Jumat, 15 Mei 2026

GRP Gandeng Dua Perusahaan Kurangi Emisi Karbon 

Penulis : Harso Kurniawan
8 Jan 2025 | 18:32 WIB
BAGIKAN
Pabrik baja GRP. (ist)
Pabrik baja GRP. (ist)

JAKARTA, Investor.id - PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP/GGRP), salah satu produsen baja swasta terbesar di Indonesia, bekerja sama dengan DEG Impulse dan PT TÜV SÜD untuk mendukung upaya pengurangan emisi karbon. 

Melalui inisiatif ini, GRP meningkatkan efisiensi energi di pabrik, sehingga bisa menjadi salah satu pabrik baja paling efisien dalam hal energi di Asia. Langkah ini juga mendukung target ambisius GRP dalam mencapai net zero pada tahun 2050.

Menurut Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), konsumsi baja di Indonesia diperkirakan tumbuh 5,1% pada tahun 2025 menjadi 19,2 juta ton. Melalui kerja sama dengan TÜV SÜD, GRP mencari cara untuk mengurangi emisi karbon dari penggunaan energi untuk memperkuat posisinya sebagai produsen baja rendah karbon terdepan. Hal ini sekaligus mendukung upaya Indonesia dalam mencapai target iklim 2030 dan memenuhi kebutuhan baja, dalam upaya transisi ke energi yang lebih bersih.

ADVERTISEMENT

Dipimpin oleh para ahli audit energi internasional dari TÜV SÜD, kemitraan ini telah menyelesaikan audit energi komprehensif pada fasilitas produksi baja dari GRP yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat, serta mengungkapkan langkah konkret untuk meningkatkan efisiensi energi dari pabrik. 

Secara bersama, kedua pihak telah menganalisis penggunaan energi saat ini dan menemukan alternatif untuk mengurangi biaya penggunaan energi, seperti eksplorasi teknologi pembangkit listrik dari panas terbuang dan pemanasan awal (pre-heating) dari scrap sebelum diproses.

Langkah-langkah dari audit ini mendukung komitmen GRP untuk meningkatkan efisiensi energi di fasilitas pabrik dan hal operasional, dengan tujuan mengurangi semua emisi karbon operasional di pabrik GRP pada tahun 2030. 

Dengan langkah ini, GRP berada di jalur yang tepat dalam upaya mencapai target net zero pada tahun 2050, sekaligus mendukung misi pemerintah Indonesia untuk mencapai net zero pada tahun 2060. Peningkatan efisiensi energi GRP juga akan memberikan harga yang lebih kompetitif para konsumen, sehingga dapat memperluas akses konsumen terhadap baja rendah karbon berkualitas serta mendekarbonisasi rantai nilai.

Kimin Tanoto, chairman executive committee GRP, menerangkan, industri baja saat ini mengalami perubahan besar dan pemain yang tidak mengadopsi transisi hijau tidak akan bertahan. Namun, transformasi besar-besaran tidak dapat terjadi dalam waktu singkat, itulah sebabnya GRP melakukan upaya-upaya yang dapat kami lakukan demi mencapai tujuan kami menjadi net zero pada tahun 2050. 

”Visi kami untuk masa depan GRP terletak pada baja rendah karbon, dan transformasi efisiensi energi kami adalah salah satu representasi dari komitmen kuat kami dalam menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” jelas dia dalam keterangan resmi, Rabu (8/1/2025). 

Sonja Hoos, manajer senior DEG Impulse, menyatakan, GRP berhasil menemukan peluang untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon. Ini tidak hanya membuat GRP lebih kompetitif, tetapi juga mendukung Indonesia mencapai target iklimnya. 

Kelvin Fu, chief transformation officer GRP,  menilai, memahami energi digunakan di operasi kami adalah langkah penting dalam perjalanan dekarbonisasi GRP. 

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 5 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 6 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia