Jumat, 15 Mei 2026

Jaga Produksi Beras, Pengairan Sawah Petani Harus Dikawal

Penulis : Tri Listiyarini
17 Okt 2024 | 07:50 WIB
BAGIKAN
Irigasi persawahan. Foto ilustrasi: pu.go.id
Irigasi persawahan. Foto ilustrasi: pu.go.id

JAKARTA, investor.id–Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menyarankan pemerintah terus mengawal kondisi pengairan pada sawah-sawah milik para petani agar produksi beras dalam negeri tetap terjaga sehingga kedaulatan pangan terwujud. Upaya tersebut bisa ditempuh pemerintah dengan merevitalisasi irigasi dan mengintensifkan program pompanisasi sawah, khususnya tadah hujan, yang sudah berjalan saat ini.

Hasil Survei Keragaan Produksi dan Harga Beras Nasional Periode Mei-September 2024 yang dilakukan Pataka menunjukkan, sebagian besar sawah amatan selama Mei-September 2024 memiliki kondisi cukup air, meski cenderung menurun tapi masih di atas 50% dari luas area sawah amatan. Hal itu karena akhir Agustus 2024 di beberapa wilayah amatan sudah mulai memasuki musim hujan dan sebagian petani di wilayah itu melakukan pompanisasi lahan sawah.

Di sisi lain, sebagian sawah amatan masih ada yang kekeringan dan kekurangan air di Mei-September 2024 yaitu sekitar 8-36%. Meski cenderung meningkat, tapi masih di bawah 50%. Hal itu karena hujan yang belum turun merata dan kondisi irigasi belum direvitalisasi sehingga sawah menjadi tadah hujan.

ADVERTISEMENT

Ketua Pataka Ferry Sitompul mengatakan, indikator pengairan penting dicermati karena berperan vital dalam mendukung peningkatan produktivitas tanaman padi. Hasil survei Pataka dari sisi indikator pengairan menggambarkan, kondisi pengairan sawah masih didominasi oleh situasi cukup air karena pada September 2024 telah memasuki musim hujan dan gencarnya program pompanisasi oleh pemerintah.

“Kondisi pengairan sawah pada beberapa daerah masih terjaga, meskipun telah memasuki musim kemarau. Namun kami sarankan pemerintah harus tetap waspada menjaga kondisi pengairan pada sawah-sawah milik petani, di antaranya dengan revitalisasi irigasi dan intensifikasi program pompanisasi sawah,” tutur Ferry dalam konferensi pers, baru-baru ini. Hal itu agar produksi beras dalam negeri tetap terjaga sehingga kedaulatan pangan dapat terwujud.

Survei Keragaan Produksi dan Harga Beras Nasional Pataka mengambil sampel di 10 provinsi produsen beras terbesar, yakni Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Responden yang terlibat di antaranya 54 pengamat pengairan.

Produktivitas Naik

Secara umum, terdapat kecenderungan peningkatan produktivitas padi pada Mei-September 2024, terutama untuk data survei Pataka. Rerata produktivitas padi terendah terjadi di Juni 2024 yaitu 5,63 ton per hektare (ha), tertinggi di September 2024 yaitu 5,93 ton per ha, dengan rata-rata bulanan Mei-September 2024 sebesar 5,79 ton per ha.

Selama Mei-September 2024, laju pertumbuhan produktivitas untuk data survei Pataka rata-rata naik 0,97% per bulan. Hal ini dipengaruhi peningkatan produktivitas tertinggi yang terjadi pada Juli 2024 dengan lonjakan tingkatan 4,79%. Kemudian, penurunan signifikan terjadi di Juli ke Agustus 2024 sebesar 1,66% dan kembali naik 2,37% di September 2024. Turun naiknya produktivitas padi di setiap bulannya dipengaruhi faktor luas panen, cuaca (intensitas paparan sinar matahari, suhu udara, intensitas hujan), serta hama penyakit tanaman.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistisk (BPS) menyebutkan, luas panen padi Januari-April 2024 (subround I-2024) turun tajam hingga 0,64 juta ha, tapi di Mei-Agustus 2024 (subround II-2024) dan September-Desember 2024 (subround III-2024) masing-masing diperkirakan justru meningkat 0,1 juta ha dan 0,38 juta ha.

Bisa jadi, peningkatan luas panen padi pada subround II-2024 dan subround III-2024 karena program pompanisasi yang digeber Kementerian Pertanian (Kementan). Kementan melaporkan, realisasi pompanisasi per 12 Oktober 2024 seluas 1.157.305 ha dari target 1.140.206 ha. Program pompanisasi salah satu strategi perluasan areal tanam (PAT) Kementan dalam rangka menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.

Editor: Tri Listiyarini

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 13 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 17 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia