Foto ilustrasi perubahan iklim. (Foto: Istimewa)
Foto ilustrasi perubahan iklim. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, investor.id–Setiap kenaikan suhu satu derajat akibat perubahan iklim diperkirakan menurunkan produktivitas pangan hingga 10%. Karena itu, sektor pertanian nasional harus bisa memitigasi dampak perubahan iklim dengan melakukan langkah-langkah proaktif, seperti penggunaan varietas unggul dan penghematan pupuk.

Rektor IPB University Arif Satria menyatakan, penyelesaian tantangan triple planetary crisis, salah satunya krisis iklim, merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya pemerintah. Karena itu, kolaborasi antarpemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah (pemda), dunia usaha, hingga masyarakat, sangat diperlukan.

“Yang paling penting, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat harus bersatu, tidak bisa mengatasi perubahan iklim itu sendiri-sendiri. Misalnya, bagaimana membuat teknologi pertanian yang bisa membantu menciptakan ketahanan pangan dan mengatasi krisis iklim,” jelas Arif saat Festival Pengendalian Lingkungan (FPL) yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta pada 24 April 2024.

ADVERTISEMENT

Dalam keterangan yang dikutip Selasa (07/05/2024), Arif menjelaskan dampak triple planetary crisis terhadap pertanian di RI. Pertanian memang terkait erat dengan tiga tantangan itu. Pertanian bisa berdampak ke perubahan iklim, misalnya akibat dari pemupukannya yang kurang pas atau kebutuhan airnya yang begitu besar.

Namun, sektor pertanian juga bisa ikut terdampak perubahan iklim, setiap kenaikan suhu satu derajat maka produktivitas nasional bisa turun 10%. “Karena itu, apabila kita tidak mampu untuk bisa memitigasi dengan baik perubahan iklim ini maka produksi pangan kita memang akan cenderung menurun sehingga diperlukan langkah-langkah lebih proaktif,” ungkap Arif.

IPB University telah melakukan berbagai inovasi terobosan untuk mengatasi ancaman terhadap ketahanan pangan nasional, di antaranya melalui IPB-9G, varietas baru yang tahan perubahan iklim. Varietas ini mempunyai kemampuan menghemat pupuk hingga 25% dan menghemat air 10-15%. Artinya, kekhawatiran pertanian itu boros air, sebenarnya sudah bisa diatasi IPB University dengan menghadirkan varietas yang lebih baik.

Terobosan kedua dari sisi sistem budi daya, IPB University mengembangkan bioimunisasi dan biopestisida. “Dengan begitu, kita sudah mulai kurangi intervensi zat-zat kimia. Saya kira pemerintah perlu makin fokus memperkuat kemampuan dalam intervensi yang serba bio, karena itu lebih aman terhadap manusia, ramah lingkungan, lebih tahan perubahan iklim dan seterusnya,” ujar Arif.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK Sigit Reliantoro mengapresiasi berbagai pihak yang ikut menyumbangkan ilmunya dalam forum yang dihadiri perwakilan pemda, termasuk IPB University. FPL membahas target Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH), target pengawasan, serta target pemulihan yang dapat dicapai pemda.

FPL juga menjadi tempat berbagi ilmu dari narasumber beragam sektor. “Kita mendapat banyak ilmu dari para narasumber. Ada juga kesepakatan-kesepakatan yang dicapai misalnya target IKLH, target pengawasan, dan target pemulihan. Juga, target respons dari dampak yang ada sudah disepakati teman-teman di provinsi, tinggal kita pelaksanaan tahun ini monitoringnya,” jelas Sigit.

Melalui FPL, KLHK mengajak Dinas LH di daerah memanfaatkan fakta-fakta dan ilmu yang dibagikan dalam acara tersebut sebagai dasar bernegosiasi, meminta dukungan anggaran dari DPRD, meminta dukungan politik dari pimpinan daerah, dan juga meyakinkan dinas yang lain agar memiliki visi sama dalam mengatasi permasalahan perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan kehilangan keanekaragaman hayati. 

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 48 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 7 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 8 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia